Dibuat Tegang Kemarin, Hari Ini Investor Siaga Hadapi Gejolak dari AS
Memasuki tahun 2026, indikator ekonomi menunjukkan pergerakan yang dinamis baik dari sisi domestik maupun global. Di dalam negeri, daya beli masyarakat mencatatkan pemulihan solid yang tecermin dari data penjualan ritel, sementara sektor energi terus bermanuver melalui kebijakan produksi dan penyelesaian proyek strategis.
Di kancah internasional, volatilitas harga minyak akibat ketegangan geopolitik serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi sorotan utama pelaku pasar. Berikut adalah rincian mendalam mengenai enam isu ekonomi utama pekan ini.
Pasar keuangan hari ini akan menghadapi banyak sentimen, baik dari dalam negeri dan luar negeri. Ambruknya IHSG dalam waktu singkat Senin sore kemarin menjadi peringatan buat investor jika pasar bisa jatuh kapan pun. Nilai tukar rupiah kemungkinan masih dalam tekanan karena indeks dolar yang semakin perkasa.
IHSG Jeblok Mendadak
IHSG ditutup turun 52 poin atau terkoreksi 0,58% ke 8.884,72. Sebelumnya pada perdagangan sesi kedua tepatnya pukul 14.20 WIB IHSG mendadak ambruk 2,47%, namun beberapa menit setelahnya mampu memangkas koreksi signifikan hingga kurang dari 1%.
Pada akhir perdagangan hari ini sebanyak 279 saham turun, 435 naik, dan 97 tidak bergerak. Nilai transaksi tergolong sangat ramai atau mencapai Rp 40,10 triliun, melibatkan 74,41 miliar saham dalam 5,07 juta kali transaksi.
Sejumlah analis pun buka suara terkait ambruknya IHSG secara tiba-tiba. Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengungkapkan koreksi dalam hari ini terjadi karena adanya aksi profit taking di saham-saham energi.
"Kami mencermati koreksi dari IHSG ini dibebani oleh emiten-emiten energi yang tadi sempat terkoreksi kurang lebih 2%, dimana kami perkirakan adanya kemungkinan aksi ambil untung setelah beberapa emiten energi menguat signifikan. Dan saat ini nampak IHSG kembali rebound meskipun masih berada di teritori negatif," ungkap Herditya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (12/1/2025).
Sementara itu, Ekonom sekaligus Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengaitkan koreksi dalam ini dengan gejolak geopolitik global.
"Hemat saya berkaitan dengan dinamika geopolitik. Terus, terdapat aksi profit taking saham energi turut merupakan indikasi sebagai salah satu penyebab terkoreksinya IHSG," terang Nafan.
Meski sempat terkoreksi dalam, analis Komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan bahwa ini adalah koreksi wajar.
Lonjakan Penjualan Ritel dan Antisipasi Inflasi Jelang Ramadan
Sektor konsumsi rumah tangga Indonesia menunjukkan kinerja yang menggembirakan pada akhir 2025. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) pada November 2025 tumbuh sebesar 6,3% secara tahunan.
Angka ini menunjukkan percepatan yang signifikan dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,3% (yoy). Data ini memberikan sinyal positif bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyoroti bahwa pertumbuhan ini tidak terjadi secara merata di semua lini, melainkan ditopang oleh kategori tertentu.
Secara bulanan, penjualan eceran juga tumbuh positif sebesar 1,5%, didorong oleh momentum persiapan masyarakat menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Meskipun demikian, terdapat tantangan inflasi yang perlu diantisipasi pada kuartal pertama 2026. Berdasarkan survei BI, tekanan harga diprakirakan akan meningkat pada Februari 2026. Hal ini terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang naik ke level 168,6 dari sebelumnya 163,2.
Kenaikan ekspektasi harga ini merupakan pola musiman seiring dengan meningkatnya permintaan barang dan jasa menjelang bulan Ramadan 1447 H. Namun, tekanan ini diprediksi bersifat sementara dan akan mereda pada bulan Mei 2026 dengan IEH yang diproyeksikan turun ke level 154,5.
Optimisme pasar tetap terjaga untuk penutupan tahun buku 2025. BI memproyeksikan kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 akan tetap tumbuh sebesar 4,4% (yoy).
Geopolitik Timur Tengah Kerek Harga Minyak, Venezuela Jadi Penyeimbang
Pasar komoditas energi global membuka awal pekan di Januari 2026 dengan tren penguatan. Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober tahun lalu, dengan Brent berada di posisi US$63,42 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di level US$59,17 per barel.
Kenaikan harga lebih dari 3% dalam sepekan ini dipicu oleh faktor geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya situasi di Iran.
Gelombang protes besar di Iran telah memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi. Sebagai salah satu produsen utama OPEC, gangguan di Iran memiliki dampak sistemik.
Jika situasi memburuk dan terjadi pemogokan pekerja di sektor minyak, potensi kehilangan pasokan bisa mencapai 1,9 juta barel per hari. Angka ini cukup signifikan untuk mengguncang keseimbangan neraca minyak global, terlebih jika jalur distribusi di Selat Hormuz turut terdampak.
Namun, lonjakan harga minyak tertahan oleh perkembangan di belahan bumi lain. Pasar merespons positif sinyal dari Pemerintah Amerika Serikat yang berencana membuka kembali akses ekspor minyak Venezuela.
AS berencana mengalihkan hingga 50 juta barel minyak Venezuela yang sebelumnya terkena sanksi untuk masuk ke pasar domestik AS. Langkah ini dinilai strategis untuk meredam lonjakan harga.
Perusahaan energi telah mulai memobilisasi logistik untuk menarik minyak dari pelabuhan Venezuela. Masuknya pasokan tambahan ini berfungsi sebagai mekanisme "rem" alami bagi pasar.
Ketika risiko pasokan dari Iran mendorong harga naik, potensi tambahan suplai dari Venezuela menyeimbangkan sentimen pasar, sehingga harga minyak tidak melambung terlalu liar meskipun risiko geopolitik sedang tinggi.
Strategi Pemangkasan Produksi Batu Bara di Tengah Ketidakpastian Permintaan
Indonesia berencana mengambil langkah strategis dalam manajemen sumber daya alam dengan memangkas target produksi batu bara nasional pada tahun 2026. Produksi direncanakan turun menjadi 600 juta ton, berkurang drastis sekitar 190 juta ton dari realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menstabilkan dan mendongkrak harga batu bara di pasar internasional yang sempat tertekan akibat kelebihan pasokan (oversupply).
Pada tahun 2025, volume impor batu bara China tercatat mengalami penurunan. Hal ini dipengaruhi oleh perang tarif dagang dengan Amerika Serikat yang menekan industri manufaktur China, serta peningkatan kapasitas produksi batu bara domestik China sendiri.
Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama terkoreksinya harga batu bara global. Oleh karena itu, ketergantungan pada pasar China memiliki risiko tinggi bagi eksportir Indonesia.
Lebih lanjut, tren transisi energi global juga menjadi tantangan jangka panjang. China dan India terus berupaya mengurangi porsi batu bara dalam bauran energi mereka dan beralih ke Energi Baru Terbarukan (EBT).
Jika pada tahun 2026 kedua negara ini kembali menurunkan volume impornya, maka pemangkasan produksi oleh Indonesia mungkin tidak efektif.
Selain itu, terdapat risiko peralihan pasar ke negara produsen lain seperti Rusia, Mongolia, dan Australia yang siap mengisi kekosongan suplai yang ditinggalkan Indonesia.
Peningkatan Kapasitas Listrik Nasional Topang Pertumbuhan Ekonomi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan capaian positif dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Sepanjang tahun 2025, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional mencapai 107,51 gigawatt (GW), meningkat 7 GW dibandingkan tahun sebelumnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan bahwa ketersediaan listrik yang andal merupakan prasyarat mutlak untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional dan menarik investasi sektor industri.
Secara historis, kapasitas pembangkit listrik Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten sejak tahun 2020. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk memastikan ketahanan energi nasional.
Pada tahun 2026, pemerintah berencana untuk terus menggenjot pembangunan infrastruktur listrik sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), guna mengimbangi laju pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan industri yang semakin kompleks.
Indikator positif lainnya terlihat dari konsumsi listrik per kapita yang melampaui target. Realisasi konsumsi listrik tahun 2025 mencapai 1.584 kilowatt hour (kWh) atau 108,2% dari target yang ditetapkan.
Peningkatan konsumsi ini mengindikasikan adanya pertumbuhan aktivitas ekonomi yang produktif serta keberhasilan program pemerataan akses listrik.
Program "Listrik Desa" dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) menjadi instrumen kunci dalam pencapaian ini. Sepanjang 2025, ribuan lokasi desa terpencil telah mendapatkan akses listrik, dan ratusan ribu rumah tangga kurang mampu telah menikmati sambungan listrik baru.
Pemerataan akses energi ini diharapkan memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah, mendorong usaha mikro, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Foto: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menyampaikan paparan dalam Peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM) |
Operasional Penuh Kilang Balikpapan dan Penghematan Devisa Negara
Salah satu tonggak sejarah penting dalam kemandirian energi nasional tercapai dengan beroperasinya secara penuh proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa operasional kilang minyak terbesar di Indonesia ini berpotensi menghemat devisa negara hingga lebih dari Rp 60 triliun per tahun melalui substitusi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
Proyek senilai US$ 7,4 miliar (sekitar Rp 123 triliun) ini berhasil meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari.
Peningkatan kapasitas ini berdampak langsung pada lonjakan produksi BBM dalam negeri. Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi tambahan bensin (gasoline) sebanyak 5,8 juta kiloliter (kl) per tahun, yang secara signifikan mengurangi ketergantungan impor bensin nasional yang saat ini berada di kisaran 19 juta kl.
Dampak lebih besar terlihat pada komoditas Solar. Dengan kombinasi produksi dari kilang baru dan implementasi program biodiesel (B40/B50), Indonesia diproyeksikan tidak perlu lagi melakukan impor Solar.
Bahkan, terdapat potensi surplus produksi Solar jenis CN48 sebesar 1,4 juta kl. Selain kuantitas, kualitas produk juga meningkat tajam dengan standar setara Euro V yang lebih ramah lingkungan.
Selain manfaat finansial makro berupa perbaikan neraca transaksi berjalan, proyek RDMP Balikpapan juga memberikan kontribusi riil terhadap ekonomi domestik. Proyek ini menyerap puluhan ribu tenaga kerja, meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga ratusan triliun rupiah.
Keberadaan unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) juga memungkinkan kilang mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi, meningkatkan efisiensi dan margin kilang secara keseluruhan.
Foto: Kilang minyak terbesar di Indonesia yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur. (Dok. Kementerian ESDM) |
Dolar Merajalela
Indeks dolar AS ditutup di posisi 98,88 pada Senin kemarin. Meski melandai, indeks dolar tetap bergerak di kisaran 99 dan mendekati 100. Lonjakan indeks dolar ini menunjukkan investor masih memburu Greenback dengan menjual instrumen non-dolar.
Kondisi ini tentu saja membebani rupiah mengingat investor biasanya lebih memilih menjual instrumen dari emerging markets seperti Indonesia dan membawa dananya kembali ke AS untuk membeli dolar.
Kisruh Trump vs The Fed
Kejaksaan kini membuka penyelidikan ke Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.
Powell mengatakan sendiri Minggu waktu setempat, menyebut bagaimana jaksa AS telah membuka penyelidikan atas pernyataan yang ia berikan kepada anggota parlemen dan mengancam mengajukan dakwaan.
Ia mengatakan ini sebuah langkah yang "merupakan bagian dari kampanye tekanan Presiden Donald Trump terhadap keputusan kebijakan moneter". Powell menambahkan dalam sebuah pernyataan bahwa The Fed telah menerima panggilan pengadilan Jumat, yang "mengancam dakwaan pidana" terkait dengan kesaksiannya di Senat pada bulan Juni, menyangkut proyek renovasi besar gedung kantor Federal Reserve.
"Ancaman tuntutan pidana adalah konsekuensi dari penetapan suku bunga oleh Federal Reserve berdasarkan penilaian terbaik kami tentang apa yang akan bermanfaat bagi masyarakat, daripada mengikuti preferensi Presiden," tegas Powell dikutip AFP, Senin (12/1/2026).
"Tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya" itu sebagai bagian dari ancaman dan tekanan berkelanjutan dari pemerintahan," jelasnya merujuk diskriminasi.
Keputusan kebijakan moneter The Fed selama ini sangat independen. Badan itu memiliki mandat ganda untuk menjaga harga tetap stabil dan pengangguran tetap rendah.
Tren Inflasi AS dan Proyeksi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Hari Ini, AS akan mengumumkan data inflasi Desember 2025. Data ini sangat penting dalam menentukan kebijakan suku bunga AS ke depan.
Dari sisi ekonomi makro global, perhatian pasar tertuju pada perkembangan data inflasi dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Sebagai catatan, inflasi AS di November tercatat di level 2,6%.
Konsensus pasar memproyeksikan inflasi Desember akan berada di kisaran 2,7% dengan forecast stabil di 2,6%. Angka-angka ini mengonfirmasi bahwa tekanan harga di ekonomi terbesar dunia tersebut mulai mereda dan mendekati target jangka panjang bank sentral.
Bersamaan dengan meredanya inflasi, pasar tenaga kerja AS (job market) mulai menunjukkan tanda-tanda pendinginan (cooling).
Penyerapan tenaga kerja yang mulai melandai ini diartikan oleh pasar sebagai sinyal bahwa risiko overheating ekonomi telah berkurang. Kondisi ini memberikan ruang gerak lebih luas bagi Bank Sentral AS (The Fed) untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya yang ketat.
Berdasarkan data ekonomi terkini tersebut, proyeksi pasar semakin kuat bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada tahun ini. Konsensus analis memperkirakan pemangkasan akan dilakukan sebanyak kurang lebih dua kali.
Langkah pelonggaran moneter oleh The Fed ini menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan global, termasuk emerging markets seperti Indonesia. Penurunan suku bunga AS berpotensi melemahkan Dolar AS dan memicu aliran modal asing (capital inflow) kembali ke pasar aset berkembang.
Hal ini diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan menurunkan biaya pinjaman (cost of fund) global, memberikan stimulus tambahan bagi pertumbuhan ekonomi di tahun 2026.
(gls/gls)
Foto: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menyampaikan paparan dalam Peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)
Foto: Kilang minyak terbesar di Indonesia yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur. (Dok. Kementerian ESDM)