MARKET DATA
Newsletter

Tegang! Dunia Menunggu The Fed, Dolar Kolaps ke Titik Terendah 4 Tahun

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
28 January 2026 06:25
New York Stock Exchange (NYSE)
Foto: Ketua Dewan Federal Reserve Jerome Powell berbicara saat konferensi pers di Federal Reserve di Washington, Rabu, 12 Juni 2024. (AP/Susan Walsh)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street mayoritas menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi intraday sepanjang masa didorong oleh penguatan saham-saham Big Tech, seiring para pelaku pasar menantikan laporan kinerja (earnings) perusahaan-perusahaan di sektor tersebut. Investor juga mencermati keputusan suku bunga pertama The Federal Reserve tahun ini.

Indeks S&P naik 0,41% dan ditutup pada rekor 6.978,60, sementara Nasdaq Composite melonjak 0,91% dan berakhir di 23.817,10.

Sebaliknya, indeks Dow Jones Industrial Average justru tertekan, turun 408,99 poin atau 0,83%, dan ditutup di 49.003,41. Penurunan hampir 20% saham UnitedHealth menjadi beban utama bagi indeks beranggotakan 30 saham tersebut.

Saham Apple naik lebih dari 1%, sementara Microsoft menguat lebih dari 2%. Hingga akhir pekan ini, lebih dari 90 perusahaan anggota S&P 500 akan melaporkan kinerja keuangan. Meta Platforms dan Microsoft, serta raksasa "Magnificent Seven" lainnya yaitu Tesla, dijadwalkan melaporkan kinerja pada hari ini. Apple akan merilis hasil keuangannya pada Kamis.

 

"Semua orang memperhatikan apa pun yang bisa memberi gambaran tentang narasi [kecerdasan buatan/AI]," ujar Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments, kepada CNBC,

Dia menambahkan bahwa investor akan fokus pada tingkat belanja modal perusahaan serta segala hal yang terkait dengan monetisasi AI. "Intinya akan berkisar pada komentar mengenai hal itu, selain besarnya dana yang mereka keluarkan, baik pada sisi belanja modal (capex) maupun biaya operasional (opex)." Imbuhnya.

Kekhawatiran terhadap valuasi yang sudah terlalu mahal sempat membayangi saham-saham utama dalam tema AI pada akhir tahun lalu.

Kondisi ini turut menekan pasar secara keseluruhan seiring meningkatnya kekhawatiran akan terbentuknya gelembung teknologi.

Martin menilai bahwa meskipun masih ada pertanyaan seputar teknologi ini, termasuk tingkat pengembalian investasinya, minat investor akan tetap bertahan, setidaknya dalam beberapa tahun ke depan.

"AI tidak akan pergi ke mana-mana. Pembangunan pusat data tidak akan berhenti. Penggunaannya, penggunaan model-model AI, kemunculan agen AI, robotika, dan sebagainya, semua itu akan terus melanjutkan lintasan perkembangannya." Ujarnya.

 

Saham sejumlah perusahaan asuransi kesehatan besar termasuk yang berkinerja terburuk pada Selasa, anjlok setelah Centers for Medicare & Medicaid Services (CMS) mengusulkan kenaikan pembayaran kepada perusahaan asuransi Medicare Advantage dengan rata-rata bersih hanya 0,09% pada 2027. Saham Humana merosot 21%, sementara CVS Health turun 14%.

Minggu ini juga menjadi sorotan karena keputusan kebijakan pertama The Fed tahun ini. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%-3,75%, namun pelaku pasar akan mencari petunjuk mengenai kapan pemangkasan suku bunga selanjutnya bisa dilakukan. Perdagangan kontrak berjangka suku bunga The Fed (Fed funds futures) masih mengindikasikan kemungkinan dua kali pemangkasan masing-masing 25 basis poin hingga akhir 2026.

(evw/evw)


Most Popular
Features