MARKET DATA
Newsletter

Tegang! Dunia Menunggu The Fed, Dolar Kolaps ke Titik Terendah 4 Tahun

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
28 January 2026 06:25
Ketua Dewan Federal Reserve Jerome Powell berbicara saat konferensi pers di Federal Reserve di Washington, Rabu, 12 Juni 2024.
Foto: Pembukaan bursa saham di Bursa Efek Indonesia, Jumat (2/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
  • Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam. IHSG hingga rupiah menguat, namun obligasi justru mengalami aksi jual
  • Wall Street mayoritas menguat, S&P rekor
  • Keputusan Suku Bunga The Fed hingga arah kebijakan stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar akan menggerakan pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam pada perdagangan kemarin, Selasa (27/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat, seiring penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), namun pasar obligasi justru mengalami aksi jual.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan kemarin, Selasa (27/1/2026), IHSG kembali berhasil menguat namun cukup tipis 0,05% ke level 8.980,23 atau naik 4,89 poin. IHSG berhasil balik arah setelah seharian bergerak di zona koreksi. Setelah sempat turun 1,13% pada sepuluh menit pertama perdagangan.

Sebanyak 441 saham turun, 232 naik, dan 130 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 15,11 triliun, melibatkan 33,24 miliar saham dalam 2,08 juta kali transaksi.

Adapun, investor asing tercatat melakukan aksi jual (net outflow) hingga Rp1,61 triliun.


Melansir data refinitiv, mayoritas sektor perdagangan hijau dengan kenaikan paling tinggi dicatatkan oleh energi dan teknologi, sedangkan yang mengalami depresiasi terparah adalah konsumer primer dan finansial

Dari sisi emiten, DSSA berhasil menjadi penggerak utama IHSG kemarin. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terapresiasi 4,88% dengan kontribusi hingga 19,11 indeks poin.

Diikuti oleh PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) yang tampil lebih impresif dengan kenaikan 8,33% dan menyumbang 9,87 indeks poin serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang masing-masing naik 2,34% dan 14,60%, menyumbang 9,47 dan 8,82 indeks poin bagi penguatan IHSG.

Di sisi lain, emiten blue chip justru mencatatkan aksi jual besar di perdagangan kemarin. Saham Astra International (ASII) turun 8,36% ke Rp 6.300 per saham dengan kontribusi pelemahan23,55 indeks poin.

Kemudian disusul oleh Bank Central Asia (BBCA) yang juga ramai dilego investor jelang pengumuman kinerja keuangan tahunan. Saham BBCA turun 1,96% ke Rp 7.500 per saham dan berkontribusi atas penurunan 14,21 poin.

Nyaris seluruh saham pertambangan dan perdagangan emas kemarin kompak terkoreksi setelah ramai-ramai menguat pada perdagangan sesi sebelumnya.

Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali melanjutkan tren penguatannya terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (27/1/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup menguat 0,06% ke level Rp16.760/US$. Capaian ini sekaligus memperpanjang tren penguatan rupiah menjadi lima hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat bergerak melemah hingga menyentuh level Rp16.180/US$ sebelum akhirnya kembali berbalik menguat hingga penutupan perdagangan.

Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin, terjadi di tengah pelaku pasar yang tengah mencermati penetapan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) pengganti Juda Agung.

Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai, terpilihnya Thomas dapat memberi sinyal penguatan positif.

"Komisi XI DPR menetapkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI pengganti Juda Agung. Latar belakang Thomas di Kemenkeu dan kedekatannya dengan Presiden memberi sinyal penguatan koordinasi fiskal-moneter,"ujar Rully.

Rully pun menambahkan, tetap penting bagi pemerintah dan BI untuk terus menegaskan komitmen menjaga independensi kebijakan moneter demi mempertahankan kepercayaan investor asing.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat lebih jauh dari level saat ini.

Menurutnya, salah satu faktor penopang datang dari tren pelemahan dolar AS di pasar global yang turut memengaruhi pergerakan mata uang lainnya.

"Kalau saya lihat sih dolar akan cenderung dilemahkan di pasar global, yen dikuatkan, itu biasanya berpengaruh. Kalau act concervative effort itu berpengaruh ke nilai tukar dolar, ke mata uang lain dalam jangka waktu cukup panjang, jadi kalau kita pintar-pintar dikit harusnya rupiah menguat lebih jauh dari level sekarang," tegasnya di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,49% ke level 6,364% pada perdagangan kemarin, dari 6,333% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang naik menandai harga SBN sedang turun karena dijual investor.



Dari pasar saham AS, bursa Wall Street mayoritas menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi intraday sepanjang masa didorong oleh penguatan saham-saham Big Tech, seiring para pelaku pasar menantikan laporan kinerja (earnings) perusahaan-perusahaan di sektor tersebut. Investor juga mencermati keputusan suku bunga pertama The Federal Reserve tahun ini.

Indeks S&P naik 0,41% dan ditutup pada rekor 6.978,60, sementara Nasdaq Composite melonjak 0,91% dan berakhir di 23.817,10.

Sebaliknya, indeks Dow Jones Industrial Average justru tertekan, turun 408,99 poin atau 0,83%, dan ditutup di 49.003,41. Penurunan hampir 20% saham UnitedHealth menjadi beban utama bagi indeks beranggotakan 30 saham tersebut.

Saham Apple naik lebih dari 1%, sementara Microsoft menguat lebih dari 2%. Hingga akhir pekan ini, lebih dari 90 perusahaan anggota S&P 500 akan melaporkan kinerja keuangan. Meta Platforms dan Microsoft, serta raksasa "Magnificent Seven" lainnya yaitu Tesla, dijadwalkan melaporkan kinerja pada hari ini. Apple akan merilis hasil keuangannya pada Kamis.

 

"Semua orang memperhatikan apa pun yang bisa memberi gambaran tentang narasi [kecerdasan buatan/AI]," ujar Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments, kepada CNBC,

Dia menambahkan bahwa investor akan fokus pada tingkat belanja modal perusahaan serta segala hal yang terkait dengan monetisasi AI. "Intinya akan berkisar pada komentar mengenai hal itu, selain besarnya dana yang mereka keluarkan, baik pada sisi belanja modal (capex) maupun biaya operasional (opex)." Imbuhnya.

Kekhawatiran terhadap valuasi yang sudah terlalu mahal sempat membayangi saham-saham utama dalam tema AI pada akhir tahun lalu.

Kondisi ini turut menekan pasar secara keseluruhan seiring meningkatnya kekhawatiran akan terbentuknya gelembung teknologi.

Martin menilai bahwa meskipun masih ada pertanyaan seputar teknologi ini, termasuk tingkat pengembalian investasinya, minat investor akan tetap bertahan, setidaknya dalam beberapa tahun ke depan.

"AI tidak akan pergi ke mana-mana. Pembangunan pusat data tidak akan berhenti. Penggunaannya, penggunaan model-model AI, kemunculan agen AI, robotika, dan sebagainya, semua itu akan terus melanjutkan lintasan perkembangannya." Ujarnya.

 

Saham sejumlah perusahaan asuransi kesehatan besar termasuk yang berkinerja terburuk pada Selasa, anjlok setelah Centers for Medicare & Medicaid Services (CMS) mengusulkan kenaikan pembayaran kepada perusahaan asuransi Medicare Advantage dengan rata-rata bersih hanya 0,09% pada 2027. Saham Humana merosot 21%, sementara CVS Health turun 14%.

Minggu ini juga menjadi sorotan karena keputusan kebijakan pertama The Fed tahun ini. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%-3,75%, namun pelaku pasar akan mencari petunjuk mengenai kapan pemangkasan suku bunga selanjutnya bisa dilakukan. Perdagangan kontrak berjangka suku bunga The Fed (Fed funds futures) masih mengindikasikan kemungkinan dua kali pemangkasan masing-masing 25 basis poin hingga akhir 2026.

Pergerakan pasar hari ini akan dibayangi beragam sentimen penting dari dalam dan luar negeri. Pelaku pasar mencermati hasil pertemuan KSSK yang memberikan arah kebijakan terkait stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar.

Selain itu, pelaku pasar juga tengah menanti sinyal kebijakan moneter AS yang berpotensi memengaruhi arus modal dan sentimen risiko. Hingga adanya penyesuaian komposisi indeks acuan di IHSG yang turut menjadi perhatian seiring upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menjaga relevansi kinerja indeks terhadap dinamika pasar terkini.

Berikut rangkuman sejumlah sentimen utama yang perlu dipantau pelaku pasar pada perdagangan hari ini.

Hasil Rapat KSSK

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa selaku Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan bahwa kondisi fiskal dan moneter sepanjang 2025 tetap berada dalam kondisi terjaga, seiring kuatnya sinergi antarotoritas.

Namun, KSSK menilai ke depan perekonomian dan sektor keuangan masih akan dihadapkan pada ketidakpastian global yang meningkat, terutama akibat ketegangan perdagangan dan geopolitik.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya usai rapat berkala KSSK pertama yang digelar pada Jumat, 23 Januari 2026, dan dipaparkan dalam konferensi pers pada Selasa (27/1/2026).

Ia menyoroti dinamika global yang masih dipengaruhi perang dagang AS-Tiongkok, perlambatan aktivitas ekonomi AS, serta arah kebijakan suku bunga The Fed yang kembali menjadi perhatian pelaku pasar.

"Berdasarkan rapat berkala KSSK pertama yang telah dilaksanakan Jumat 23 Januari 2026, perekonomian dunia masih tantangan dengan ketidakpastian meningkat...," kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK, Selasa (27/1/2026).

Purbaya juga menilai pemangkasan suku bunga acuan di AS pada triwulan IV-2025 turut menopang aliran dana ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, pada saat yang sama, ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi karena kebijakan impor AS dan gangguan rantai pasok global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar uang.

Dari sisi kawasan, Purbaya menyebut ekonomi Jepang, China, dan India diperkirakan melambat seiring tekanan pada permintaan domestik dan ekspor.

Di sisi lain, ia menyinggung proyeksi IMF yang merevisi pertumbuhan ekonomi global dalam laporan terbaru, meski tetap dibayangi meningkatnya proteksionisme dan eskalasi geopolitik.

Sementara itu, untuk domestik, KSSK menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat, didukung oleh permintaan domestik, perbaikan keyakinan konsumen, serta kombinasi stimulus fiskal dan moneter. Otoritas memastikan koordinasi kebijakan akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus menopang momentum pertumbuhan di 2026.

BI Perkirakan Rupiah Akan Terus Menguat

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan terus menguat ke depan, tidak hanya bersifat sementara seperti penguatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir setelah sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati level Rp17.000/US$.

"Secara fundamental, nilai tukar rupiah itu akan terus menguat," ujar Perry dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (27/1/2026).

Perry menilai, posisi rupiah yang telah kembali ke kisaran Rp16.700/US$ sejatinya masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau dalam kondisi undervalue. Ia menegaskan terdapat sejumlah faktor kuat yang menopang prospek penguatan rupiah, mulai dari inflasi yang tetap rendah, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan membaik, hingga arus investasi asing yang masih masuk ke dalam negeri.

Selain dukungan fundamental, Perry juga menekankan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan rupiah ke level yang lebih kuat. BI akan terus meningkatkan intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) baik di dalam maupun luar negeri, transaksi spot, serta swap valuta asing.

Tak hanya itu, BI juga menggalakkan transaksi spot dan swap dalam mata uang yuan China dan yen Jepang guna memperkuat transaksi mata uang lokal (local currency transaction) sekaligus memperdalam pasar keuangan domestik. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan pasar dan mendukung penguatan rupiah secara lebih berkelanjutan ke depan.

BEI Rombak Indeks LQ45 & IDX30

Bursa Efek Indonesia resmi menyelesaikan evaluasi berkala indeks LQ45 dan IDX30 pada Selasa (26/1/2026). Hasil evaluasi ini akan berlaku efektif mulai 2 Februari hingga 30 April 2026, dan mencerminkan upaya bursa menyelaraskan komposisi indeks dengan dinamika minat pasar terkini.

Hasil evaluasi kali ini mengirimkan sinyal kuat bahwa otoritas bursa berupaya mendongkrak performa indeks dengan menyuntikkan emiten-emiten yang memiliki korelasi tinggi dengan minat pasar terkini.

Pada indeks LQ45, terdapat satu perubahan konstituen, yakni masuknya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang menggantikan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).

Berikut adalah daftar lengkap 45 konstituen indeks LQ45 :



Perombakan serupa turut terjadi pada indeks IDX30. BEI memutuskan untuk memasukkan kembali PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang menggantika dua emtien lain yakni PT Indo Tambangraya Megak Tbk (ITMG) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).

Secara keseluruhan, perubahan komposisi tersebut dipandang sebagai langkah untuk meningkatkan relevansi dan kinerja indeks, terutama di tengah kondisi IHSG yang sedang bullish. Dengan konstituen yang lebih selaras dengan preferensi investor saat ini, LQ45 dan IDX30 diharapkan kembali menjadi acuan investasi yang kompetitif bagi pelaku pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Berikut adalah daftar lengkap 30 konstituen indeksIDX30 :



Rapat FOMC The Fed

Beralih ke Amerika Serikat, rapat pertama bank sentral AS (The Federal Reserve /The Fed) tahun ini kembali menjadi perhatian pelaku pasar baik domestik hingga global.

The Fed telah memulai rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa (27/1/2026) dan dijadwalkan akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada Rabu (28/1/2026) pukul 14.00 waktu AS, atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan kembali menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas penahanan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% mencapai 97,2%, sementara peluang pemangkasan ke level 3,25%-3,50% hanya 2,8%.

Dengan probabilitas yang sangat condong ke skenario tahan, perhatian pasar diperkirakan akan beralih dari keputusan suku bunga ke bahasa pernyataan dan nada komunikasi Ketua The Fed Jerome Powell. Investor akan mencermati pandangan The Fed terkait risiko inflasi, ketahanan ekonomi AS, serta sinyal arah kebijakan moneter pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

ProbabilitasFoto: CME FedWatch Tool
Probabilitas

Sejumlah pejabat The Fed belakangan menunjukkan pandangan yang terbelah, antara perlunya menurunkan suku bunga untuk menopang pasar tenaga kerja atau mempertahankan suku bunga tinggi guna menekan inflasi.

Kondisi ini mencerminkan dilema mandat ganda The Fed, yakni menjaga inflasi tetap rendah sekaligus mempertahankan tingkat ketenagakerjaan yang kuat, di tengah data ekonomi yang bergerak tidak searah dalam beberapa bulan terakhir.

Setelah tiga kali pemangkasan suku bunga secara beruntun sebelumnya, pasar kini menilai penahanan suku bunga menjadi waktu jeda bagi pembuat kebijakan untuk menilai arah ekonomi selanjutnya, serta menentukan risiko mana yang lebih dominan antara perlambatan ekonomi atau tekanan inflasi ke depan.

Dolar Kolaps

Indeks dolar AS melemah untuk empat sesi berturut-turut pada Selasa, turun ke level 95,7,2, yang merupakan posisi terendah sejak 16 Februari 2022 atau hampir empat tahun. Kejatuhan dolar ini seharusnya menjadi kabar baik bagi Indonesia. Indeks yang jatuh menandai adanya aksi jual instrumen berdenominasi dolar dan investor diharapkan menaruh modalnya ke Emerging Market, seperti Indonesia.

Kondisi ini bisa membuat rupiah menguat.

Dolar jatuh, seiring investor bersiap menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan pada Rabu. Bank sentral AS tersebut secara luas diperkirakan akan menahan suku bunga, meskipun kekhawatiran terhadap independensinya dari tekanan politik tetap menjadi sorotan.

Spekulasi juga semakin menguat bahwa ketua The Fed yang baru bisa diumumkan secepat minggu ini, dengan Presiden Donald Trump diperkirakan akan mencalonkan kandidat yang lebih dovish (cenderung longgar).

Tekanan terhadap dolar turut bertambah akibat kekhawatiran baru soal potensi penutupan pemerintahan (government shutdown), setelah para pemimpin Partai Demokrat mengancam akan memblokir paket pendanaan senilai US$1,2 triliun jika mencakup tambahan anggaran untuk Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security).

Menambah sentimen negatif, dolar AS juga terseret dalam tren "sell America" yang lebih luas. Hal ini diperkuat oleh spekulasi mengenai kemungkinan intervensi mata uang bersama AS-Jepang, yang bertujuan menahan pelemahan lebih lanjut di pasar obligasi Jepang serta mendukung penguatan yen.

Indeks Perumahan AS

Data perumahan Amerika Serikat yang ditunggu pasar akhirnya keluar. Indeks harga rumah versi FHFA untuk November 2025 naik ke 439,30, dari 436,80 pada Oktober 2025. Artinya, harga rumah di AS masih cenderung menguat.

Angka ini penting karena pergerakan harga rumah sering dipakai pasar untuk membaca arah ekonomi dan inflasi. Jika harga rumah masih naik cukup kuat, pasar bisa menilai tekanan inflasi belum benar-benar reda. Dampaknya, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed bisa jadi lebih tertahan.

Rilis data ini juga datang berdekatan dengan rapat FOMC, sehingga respons pasar berpotensi lebih cepat terasa di dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Jika dolar dan yield AS menguat, selera risiko global bisa ikut berubah dan pada akhirnya merembet ke emerging markets, termasuk arus dana asing, rupiah, dan pasar keuangan Indonesia.

Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan mengadakan media briefing capaian kinerja tahun 2025 bertempat di Ruang Aula Kantor KNKT, Jakarta Pusat
  • Peresmian Indonesia Aviation Association (IAA) yang akan diselenggarakan Gerberia Room, Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat
  • Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Kepala BMKG dan Kepala Basarnas di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Jakarta Pusat
  • Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025 dengan tema Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan via YouTube Bank Indonesia
  • Obrolan Investasi untuk Negeri (ORASI) dalam rangka penawaran ORI029T3 & ORI029T6 bertempat di Aroem Resto & Cafe, Gambir, Jakarta Pusat
  • Grand Opening BTN Expo 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat
  • Konferensi Pers & Pemutaran Film Surat Untuk Masa Mudaku karya sutradara Sim F. di Senayan City XXI, Jakarta Pusat
  • Uang Beredar AS periode Desember 2025
  • Inflasi Australia Desember 2025
  • Suku Bunga The Fed

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

- Rencana RUPS : BBKP, SOTS, & CLAY

- Pembayaran Dividen Interim :RAJA

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features