
Rupiah Ambruk Usai Demo Panas, Ringgit Senyum-Senyum

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan mata uang Asia pada hari ini bergerak variatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir dari Refinitiv, pada hari ini, Jumat (29/8/2025) pukul 09.16 WIB nilai tukar rupiah terpantau melemah 0,12% ke posisi Rp16.360/US$, sementara sejumlah mata uang lain mencatatkan penguatan tipis dan sebagian lainnya justru tertekan.
Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia setelah naik 0,14% ke level MYR 4,208/US$. Disusul baht Thailand yang menguat 0,09% ke THB 32,23/US$, serta dong Vietnam yang terapresiasi 0,05% ke VND 16.360/US$. Adapun yuan China stagnan di CNY 7,13/US$.
Di sisi lain, yen Jepang turun 0,03% ke JPY 146,97/US$, dolar Singapura melemah 0,07% ke SGD 1,282/US$, dan rupee India terkoreksi 0,08% ke INR 87,631/US$.
Tekanan lebih dalam terjadi pada peso Filipina yang turun 0,11% ke PHP 56,958/US$, won Korea Selatan merosot 0,13% ke KRW 1.387,18/US$, dan dolar Taiwan menjadi yang terlemah setelah anjlok 0,28% ke TWD 30,573/US$.
Indeks Dolar AS (DXY)
Pergerakan mata uang Asia sangat dipengaruhi oleh dinamika indeks dolar AS (DXY). Hingga pukul 09.20 WIB, DXY tercatat menguat 0,19% ke level 97,99, setelah pada penutupan perdagangan Kamis (28/8/2025) sempat melemah 0,43% di posisi 97,81.
Tekanan terhadap dolar sejatinya masih cukup kuat, terutama akibat kekhawatiran mengenai independensi The Fed. Presiden Donald Trump kembali berupaya menekan arah kebijakan moneter, termasuk dengan langkah kontroversial untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook. Cook bahkan menggugat balik dengan menegaskan bahwa Trump tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikannya. Konflik politik ini semakin menambah ketidakpastian terhadap kebijakan moneter AS.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini menilai peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada FOMC September mencapai 86%, naik dari 63% sebulan.
Bahkan, pelaku pasar memperkirakan lebih dari 100 basis poin pemangkasan bisa terjadi hingga pertengahan tahun depan. Kondisi ini membuat dolar AS tetap rapuh, meski tidak semua mata uang Asia mampu memanfaatkan pelemahan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)