
Bitcoin Jadi Medan Perang Baru China vs AS, Mana Lebih Berkuasa?

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah meningkatnya pamor aset digital, semakin banyak pemerintah di berbagai negara menjadikan bitcoin sebagai bagian dari cadangan aset mereka. Kepemilikan ini diperoleh dari berbagai cara, baik melalui kebijakan strategis maupun hasil penyitaan aparat penegak hukum.
Beberapa perbendaharaan negara bahkan telah menguasai ratusan ribu koin dengan nilai mencapai miliaran dolar.Amerika Serikat adalah pemegang bitcoin (BTC) pemerintah terbesar, diikuti oleh China.
Secara keseluruhan, 10 negara ini mengendalikan sekitar 2,506% dari total pasokan BTC.
Menurut data dari BitcoinTreasuries.net, daftar di atas mengurutkan negara-negara dengan kepemilikan bitcoin terbanyak per 31 Juli 2025.
Sebagai catatan, beberapa negara tidak secara terbuka melaporkan kepemilikan Bitcoin mereka, sehingga bisa jadi daftar ini bukan daftar yang pasti. Nilai didasarkan pada harga BTC sebesar US$118.454 atau sekitar Rp 1,95 miliar (US$1=Rp 16.485).
AS dan China Memiliki Bitcoin Terbanyak
Amerika Serikat dan Tiongkok/China adalah dua negara dengan bitcoin terbanyak per 31 Juli 2025. Sebagian besar simpanan Bitcoin Amerika berasal dari penyitaan penegakan hukum profil tinggi, termasuk Silk Road dan pasar gelap lainnya. Kepemilikan Bitcoin oleh pemerintah AS mencapai US$23,4 miliar atau sekitar Rp 385,7 triliun.
Silk Road adalah marketplace yang hanya bisa diakses melalui Dark Web atau jaringan internet "gelap". Menurut Investopedia, FBI telah menyita lebih dari 144.000 BTC yang ditransaksikan di Silk Road pada tahun 2013.
Pendiri Silk Road sendiri, Ross Ulbricht, telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun diketahui bahwa Ia telah diberikan grasi oleh Presiden Trump pada Januari 2025.
China menyusul di belakang AS, dengan kepemilikan 190.000 BTC yang bernilai sekitar US$22,5 miliar. Meskipun pemerintah setempat melarang perdagangan kripto oleh ritel, Pemerintah Tiongkok mempertahankan cadangan besar Bitcoin dari hasil penyitaan penambangan dan kasus penipuan.
Inggris berada di posisi ketiga, dengan kepemilikan bitcoin sebanyak 61.245 BTC yang setara dengan US$7 miliar.
Ukraina dan Korea Utara sama-sama memiliki cadangan BTC yang signifikan. Kepemilikan ini dilaporkan terkait dengan aktivitas siber dan penyitaan aset. Ukraina diketahui menyimpan lebih dari 46.000 BTC, yang jika dikonversi menjadi dollar Amerika adalah sebesar $5,49 miliar. Sedangkan Korea Utara memiliki lebih dari 13.000 BTC dengan nilai sekitar US$1.6 miliar.
El Salvador yang berada di peringkat ketujuh menjadi satu-satunya negara yang membeli Bitcoin secara langsung sebagai bagian dari strategi keuangannya, dengan kepemilikan 6.257 bitcoin senilai lebih dari US$740 juta.
Bhutan Rajin Jadi Penambang Bitcoin
Bhutan juga masuk ke dalam daftar sebagai pemain yang tak disangka-sangka, menempati posisi keenam dengan cadangan Bitcoin sebanyak lebih dari 11.000 BTC. Banyaknya aset Bitcoin ini dikaitkan dengan operasi penambangan berbasis tenaga air yang sedang gencar dilakukan oleh pemerintah Bhutan.
Berbeda dengan banyak negara lain, Bhutan tidak membeli atau menyita Bitcoin dari pasar. Seluruh BTC itu ditambang sendiri menggunakan infrastruktur dalam negeri sejak akhir 2020.
Kegiatan mining dimulai dengan peralatan rakitan lokal di dekat Dochula Pass dan kemudian berkembang pesat. Pada 2022, ada empat pusat tambang yang didukung pemerintah, dan hingga 2025 jumlahnya telah bertambah menjadi enam lokasi aman.
Bhutan mengandalkan tenaga air sepenuhnya untuk seluruh operasional mining-nya, tanpa menggunakan bahan bakar fosil. Pendekatan ini membuat strategi kripto Bhutan menjadi salah satu yang paling ramah lingkungan di dunia.
Uniknya, hasil tambang Bitcoin ini digunakan untuk kebutuhan negara, termasuk pembayaran gaji pegawai negeri. Pada 2023, Bhutan bahkan menjual Bitcoin senilai US$100 juta untuk mendanai kenaikan gaji sektor publik.
Langkah ini mendukung stabilitas fiskal dan mencegah migrasi tenaga kerja ke negara tetangga. Pemerintah juga melihat mining sebagai solusi efisien bagi kelebihan produksi listrik dari pembangkit tenaga air.
Langkah ini diharapkan menjadikan Bhutan sebagai pemimpin inovasi blockchain di kawasan Asia Selatan. Dengan strategi berbasis keberlanjutan dan teknologi, Bhutan mulai menempatkan dirinya di peta industri kripto dunia..
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
