MARKET DATA

Terungkap! Ini 20 Negara Pemegang Terbesar Surat Utang AS, Ada Israel

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 January 2026 19:30
Infografis: Drama baru perang dagang trump, 
7,5 m barang Eropa akan dikenakan tarif
Foto: Infografis/ Drama baru perang dagang trump, 7,5 m barang Eropa akan dikenakan tarif/Aristya Rahadian Krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam beberapa waktu terakhir, pasar keuangan global tengah panas setelah munculnya istilah "Sell America", ketika pelaku pasar khususnya Eropa mulai menjauh dari instrumen keuangan Amerika Serikat (AS) seperti surat utang pemerintah.

Situasi ini bahkan sempat di soroti langsung oleh Presiden AS Donald Trump, yang melontarkan ancaman akan melakukan tindakan balasan terhadap negara-negara yang melakukan penjualan kepemilikan surat utang mereka.

Namun kenyataannya, jika dilihat langsung dari pergerakan pasar surat utang atau obligasi dalam setahun terakhir, gambaran bagi pemegang surat utang AS masih cukup positif.

Berdasarkan data Refinitiv, dalam 12 bulan terakhir surat utang AS telah melampau obligasi pemerintah yang diterbitkan oleh negara-negara G-7, yakni negara dengan kekuatan ekonomi paling besar di dunia.

Hal ini tercerminkan dari kenaikan harga obligasi yang pada akhirnya menekan yield atau imbal hasil obligasi. Sebagai catatan, harga dan imbal hasil bergerak berlawanan, artinya ketika yield mengalami penurunan artinya pelaku pasar sedang memborong surat berharga tersebut sehingga harga nya naik.

Performa yield obligasi tenor 10 tahun pemerintah AS turun sebesar 0,366% menjadi 4,211% pada penutupan Selasa (26/1/2026).

Berbanding terbalik dengan pergerakan imbal hasil tenor 10 Tahun Jepang yang justru mencatatkan lonjakan sebesar 1,131% menjadi 2,242% dalam periode yang sama.

Begitu pula dengan Jerman, Prancis dan Kanada yang turut mengalami kenaikan yang artinya, pelaku pasar tengah melakukan aksi jual dalam kurun waktu setahun terakhir sehingga imbal hasilnya naik.

Penyebab Munculnya Narasi "Sell America"

Kekhawatiran pasar kembali naik setelah Gedung Putih mendorong kesepakatan yang membuka akses AS lebih luas ke Greenland.

Langkah itu memicu ketegangan baru antara AS dan sekutu-sekutu NATO, sehingga muncul spekulasi bahwa sebagian negara mitra AS bisa mulai mengurangi eksposur di pasar surat utang AS yang nilainya sekitar US$30 triliun.

Salah satu contoh yang mencuat adalah rencana dana pensiun Denmark, AkademikerPension, yang dilaporkan berencana melepas kepemilikannya pada akhir Januari.

Tekanan terhadap narasi ini juga datang dari sisi fundamental fiskal AS. Pada Mei, AS kehilangan sisa peringkat kredit tertinggi terakhirnya, karena kini ketiga lembaga pemeringkat kredit utama menempatkan AS di bawah level AAA. Kekhawatiran soal defisit yang besar terus membayangi.

Meski demikian, pasar belum melihat indikasi bahwa investor internasional akan melakukan pergeseran besar-besaran untuk mendiversifikasi keluar dari utang AS, meskipun ada kemungkinan pembelian mereka menjadi lebih selektif atau akan melambat.

Gennadiy Goldberg, kepala strategi suku bunga AS di TD Securities, menilai kapasitas alternatif juga terbatas.

"Eropa dan Jepang tidak cukup besar untuk menampung perpindahan dana secara besar-besaran jika terjadi arus keluar dari Amerika Serikat," ujarnya dikutip dari marketwatch.

Ia pun menambahkan bahwa Eropa dan Jepang tidak cukup besar untuk menampung perpindahan dana dalam skala besar.

Dari sisi ukuran, utang pemerintah AS tercatat mencapai US$38,5 triliun. Dari jumlah itu, sekitar US$27,4 triliun berbentuk sekuritas yang diperdagangkan publik seperti T-bills, T-notes, dan T-bonds.

Dalam sepekan terakhir, yield Treasury sempat melonjak tajam ketika aksi jual obligasi Jepang merembet ke pasar global sebelum akhirnya mereda.

Isu Greenland kembali memantik ketakutan akan skenario "Sell America". Hingga Indeks S&P 500 dan indeks dolar AS pun sempat mencatat pelemahan sepanjang pekan lalu, meski di pasar saham dan obligasi AS berhasil memangkas sebagian kerugiannya.

Lalu seberapa besar porsi Eropa di Surat Utang AS?

Melansir data U.S. Departement of the Treasury, menunjukkan negara-negara Uni Eropa memegang sekitar US$2 triliun utang AS, di luar Inggris dan Swiss.

Inggris sendiri tercatat memiliki hampir US$1 triliun, namun negara tersebut juga dikenal sebagai pusat kustodian obligasi global, sehingga sebagian kepemilikan yang tercatat atas nama Inggris pada kenyataannya bisa milik investor dari negara lain.

Pola serupa juga berlaku untuk Luxemburg dan Kepulauan Cayman, yang juga masuk daftar pemegang dengan nominal yang besar.

Jika digabung, Uni Eropa menjadi investor terbesar utang AS. Meski demikian, Jepang dan China juga masih memegang porsi yang signifikan.

Dalam kasus China, muncul catatan bahwa peralihan sebagian cadangan resmi bank sentralnya ke emas belakangan ini bisa membuat data resmi tidak sepenuhnya menggambarkan ukuran kepemilikan surat utang AS yang sesungguhnya.

Di sisi permintaan, banyak yang menilai bahwa selera investor terhadap utang AS belum menunjukkan tanda-tanda melemah, meski kondisi fiskal AS terlihat memburuk.

Lelang obligasi berjangka panjang masih mencatat permintaan kuat, termasuk lelang senilai US$13 miliar untuk obligasi tenor 20 tahun pada Rabu (21/1/2026), yang ikut mendorong yield turun.

Ke depan, tantangan ada pada pasokan atau supply. Komite yang bertanggung jawab untuk anggaran federal AS memperkirakan total utang AS berpotensi menembus US$50 triliun dalam satu dekade mendatang. Dengan tambahan supply yang besar, investor asing kemungkinan tetap dibutuhkan untuk terus menyerap penerbitan, meskipun permintaan dari sumber lain juga meningkat.

Siapa Pemilik Surat Utang AS?

Berdasarkan data SIFMA, komposisi pemegang utang AS pada periode 3Q25 menunjukkan perubahan. Dari total sekitar US$28,03 triliun, asing memegang porsi terbesar yakni 33,5%. Di bawahnya, kelompok lainnya menyusul dengan 32,4%, sementara Mutual Funds mengambil 19,6%. Adapun ritel tercatat memegang 10,6% dan dana pensiun 4,0%.

Jika dibandingkan dengan 2019, pergeserannya makin terlihat. Pada 2019, porsi kepemilikan investor asing masih mencapai 41,6%. Artinya, hingga 3Q25 porsi asing turun sekitar 8,1 poin persentase.

Sebaliknya, peran investor domestik menguat, tercermin dari kenaikan porsi Mutual Funds sekitar 4,0 poin persentase dan kelompok lainnya sekitar 3,1 poin persentase. Ini menandai bahwa meski kepemilikan asing tetap besar, pertumbuhan penyerapan utang AS dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak ditopang kelompok domestik.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(evw/evw)



Most Popular