Rupiah Hancur Pekan Ini, China sedang Tertawa

mae, CNBC Indonesia
30 August 2025 09:59
Petugas menhitung uang asing di penukaran uang DolarAsia, Blok M, Jakarta, Senin, (26/9/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menhitung uang asing di penukaran uang DolarAsia, Blok M, Jakarta, Senin, (26/9/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring gelombang demonstrasi yang terjadi di Tanah Air. Namun, rupiah tak sendiri karena sejumlah mata uang Asia juga tertekan pekan ini.

Mengutip dari Refinitiv, mata uang garuda terhadap dolar AS pada Jumat (29/8/2025) ditutup di level Rp16.485/US$ atau melemah 0,87% dalam sehari.

Pelemahan harian ini adalah yang terbesar sejak 8 April 2025, di mana pada saat itu rupiah melemah 1,67% akibat dari pengumuman resiprokal tarif Presiden AS Donald Trump.

Level penutupan rupiah hari ini sekaligus tercatat menjadi level terlemah sejak 1 Agustus 2025, di mana pada saat itu rupiah di tutup di posisi Rp16.485/US$.
Dalam sepekan, rupiah ambruk 0,9% pada pekan ini, berbanding terbalik dengan penguatan 0,09% pekan lalu. Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah memanasnya situasi politik dalam negeri.

Aksi demonstrasi berlangsung sejak Senin (25/8/2025) hingga Kamis (28/8/2025), yang memuncak dengan insiden tragis tertabraknya pengemudi ojek online oleh kendaraan taktis Brimob di Pejompongan, Jakarta Selatan.

Peristiwa ini kemudian memicu gelombang aksi massa yang kembali marak di berbagai daerah pada Jumat (29/8/2025).

Kendati demikian, demonstrasi bukan satu-satunya penyebab. Pelemahan rupiah menurutnya juga disebabkan oleh aksi ambil untung atau profit taking dari investor menjelang akhir bulan.

"Pada periode akhir bulan, kelihatannya investor juga mengambil momentum. Akhir bulan mereka harus tarik atau realisasikan keuntungan mereka. Dan kebetulan timingnya ini ada demo," ujar Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/8/2025).

Selain itu, permintaan dolar yang tinggi untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri dan impor juga menambah tekanan terhadap rupiah. Namun tekanan ini masih bersifat sementara.

Menurutnya, pasar kini menanti data inflasi Amerika Serikat, khususnya Personal Consumption Expenditure (PCE) Inflation. Jika data menunjukkan angka yang lebih rendah atau stagnan, rupiah berpotensi kembali menguat seiring melemahnya dolar AS. Di sisi lain, stabilitas kondisi sosial di dalam negeri juga menjadi penentu arah rupiah ke depan.

Pelemahan mata uang tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia jug ambruk pekan ini dengan penyebab beragam. Kejatuhan terbesar menimpa Peso Filipina. Sebaliknya, mata uang China dan Malaysia terbang.

Peso jatuh setelah Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) memangkas suku bunga acuan mereka sebesar 25 bps menjadi 5,0%.

Rupee India anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah pada Jumat (29/8/2025), menembus level 88 per dolar AS untuk pertama kalinya. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran bahwa tarif tambahan dari Amerika Serikat (AS) akan menekan pertumbuhan ekonomi India sekaligus memperburuk arus investasi portofolio.

Washington pekan ini menaikkan bea masuk untuk barang-barang asal India sebesar 25% tambahan, sehingga total tarif menjadi 50%.

PBOC Kerek Kurs Harian Yuan, Sinyal Strategi Baru?

Di sisi lain, kabar mengejutkan datang dari Beijing. People's Bank of China (PBOC) pekan ini menaikkan kurs tengah harian yuan terhadap dolar AS dengan margin terbesar dalam hampir setahun.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal perubahan strategi moneter, dari sekadar stabilisasi menjadi dorongan untuk apresiasi bertahap yuan.

Analis, termasuk dari Bank of America, menyebut langkah tersebut sebagai sinyal PBOC yang lebih proaktif. Jika tren berlanjut, hal ini bisa memicu pergeseran sentimen di pasar mata uang global.

Bagi pasar, yuan yang lebih kuat bisa menarik kembali aliran modal ke saham China dan meningkatkan kepercayaan investor pada aset domestik. Namun, hal ini juga bisa menekan daya saing ekspor karena harga barang China berpotensi naik di luar negeri.

Secara lebih luas, keputusan ini dilihat sebagai pernyataan percaya diri terhadap pemulihan ekonomi China serta komitmen untuk membuka ruang bagi reformasi finansial. Efeknya bisa menjalar ke mitra dagang global hingga memengaruhi kebijakan bank sentral lain.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)
Tags

Related Articles

Most Popular
Recommendation