MARKET DATA
Newsletter

Purbaya, OJK & BI Beri Pengumuman Penting Jelang Rapat The Fed

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 January 2026 06:32
Ketua Dewan Federal Reserve Jerome Powell berbicara saat konferensi pers di Federal Reserve di Washington, Rabu, 12 Juni 2024.
Foto: Ketua Dewan Federal Reserve Jerome Powell berbicara saat konferensi pers di Federal Reserve di Washington, Rabu, 12 Juni 2024. (AP/Susan Walsh)

Memasuki perdagangan perdagangan kedua pekan ini, Selasa (27/1/2026), pasar keuangan dalam negeri berada di fase yang sangat sensitif.

Investor dihadapkan pada kombinasi katalis dari dalam negeri terutama arah kebijakan moneter dan independensi BI ke depan setelah penetapan Deputi Gubernur BI baru. Serta sentimen eksternal yang beragam, mulai dari dimulainya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed hingga dinamika kebijakan energi Uni Eropa dan rilis data perumahan AS yang berpotensi menjadi penggerak pasar hari ini.

Berikut rangkuman sejumlah sentimen utama yang perlu dipantau pelaku pasar pada perdagangan hari ini.

Rapat KSSK
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar konferensi pers hari ini. Hadir dalam konferensi eprs Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.


Di tengah meningkatnya ketidakpastian, konferensi pers ini sangat ditunggu terutama dalam memberikan petunjuk kepada investor mengenai arah kebijakan moneter dan fiscal ke depan.
Menarik ditunggu apakah ada kebijakan baru dari pemangku kepentingan untuk lebih membuat pasar keuangan bergerak positif.

Konferensi pers ini juga berlangsung hanya beberapa jam sebelum rapat FOMC digelar di AS pada Selasa dan Rabu.

Thomas Djiwandono Resmi Terpilih Sebagai Deputi Gubernur BI

DPR RI secara resmi telah mengumumkan hasil fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun

Komisi XI DPR memilih Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai kandidat terpilih untuk mengisi posisi Deputi Gubernur BI pengganti Juda Agung.

Keputusan itu diambil setelah Komisi XI DPR menggelar rapat internal usai rangkaian uji kelayakan yang berlangsung sejak Jumat (23/1/2026) dan berlanjut pada Senin (26/1/2026). Dalam proses tersebut, Thomas bersaing dengan dua kandidat lain, yakni Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono serta Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro.

"Komisi XI DPR adakan rapat internal diawali rapat pimpinan Komisi XI bersama delapan poksi yang hadir. Telah melakukan kesepakatan dalam rapat internal yang menjadi Deputi Gubernur BI pengganti Juda Agung, bapak Thomas Djiwandono," tegas Misbakhun.

Misbakhun mengatakan keputusan Komisi XI DPR RI ditetapkan dalam waktu sekitar setengah jam. Menurutnya, nama Thomas dapat diterima oleh seluruh fraksi di Komisi XI.

"Lebih dari setengah jam pengambilan keputusan, pertimbangan Thomas bisa diterima semua partai. Juga dia menjelaskan bagaimana membangun sinergi moneter dan fiskal sehingga beri penguatan pertumbuhan ekonomi serta membangun agility dalam pengambilan keputusan," kata Misbakhun.

Ia menambahkan, isu sinergi moneter dan fiskal menjadi perhatian kuat saat ini. Menurutnya, BI sebagai otoritas moneter tidak bisa berdiri sendiri, sehingga koordinasi dengan kebijakan fiskal dinilai penting dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.

Misbakhun juga menyinggung soal fakta bahwa Thomas merupakan keponakan Presiden. Namun ia menilai hal tersebut dapat dijelaskan dengan baik oleh Thomas dalam proses uji kelayakan sehingga isu tersebut tidak menjadi penghambat keputusan.

"Fakta Thomas keponakan ya, tapi beliau bisa jelaskan dengan baik. Sehingga isu itu bisa kita kesampingkan. Bahkan saat closing beliau sampaikan profesionalisme Thomas," katanya.

The Fed Mulai FOMC, Pasar Tunggu Sinyal Suku Bunga

Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan memulai rapat FOMC selama dua hari pada hari ini Selasa (27/1/2026). Namun, keputusan suku bunga beserta pernyataan kebijakan baru akan rilis pada Rabu (28/1/2026) pukul 14.00 waktu AS, atau Kamis (29/1/2026) dini hari WIB.

Pasar menanti hasil rapat ini karena akan menjadi acuan arah aset global, mulai dari dolar AS, yield US Treasury, hingga selera risiko investor di emerging markets.

Sejalan dengan ekspektasi pasar, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas terbesar mengarah pada penahanan suku bunga. Untuk hasil pertemuan kali ini, FedWatch mencatat peluang ditahannya suku bunga AS pada level 3,50%-3,75% sebesar 97,2%, sementara peluang pemangkasan ke 3,25%-3,50% hanya sebesar 2,8%.

ProbabilitasFoto: CME FedWatch Tool
Probabilitas

Dengan probabilitas yang sangat condong ke skenario tahan, fokus pelaku pasar berpotensi bergeser dari sekadar putusan ke bahasa pernyataan dan nada komunikasi dari ketua The Fed Jerome Powell, terutama terkait penilaian risiko inflasi, ketahanan ekonomi, serta sinyal arah kebijakan untuk pertemuan-pertemuan berikutnya.

Uni Eropa Resmi Setujui Larangan Gas Rusia

Uni Eropa akhirnya mengunci langkah besar untuk memutus ketergantungan energi dari Rusia. Pada Senin (26/1/2026), negara negara Uni Eropa memberikan persetujuan final terhadap rencana pelarangan impor gas Rusia pada akhir 2027, sehingga kebijakan itu kini bisa resmi berlaku sebagai undang undang.

Aturan ini menjadi pengikat secara hukum atas komitmen Uni Eropa untuk memutus hubungan dengan pemasok gas utama mereka sebelumnya, hampir empat tahun setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022.

Persetujuan diambil dalam pertemuan para menteri negara Uni Eropa di Brussel. Namun tidak semua sepakat. Slovakia dan Hungaria memilih menolak. Hungaria bahkan menyatakan akan membawa kasus ini ke Mahkamah Eropa.

Meski begitu, larangan ini memang dirancang agar bisa lolos lewat mekanisme mayoritas yang diperkuat, sehingga tetap bisa jalan meski menghadapi penolakan dari negara negara yang masih bergantung pada energi Rusia dan ingin menjaga hubungan dekat dengan Moskow.

Dalam kesepakatannya, Uni Eropa akan menghentikan impor gas alam cair Rusia atau LNG paling lambat akhir 2026. Sementara impor gas Rusia lewat pipa ditargetkan berhenti pada 30 September 2027.

Regulasi ini juga memberi ruang penyesuaian jadwal. Jika ada negara yang kesulitan mengisi fasilitas penyimpanan gas dari pasokan non Rusia menjelang musim dingin, tenggat bisa mundur hingga 1 November 2027 sebagai batas paling akhir.

Sebelum perang Ukraina, Rusia memasok lebih dari 40% kebutuhan gas Uni Eropa. Namun porsi itu turun tajam dan kini diperkirakan tinggal sekitar 13% pada 2025, berdasarkan data terbaru Uni Eropa.

Indeks Perumahan AS

Pasar global akan menanti rilis data perumahan Amerika Serikat pada hari ini, Selasa (27/1/2026) malam waktu Indonesia. Data yang akan keluar adalah FHFA House Price Index untuk periode November 2025 dan dijadwalkan rilis pukul 09.00 waktu New York atau sekitar 21.00 WIB.

Rilis ini penting karena pergerakan harga rumah di AS sering dipakai sebagai petunjuk arah ekonomi dan inflasi. Jika harga rumah masih naik kuat pasar bisa menilai tekanan inflasi belum sepenuhnya reda. Sebaliknya jika mulai melandai itu bisa memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi ikut menurun.

Sebagai gambaran indeks FHFA sebelumnya menunjukkan harga rumah AS masih naik dengan level indeks 436,7 pada Oktober 2025 dari 435,2 pada September 2025.

Rilis data perumahan ini datang di momen yang sensitif karena rapat FOMC The Fed juga dimulai pada malam nanti. Akibatnya angka perumahan berpotensi lebih cepat mempengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Jika data lebih kuat dari perkiraan ekspektasi penurunan suku bunga bisa tertahan sehingga dolar berpotensi menguat dan aset safe haven seperti emas bisa bergejolak. Sebaliknya bila data melemah peluang pelonggaran moneter bisa terbaca lebih besar yang biasanya menekan dolar dan mendukung emas.

Bagi pelaku pasar keuangan Tanah Air arah dolar dan yield AS pada akhirnya ikut mempengaruhi selera risiko global yang bisa merembet ke arus dana asing dan pergerakan aset di emerging markets termasuk rupiah dan pasar keuangan domestik.

Indeks Dolar Jeblok

Indeks dolar melemah untuk sesi ketiga berturut-turut pada Senin, turun ke sekitar 97, level terendah lebih dari pertengahan September 2025 atau empat bulan, dan memperpanjang penurunan 1,9% pekan lalu - penurunan mingguan terbesar sejak April.

Perdagangan yang disebut sebagai "sell America" terus berlangsung, disertai spekulasi bahwa otoritas AS dan Jepang bisa berkoordinasi melakukan intervensi valuta asing untuk mendukung yen, yang menekan dolar AS.

Selain itu, kekhawatiran meningkat mengenai kemungkinan penutupan pemerintahan (government shutdown) setelah para pemimpin Demokrat mengancam akan memblokir persetujuan paket pendanaan senilai US$1,2 triliun jika di dalamnya termasuk alokasi tambahan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri, menyusul insiden penembakan fatal yang melibatkan seorang warga AS di Minnesota oleh agen imigrasi federal yang memicu protes publik dan ketegangan politik.

Investor kini juga menantikan keputusan kebijakan moneter pertama The Fed tahun ini pada hari Rabu. Meskipun secara luas diperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tak berubah, para trader diperkirakan akan sangat fokus pada outlook ekonomi Fed dan komentar terkait arah kebijakan suku bunga di masa depan.

Selain itu, ada spekulasi bahwa Ketua The Fed berikutnya bisa diumumkan secepat minggu ini - hal yang menjadi sorotan pasar karena akan berdampak pada ekspektasi arah kebijakan moneter selanjutnya.

Pelemahan dolar AS ini menjadi kabar baik bagi rupiah. Indeks yang melemah menandai adanya aksi jual besar-besaran dan investor tengah mengalihkan investasi ke nstrumen non-dolar. Harapannya banyak investor mengalihkan ke instrument berdenominasi rupiah.

(evw/evw)
Next Page
XXX


Most Popular
Features