MARKET DATA

31 Ton Cadangan Emas Venezuela Disandera Inggris, Siapa Ambil Untung?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 January 2026 17:30
Para anggota kelompok milisi yang dikenal sebagai
Foto: Para anggota kelompok milisi yang dikenal sebagai

Jakarta, CNBC Indonesia - Kisruh yang melanda Venezuela membuka kembali persoalan mengenai cadangan emas mereka yang masih menjadi sengketa.

Kisruh berkepanjangan antara Venezuela dan Inggris terkait cadangan emas negara yang disimpan di Bank of England (BoE) telah berlangsung selama bertahun-tahun dan hingga kini belum menemukan ujungnya.

Berdasarkan data cadangan emas per negara yang dirilis World Gold Council (WGC) pada Desember 2025, Venezuela tercatat memiliki cadangan emas sebesar 161,2 ton, meski angka tersebut masih merujuk pada pembaruan terakhir per Juni 2018.

Dari total tersebut, sekitar 31 ton emas diketahui tersimpan di London dan dikelola oleh Bank of England sebagai bagian dari strategi penopang cadangan devisa Bank Sentral Venezuela (BCV).

Menurut beberapa sumber, cadangan emas yang berada di Inggris itu diperkirakan bernilai sekitar US$2 miliar atau setara kurang lebih Rp33,4 triliun (asumsi kurs Rp16.700 per US$1), dan hingga kini masih berada dalam status ditahan tanpa kepastian kapan dapat dipulangkan ke Caracas.

Ironisnya, sebagian cadangan emas yang ditempatkan di luar negeri untuk menjaga stabilitas keuangan tersebut justru berubah menjadi sumber masalah politik, sengketa hukum, dan tarik-menarik kepentingan geopolitik antara Caracas dan London.

Sudah Hampir 7 Tahun Tertahan

Kisruh ini berawal dari krisis politik pada 2019, ketika Juan Guaido menyatakan diri sebagai presiden interim dan mendapat dukungan Amerika Serikat (AS) serta sebagian negara Barat, termasuk Inggris. Pemerintah Inggris kemudian mengakui Guaido sebagai otoritas politik yang sah, sehingga hanya mengakui instruksi pengelolaan aset negara yang berasal dari kubu oposisi.

Pada saat yang sama, pemerintahan Nicolas Maduro meminta agar emas Venezuela yang disimpan di Bank of England yang diperkirakan berjumlah sekitar 31 ton tersebut dapat dipulangkan. Namun permintaan itu ditolak karena Inggris tidak mengakui legitimasi pemerintahannya. Sejak saat itu, emas Venezuela di Inggris resmi berada dalam status beku.

Persoalan pun naik ke ranah pengadilan Inggris dan berlangsung selama beberapa tahun, dengan fokus pada satu isu utama yaitu siapa yang secara sah berhak mewakili Bank Sentral Venezuela. Apakah dewan direksi versi pemerintahan Maduro, atau "dewan ad-hoc" yang dibentuk oposisi.

Dalam sejumlah sidang, pemerintah Inggris secara konsisten menegaskan pengakuan politiknya terhadap Guaido. Pemerintah bahkan menunjuk firma hukum papan atas untuk memperkuat posisi tersebut di Mahkamah Agung sesuatu yang menunjukkan bahwa perkara ini tidak hanya sekadar urusan bank sentral, melainkan terkait kebijakan negara.

Keadaan semakin rumit ketika pada akhir 2022, koalisi oposisi Venezuela sendiri mencopot Juan Guaido dan membubarkan struktur pemerintahan paralel yang selama ini menjadi basis pengakuan politik negara-negara Barat.

Meski figur presiden interim sudah tidak lagi ada, pembekuan emas tetap tidak serta-merta dicabut oleh otoritas Inggris.

Dalam salah satu putusan sidang pada 2022, hakim bahkan menilai bahwa perkara ini bersifat belum pernah terjadi sebelumnya dan keputusannya berpotensi berdampak pada seluruh warga Venezuela. Di sisi lain, Pelapor Khusus PBB untuk urusan sanksi sempat menyerukan agar aset BCV dibuka kembali demi memungkinkan pembelian obat, pangan, dan kebutuhan esensial.

Namun hingga kini status emas tersebut tetap menggantung, berada di antara tarik-menarik kepentingan politik, pertimbangan hukum yang berlarut, serta tensi geopolitik yang terus berkembang.

Di Tengah Harga Emas Dunia yang Meroket, Venezuela Tak Bisa Menikmati Keuntungannya

Di luar politik dan legalitas, pembekuan emas ini membawa kerugian ekonomi yang signifikan bagi Venezuela, terlebih di saat harga emas dunia tengah berada pada level yang sangat tinggi. Saat ini, harga emas global tercatat berada di kisaran US$4.448 per troy ons, sebuah level yang pada kondisi normal semestinya memberi keuntungan besar bagi negara pemilik cadangan emas, baik dalam bentuk penguatan cadangan devisa maupun peningkatan ruang stabilisasi ekonomi.

Namun bagi Venezuela, peluang tersebut justru tidak dapat dimanfaatkan.

Selama beberapa tahun terakhir, perekonomian negara itu menghadapi hiperinflasi, kontraksi aktivitas ekonomi, penurunan kapasitas produksi, serta pembatasan akses pendanaan akibat sanksi internasional.

Dalam situasi seperti ini, cadangan emas seharusnya berperan sebagai bantalan penting bagi stabilitas keuangan negara.

Emas Venezuela yang tersimpan di Inggris sebanyak sekitar 31 ton, atau setara kurang lebih 996.673 troy ons, pada dasarnya dapat memberikan tambahan ruang likuiditas yang signifikan bagi perekonomian.

Nilainya melonjak tajam mengikuti kenaikan harga emas global, namun peningkatan nilai tersebut hanya tercatat di atas kertas karena pemerintah Venezuela tidak memiliki akses terhadap aset tersebut.

Untuk menggambarkan besarnya potensi nilai yang saat ini terkunci, berikut perbandingan estimasi nilai emas Venezuela di London pada dua skenario harga, yakni ketika harga emas berada di level US$1.400 per troy ons pada 2019 dan pada level saat ini US$4.448 per troy ons.

Terlihat bahwa pada harga emas yang lebih rendah, nilai emas yang tertahan di London diperkirakan hanya sekitar US$1,40 miliar.

Namun pada harga emas saat ini, nilainya melesat hingga sekitar US$4,43 miliar. Artinya terdapat selisih potensi nilai lebih dari US$3 miliar, atau setara sekitar Rp50 triliun, yang tidak dapat dinikmati Venezuela karena aset tersebut tidak bisa diakses.

Situasi semakin kompleks setelah Nicolas Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat melalui operasi militer pada Sabtu (3/1/2025), yang membuat lanskap politik dan keamanan Venezuela memasuki fase ketidakpastian baru.

Kondisi ini pada akhirnya semakin memperuncing ketegangan terkait status emas yang tertahan di London, sekaligus memperlebar jarak antara nilai aset yang terus meningkat dan kemampuan negara untuk memanfaatkannya bagi stabilitas ekonomi domestik.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular