MARKET DATA
Newsletter

Purbaya, OJK & BI Beri Pengumuman Penting Jelang Rapat The Fed

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 January 2026 06:32
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2025 di Jakarta, Senin (3/11/2025). (CNBC Indonesia/Zahwa Madjid)
Foto: Masih Dihantui Virus Corona, IHSG Merah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
  • Pasar keuangan Tanah Air kompak ditutup menguat. IHSG hingga rupiah menguat serta obligasi yang kembali diburu investor.
  • Wall Street berakhir di zona hijau jelang rapat The Fed
  • Rapat FOMC The Fed akan dimulai, Eropa resmi larang impor LNG Rusia hingga terpilhnya deputi gubernur BI baru diperkirakan akan menjadi penggerak pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air kompak menguat pada perdagangan kemarin, Senin (26/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat, seiring penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu mempertahankan momentum penguatan pada perdagangan hari ini, Selasa (27/1/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan kemarin, IHSG berhasil ditutup menguat 0,27% atau naik 24,32 poin ke level 8.975,33. Indeks bahkan sempat tercatat menguat lebih dari 1% pada perdagangan intraday sesi pertama yang ditopang oleh kinerja saham-saham sektor pertambangan dan perdagangan emas. Namun, penguatan tersebut terpangkas signifikan dan bahkan IHSG sempat berbalik bergerak di zona merah sebelum akhirnya kembali ditutup menguat

Sebanyak 267 saham naik,428 turun, dan110 belum bergerak. Nilai transaksi kemarin tergolong ramai atau mencapai Rp36,89 triliun, melibatkan 57,12 miliar saham dalam3,83 juta kali transaksi.

Adapun investor asing tercatat melakukan net buy tipis Rp24,25 miliar.


Melansir data Refinitiv,mayoritas sektor justru terkoreksi, dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor barang baku yang melesat 3,37% dan sektor energi yang naik 0,90%. Adapun sektor properti tercatat turun dalam hingga 3,36%, diikuti oleh industri dan konsumer non primer.

Saham emiten tambang emas tercatat menjadi penggerak utama kinerja IHSG, dengan tiga dari empat saham yang menopang kinerja indeks bergerak di sektor ini. Saham AMMN, EMAS dan ANTM secara kolektif menyumbang40,76 indeks poin.

Adapun berdasarkan pergerakan per emiten, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tercatat naik 9,03%. Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak agresif dengan penguatan 10,96%.

Saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga menguat 4,91% yang diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang naik 2,40%. Adapun saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat lonjakan paling tajam sebesar 18,22%.

Di sisi lain, saham-saham emiten konglomerat justru kompak membebani kinerja IHSG di perdagangan kemarin.

Saham Bumi Resources (BUMI), Bayan Resources (BYAN),Petrosea (PTRO), Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Darma Henwa(DEWS) dan Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) tercatat terkoreksi tajam dan membebani kinerja IHSG.

Secara spesifik saham BUMI yang masih menjadi efek paling ramai ditransaksikan di bursa harus terkoreksi hingga 7,78% dan menjadi beban terbesar IHSG dengan sumbangsih koreksi 7,27 indeks poin.

Beralih ke pasar valuta asing, Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (26/1/2026), seiring melemahnya dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv,mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp16.770/US$ atau menguat 0,24%. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah yang telah menguat dalam empat hari perdagangan beruntun.

Adapun, di sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak di rentang Rp16.750-Rp16.785/US$. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per kemarin sore, terpantau melemah 0,42% ke level 97,194.

Penguatan rupiah kemarin turut ditopang faktor eksternal, terutama pelemahan dolar AS di pasar global. Koreksi DXY mencerminkan tekanan jual pada aset berdenominasi dolar, sehingga sebagian arus dana berpotensi bergeser ke aset berisiko dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dolar AS juga berada di jalur penurunan mingguan paling tajam sejak Juni 2025, di tengah ketegangan geopolitik yang membuat investor lebih waspada. Kondisi ini kembali memunculkan narasi "Sell America", yang sempat mencuat usai gelombang tarif "Liberation Day" tahun lalu.

Sentimen global masih dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Pada pekan lalu, Trump sempat mengangkat ancaman tarif terhadap Eropa terkait isu Greenland, namun kemudian menarik ancaman tersebut setelah menyebut ada kerangka kesepakatan dengan NATO dan menegaskan tidak akan mengambil wilayah otonom Denmark itu dengan kekuatan.

Pergeseran sikap yang cepat ini membuat pasar menilai risiko kebijakan AS masih tinggi, sehingga tekanan terhadap dolar berlanjut.

Menariknya, dolar tetap melemah meski imbal hasil obligasi pemerintah AS cenderung stabil. Ini memberi sinyal bahwa tekanan terhadap greenback saat ini lebih banyak datang dari faktor politik dan ketidakpastian kebijakan, bukan semata arah suku bunga.

Ke depan, fokus pasar akan beralih ke rapat kebijakan The Federal Reserve (The Fed)  pekan ini. Pelaku pasar masih memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin berpotensi terjadi pada pertengahan tahun, dengan kemungkinan tambahan satu kali pemangkasan lagi pada paruh kedua 2026.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat turun tajam hingga 1,31% ke level 6,333%. Sebagai catatan, penurunan imbal hasil mengindikasikan meningkatnya minat investor untuk kembali membeli SBN.



Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Pelaku pasar memantau perkembangan politik dan bersiap menghadapi pekan yang padat dengan rilis laporan keuangan emiten besar serta keputusan suku bunga terbaru dari The Fed.

Indeks S&P naik 0,50% dan ditutup di level 6.950,23. Dow Jones Industrial Average menguat 313,69 poin atau 0,64% ke 49.412,40. Sementara itu, Nasdaq Composite menanjak 0,43% dan berakhir di 23.601,36. Indeks berbasis teknologi ini ditopang oleh kenaikan saham Apple, Meta Platforms, dan Microsoft masing-masing sekitar 3%, 2%, dan 1%, menjelang rilis laporan keuangan mereka pada akhir pekan ini.

Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu mengancam akan mengenakan tarif 100% terhadap barang-barang asal Kanada yang masuk ke Amerika Serikat jika negara tersebut menjalin kesepakatan dagang dengan China.

Menanggapi hal itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan bahwa Ottawa "tidak memiliki niat" untuk mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan Beijing.

Adam Crisafulli dari Vital Knowledge menjelaskan situasi saat ini masih sangat dinamis. Tidak banyak pihak yang benar-benar khawatir ancaman tarif 100% Trump terhadap Kanada akan benar-benar terwujud "Namun, penggunaan pajak impor secara terus-menerus sebagai alat tekanan terhadap sekutu tetap secara perlahan menggerus sentimen," ujar Adam dikutip dari CNBC International.

 

Investor juga mencermati dinamika politik di Washington, menyusul meningkatnya kemarahan publik atas insiden aparat imigrasi federal yang menembak mati seorang warga negara AS di Minnesota. Ini adalah insiden untuk kedua kalinya dalam bulan ini yang memicu kekhawatiran akan potensi penutupan pemerintahan (government shutdown).

Sejumlah senator Demokrat menyatakan tidak akan menyetujui paket pendanaan senilai US$1,2 triliun jika di dalamnya terdapat alokasi dana untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Namun, seorang sumber yang memahami kepemimpinan Partai Republik di Senat menyebutkan bahwa pendanaan untuk DHS tidak akan dihapus.

"Terlepas dari berbagai ketidakpastian geopolitik dan kebijakan, konsumen masih terlihat berada dalam kondisi yang cukup baik dan terus membelanjakan uangnya. Di sisi lain, dunia usaha juga terlihat solid dari sisi profitabilitas dan masih menginvestasikan laba mereka ke AI serta alat-alat produktivitas lainnya," ujar Tom Hainlin, ahli strategi investasi nasional di U.S. Bank Asset Management Group.

Lebih dari 90 perusahaan anggota S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan minggu ini. Beberapa nama dari kelompok 'Magnificent Seven' juga masuk agenda, dengan Meta, Tesla, dan Microsoft dijadwalkan melaporkan kinerja pada Rabu, sementara Apple pada Kamis. Sejauh ini, musim laporan keuangan tergolong kuat, dengan 76% perusahaan yang telah melaporkan kinerja berhasil melampaui ekspektasi, menurut data FactSet.

Meski demikian, sejumlah saham tetap mencatatkan penurunan meskipun perusahaannya melampaui ekspektasi, seperti Intel dan Netflix.

 

"Kita akan mulai melihat penyebaran informasi yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada sektor keuangan atau maskapai penerbangan, sehingga memberikan gambaran ekonomi yang lebih menyeluruh. Ekspektasi kami, musim laporan keuangan ini masih akan berjalan cukup solid," tambah Hainlin.

Dari sisi ekonomi makro, The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter pertama tahun ini pada Rabu. Meski bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan tetap, pasar akan mencermati sinyal terkait waktu penurunan suku bunga. Para pelaku pasar saat ini memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin hingga akhir 2026.

Memasuki perdagangan perdagangan kedua pekan ini, Selasa (27/1/2026), pasar keuangan dalam negeri berada di fase yang sangat sensitif.

Investor dihadapkan pada kombinasi katalis dari dalam negeri terutama arah kebijakan moneter dan independensi BI ke depan setelah penetapan Deputi Gubernur BI baru. Serta sentimen eksternal yang beragam, mulai dari dimulainya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed hingga dinamika kebijakan energi Uni Eropa dan rilis data perumahan AS yang berpotensi menjadi penggerak pasar hari ini.

Berikut rangkuman sejumlah sentimen utama yang perlu dipantau pelaku pasar pada perdagangan hari ini.

Rapat KSSK
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar konferensi pers hari ini. Hadir dalam konferensi eprs Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.


Di tengah meningkatnya ketidakpastian, konferensi pers ini sangat ditunggu terutama dalam memberikan petunjuk kepada investor mengenai arah kebijakan moneter dan fiscal ke depan.
Menarik ditunggu apakah ada kebijakan baru dari pemangku kepentingan untuk lebih membuat pasar keuangan bergerak positif.

Konferensi pers ini juga berlangsung hanya beberapa jam sebelum rapat FOMC digelar di AS pada Selasa dan Rabu.

Thomas Djiwandono Resmi Terpilih Sebagai Deputi Gubernur BI

DPR RI secara resmi telah mengumumkan hasil fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun

Komisi XI DPR memilih Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai kandidat terpilih untuk mengisi posisi Deputi Gubernur BI pengganti Juda Agung.

Keputusan itu diambil setelah Komisi XI DPR menggelar rapat internal usai rangkaian uji kelayakan yang berlangsung sejak Jumat (23/1/2026) dan berlanjut pada Senin (26/1/2026). Dalam proses tersebut, Thomas bersaing dengan dua kandidat lain, yakni Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono serta Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro.

"Komisi XI DPR adakan rapat internal diawali rapat pimpinan Komisi XI bersama delapan poksi yang hadir. Telah melakukan kesepakatan dalam rapat internal yang menjadi Deputi Gubernur BI pengganti Juda Agung, bapak Thomas Djiwandono," tegas Misbakhun.

Misbakhun mengatakan keputusan Komisi XI DPR RI ditetapkan dalam waktu sekitar setengah jam. Menurutnya, nama Thomas dapat diterima oleh seluruh fraksi di Komisi XI.

"Lebih dari setengah jam pengambilan keputusan, pertimbangan Thomas bisa diterima semua partai. Juga dia menjelaskan bagaimana membangun sinergi moneter dan fiskal sehingga beri penguatan pertumbuhan ekonomi serta membangun agility dalam pengambilan keputusan," kata Misbakhun.

Ia menambahkan, isu sinergi moneter dan fiskal menjadi perhatian kuat saat ini. Menurutnya, BI sebagai otoritas moneter tidak bisa berdiri sendiri, sehingga koordinasi dengan kebijakan fiskal dinilai penting dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.

Misbakhun juga menyinggung soal fakta bahwa Thomas merupakan keponakan Presiden. Namun ia menilai hal tersebut dapat dijelaskan dengan baik oleh Thomas dalam proses uji kelayakan sehingga isu tersebut tidak menjadi penghambat keputusan.

"Fakta Thomas keponakan ya, tapi beliau bisa jelaskan dengan baik. Sehingga isu itu bisa kita kesampingkan. Bahkan saat closing beliau sampaikan profesionalisme Thomas," katanya.

The Fed Mulai FOMC, Pasar Tunggu Sinyal Suku Bunga

Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan memulai rapat FOMC selama dua hari pada hari ini Selasa (27/1/2026). Namun, keputusan suku bunga beserta pernyataan kebijakan baru akan rilis pada Rabu (28/1/2026) pukul 14.00 waktu AS, atau Kamis (29/1/2026) dini hari WIB.

Pasar menanti hasil rapat ini karena akan menjadi acuan arah aset global, mulai dari dolar AS, yield US Treasury, hingga selera risiko investor di emerging markets.

Sejalan dengan ekspektasi pasar, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas terbesar mengarah pada penahanan suku bunga. Untuk hasil pertemuan kali ini, FedWatch mencatat peluang ditahannya suku bunga AS pada level 3,50%-3,75% sebesar 97,2%, sementara peluang pemangkasan ke 3,25%-3,50% hanya sebesar 2,8%.

ProbabilitasFoto: CME FedWatch Tool
Probabilitas

Dengan probabilitas yang sangat condong ke skenario tahan, fokus pelaku pasar berpotensi bergeser dari sekadar putusan ke bahasa pernyataan dan nada komunikasi dari ketua The Fed Jerome Powell, terutama terkait penilaian risiko inflasi, ketahanan ekonomi, serta sinyal arah kebijakan untuk pertemuan-pertemuan berikutnya.

Uni Eropa Resmi Setujui Larangan Gas Rusia

Uni Eropa akhirnya mengunci langkah besar untuk memutus ketergantungan energi dari Rusia. Pada Senin (26/1/2026), negara negara Uni Eropa memberikan persetujuan final terhadap rencana pelarangan impor gas Rusia pada akhir 2027, sehingga kebijakan itu kini bisa resmi berlaku sebagai undang undang.

Aturan ini menjadi pengikat secara hukum atas komitmen Uni Eropa untuk memutus hubungan dengan pemasok gas utama mereka sebelumnya, hampir empat tahun setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022.

Persetujuan diambil dalam pertemuan para menteri negara Uni Eropa di Brussel. Namun tidak semua sepakat. Slovakia dan Hungaria memilih menolak. Hungaria bahkan menyatakan akan membawa kasus ini ke Mahkamah Eropa.

Meski begitu, larangan ini memang dirancang agar bisa lolos lewat mekanisme mayoritas yang diperkuat, sehingga tetap bisa jalan meski menghadapi penolakan dari negara negara yang masih bergantung pada energi Rusia dan ingin menjaga hubungan dekat dengan Moskow.

Dalam kesepakatannya, Uni Eropa akan menghentikan impor gas alam cair Rusia atau LNG paling lambat akhir 2026. Sementara impor gas Rusia lewat pipa ditargetkan berhenti pada 30 September 2027.

Regulasi ini juga memberi ruang penyesuaian jadwal. Jika ada negara yang kesulitan mengisi fasilitas penyimpanan gas dari pasokan non Rusia menjelang musim dingin, tenggat bisa mundur hingga 1 November 2027 sebagai batas paling akhir.

Sebelum perang Ukraina, Rusia memasok lebih dari 40% kebutuhan gas Uni Eropa. Namun porsi itu turun tajam dan kini diperkirakan tinggal sekitar 13% pada 2025, berdasarkan data terbaru Uni Eropa.

Indeks Perumahan AS

Pasar global akan menanti rilis data perumahan Amerika Serikat pada hari ini, Selasa (27/1/2026) malam waktu Indonesia. Data yang akan keluar adalah FHFA House Price Index untuk periode November 2025 dan dijadwalkan rilis pukul 09.00 waktu New York atau sekitar 21.00 WIB.

Rilis ini penting karena pergerakan harga rumah di AS sering dipakai sebagai petunjuk arah ekonomi dan inflasi. Jika harga rumah masih naik kuat pasar bisa menilai tekanan inflasi belum sepenuhnya reda. Sebaliknya jika mulai melandai itu bisa memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi ikut menurun.

Sebagai gambaran indeks FHFA sebelumnya menunjukkan harga rumah AS masih naik dengan level indeks 436,7 pada Oktober 2025 dari 435,2 pada September 2025.

Rilis data perumahan ini datang di momen yang sensitif karena rapat FOMC The Fed juga dimulai pada malam nanti. Akibatnya angka perumahan berpotensi lebih cepat mempengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Jika data lebih kuat dari perkiraan ekspektasi penurunan suku bunga bisa tertahan sehingga dolar berpotensi menguat dan aset safe haven seperti emas bisa bergejolak. Sebaliknya bila data melemah peluang pelonggaran moneter bisa terbaca lebih besar yang biasanya menekan dolar dan mendukung emas.

Bagi pelaku pasar keuangan Tanah Air arah dolar dan yield AS pada akhirnya ikut mempengaruhi selera risiko global yang bisa merembet ke arus dana asing dan pergerakan aset di emerging markets termasuk rupiah dan pasar keuangan domestik.

Indeks Dolar Jeblok

Indeks dolar melemah untuk sesi ketiga berturut-turut pada Senin, turun ke sekitar 97, level terendah lebih dari pertengahan September 2025 atau empat bulan, dan memperpanjang penurunan 1,9% pekan lalu - penurunan mingguan terbesar sejak April.

Perdagangan yang disebut sebagai "sell America" terus berlangsung, disertai spekulasi bahwa otoritas AS dan Jepang bisa berkoordinasi melakukan intervensi valuta asing untuk mendukung yen, yang menekan dolar AS.

Selain itu, kekhawatiran meningkat mengenai kemungkinan penutupan pemerintahan (government shutdown) setelah para pemimpin Demokrat mengancam akan memblokir persetujuan paket pendanaan senilai US$1,2 triliun jika di dalamnya termasuk alokasi tambahan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri, menyusul insiden penembakan fatal yang melibatkan seorang warga AS di Minnesota oleh agen imigrasi federal yang memicu protes publik dan ketegangan politik.

Investor kini juga menantikan keputusan kebijakan moneter pertama The Fed tahun ini pada hari Rabu. Meskipun secara luas diperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tak berubah, para trader diperkirakan akan sangat fokus pada outlook ekonomi Fed dan komentar terkait arah kebijakan suku bunga di masa depan.

Selain itu, ada spekulasi bahwa Ketua The Fed berikutnya bisa diumumkan secepat minggu ini - hal yang menjadi sorotan pasar karena akan berdampak pada ekspektasi arah kebijakan moneter selanjutnya.

Pelemahan dolar AS ini menjadi kabar baik bagi rupiah. Indeks yang melemah menandai adanya aksi jual besar-besaran dan investor tengah mengalihkan investasi ke nstrumen non-dolar. Harapannya banyak investor mengalihkan ke instrument berdenominasi rupiah.

Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini: 

  • Rapat dan konferensi pers KSSK
  • Rapat Kerja Komisi V DPR dengan seluruh mitra kerja antara lain Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR

  • Menteri Kelautan dan Perikanan menghadiri peluncuran program strategis pendanaan konservasi ekosistem terumbu karang pertama di dunia bertempat di Morrissey Hotel Ballroom, Kebon Sirih, Jakarta Pusat

  • Rapat paripurna DPR dengan agenda antara lain laporan Komisi XI DPR atas hasil fit and proper test terhadap calon deputi gubernur Bank Indonesia dilanjutkan dengan pengambilan keputusan di ruang rapat paripurna DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Media Briefing Zurich Topas Life di SEIA Restaurant, Menara Astra, Jakarta Pusat

  • Peluncuran Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital tentang Registrasi Biometrik : SEMANTIK (SEnyum, aMAN dengan BimoeTrik) yang akan dilaksanakan di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat. Narasumber: Menteri Komunikasi dan Digital

  • Rapat Kerja Komisi I DPR dengan Menteri Luar Negeri di ruang rapat Komisi I DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Indeks Harga Rumah AS
  • Rapat The Fed

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

-          Rencana RUPS : ADMF & PORT

-          Pembayaran Dividen Interim : PNGO

 

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features