Ini 8 Perusahaan RI Punya "Gudang" Emas Terbesar, Siapa Jadi Raja?
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga emas dunia telah mencapai titik yang tidak terduga. Harga emas (XAU) bahkan resmi menembus level psikologis baru di US$ 5.100 per troy ons pada Senin (26/1/2026).
Angka ini merefleksikan kenaikan luar biasa cepat, yakni sekitar 53% hanya dalam waktu enam bulan jika dibandingkan dengan posisi Juli 2025 yang masih di level US$ 3.200-an.
Fenomena "emas terbang" ini membawa sorotan tajam pada fundamental emiten pertambangan di Bursa Efek Indonesia, khususnya terkait kekayaan cadangan yang mereka miliki dalam laporan resmi perusahaan.
Dari Laporan Tahunan hingga Prospektus
Menelaah lebih dalam ke dalam Annual Report terbaru, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memegang posisi kunci sebagai pemilik cadangan emas terbesar di Indonesia.
Dengan cadangan mencapai 1.018,96, raksasa tambang ini memiliki daya ungkit valuasi paling besar terhadap kenaikan harga komoditas global. Disusul oleh Freeport Indonesia yang dalam laporan operasionalnya masih mencatatkan cadangan jumbo sebesar 696,72.
Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada pendatang baru, yakni emiten dengan kode EMAS. Berbeda dengan emiten lain yang sudah mapan, data cadangan sebesar 217,72 milik perusahaan ini diambil dari dokumen prospektusnya, yang menandakan potensi pertumbuhan besar dari aset-aset yang baru akan dikembangkan secara masif di tahun 2025.
Di sisi lain, emiten-emiten yang dikenal lincah di pasar modal seperti BRMS (133,6) dan UNTR (108,86) terus memperkuat posisi cadangan mereka melalui optimalisasi lahan tambang.
Adapun PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berdasarkan laporan tahunan terbarunya kini mencatatkan sisa cadangan sebesar 57,16, yang meski lebih kecil secara volume dibanding raksasa lainnya, tetap menjadi aset sangat berharga di tengah harga emas yang kini di atas US$ 5.000.
Akselerasi Harga yang Mengubah Peta Valuasi
Kenaikan harga emas yang sangat instan ini memberikan dampak instan pula pada aset dan laba perusahaan. Sebagai contoh, harga emas yang melonjak dari kisaran US$ 4.000 di Desember 2025 ke level US$ 5.000 hanya dalam satu bulan Januari 2026, memberikan margin keuntungan tambahan yang sangat tebal bagi perusahaan yang sudah dalam fase produksi.
Dengan data yang bersumber langsung dari laporan tahunan dan prospektus ini, investor dapat melihat bahwa kekuatan utama emiten tambang saat ini bukan hanya pada volume produksi harian, melainkan pada seberapa besar cadangan yang masih tersimpan di bawah tanah untuk dikonversi menjadi laba bersih di masa depan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)