Dibuat Tegang Kemarin, Hari Ini Investor Siaga Hadapi Gejolak dari AS
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH), seiring investor mengabaikan kabar Departemen Kehakiman AS yang membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell.
Indeks S&P 500 naik 0,16% dan ditutup di level 6.977,27, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 86,13 poin atau 0,17% ke 49.590,20. Kedua indeks sempat menyentuh rekor tertinggi intraday dan ditutup pada level tertinggi sepanjang sejarah. Nasdaq Composite juga menanjak 0,26% dan berakhir di 23.733,90.
Indeks-indeks utama Wall Street berhasil rebound dari tekanan terdalam sesi, didorong oleh penguatan saham Walmart dan sejumlah saham teknologi. Pada titik terburuk, Dow sempat jatuh hampir 500 poin, sementara S&P 500 sempat turun sekitar 0,5%. Selain S&P 500 dan Dow 30 saham, indeks Russell 2000 juga mencatat rekor tertinggi baru.
Rencana Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit selama satu tahun di level 10% turut menimbulkan kegelisahan pasar di awal pekan.
Para pengkritik khawatir kebijakan tersebut, yang bertujuan membantu daya beli masyarakat, justru akan berbalik merugikan dengan membatasi penyaluran kredit dan menekan konsumen serta profitabilitas perbankan.
Saham-saham bank menjadi yang paling terpukul pada hari Senin, dengan Citigroup turun sekitar 3%. JPMorgan dan Bank of America melemah lebih dari 1%, sementara saham Capital One anjlok 6%.
Saham Walmart melonjak 3% seiring antusiasme menjelang masuknya perusahaan tersebut ke dalam indeks Nasdaq-100, yang dilacak oleh ETF populer Invesco QQQ Trust.
Peritel ini memimpin penguatan sektor konsumen, yang juga berpotensi mendapat dorongan dari kebijakan Trump untuk menurunkan suku bunga kartu kredit serta pergerakan harga minyak, menjelang pemilu paruh waktu AS akhir tahun ini.
"Dalam beberapa hal, dampaknya tidak terlalu besar. Saya rasa ini lebih banyak noise, dan bahkan tidak terlalu menggerakkan suku bunga ... fokus pasar akan tertuju pada data," ," kata Rob Williams, chief investment strategist di Sage, kepada CNBC, merujuk pada rilis indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Desember yang dijadwalkan keluar Selasa.
S&P 500 k
S&P 500 kembali ke zona hijau setelah sempat dibuka melemah. Pasar saham AS berada di bawah tekanan setelah Chairman The Fed Jerome Powell, dalam pernyataan video langsung yang tidak lazim pada Minggu malam, mengonfirmasi bahwa jaksa federal telah membuka penyelidikan pidana terkait kesaksiannya di Komite Perbankan Senat mengenai renovasi gedung kantor The Fed.
Powell menyebut penyelidikan itu sebagai upaya lain Trump untuk memengaruhi kebijakan moneter bank sentral dan menegaskan dirinya tidak akan tunduk pada tekanan tersebut. Masa jabatan Powell sebagai ketua akan berakhir pada Mei.
Sepanjang 2025, pasar saham relatif mengabaikan upaya Trump menekan The Fed, sementara bank sentral tetap memangkas suku bunga sebanyak tiga kali setelah inflasi stabil.
Namun, The Fed kini diperkirakan akan menahan diri dari pemangkasan lanjutan pada pertemuan berikutnya akhir bulan ini, sambil menunggu perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi di awal tahun. Trump sendiri telah menyatakan keinginannya agar The Fed terus menurunkan suku bunga.
"Dampak dari Ketua Powell yang berada dalam penyelidikan kemungkinan bersifat jangka panjang. Artinya, hal ini tidak akan mengubah suku bunga dalam waktu dekat dan tidak akan memengaruhi inflasi dalam waktu dekat," ujar Jim Lebenthal, chief markets strategist di Cerity Partners, kepada CNBC.
Dengan ekspektasi laporan kinerja emiten yang cukup bagus pekan ini dan CPI yang berpotensi turun jauh di bawah 3% ditambah ekonomi yang tumbuh cepat, Lebenthal menilai ada "terlalu banyak hal positif" dalam jangka pendek.
Faktor-faktor inilah yang menopang pasar secara keseluruhan, meski penyelidikan tersebut bisa menjadi kabar buruk dalam jangka panjang.
Lebenthal menambahkan siapa pun yang berada di Federal Open Market Committee memahami bahwa jika mereka tidak melakukan apa yang diinginkan presiden, mereka tidak menurunkan suku bunga mereka bisa saja diberhentikan.
Contohnya Lisa Cook yang setidaknya secara teoretis telah diberhentikan, atau menjadi subjek penyelidikan seperti Ketua Powell.
"Bagi ketua baru dan anggota dewan lainnya, mereka akan lebih terdorong untuk menurunkan suku bunga. Hal itu pada akhirnya akan memicu inflasi dan mendorong kenaikan suku bunga jangka panjang, tetapi dampaknya baru akan terasa paling cepat di akhir tahun." Tuturnya.
(gls/gls)