Newsletter

Awas! IHSG Bisa Terpeleset, Sentimen Sedang Tak Bersahabat

Research - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
22 March 2022 06:30
Federal Reserve Chair Jerome Powell removes his glasses as he listens to a question during a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin) Foto: Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Jerome Powell (AP Photo/Jacquelyn Martin)

IHSG berpotensi melemah pada perdagangan hari ini di tengah sentimen pasar dalam negeri yang sepi dan mengantisipasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif.

Powell pada hari Senin mengatakan "inflasi terlalu tinggi" dan berjanji untuk mengambil "langkah-langkah yang diperlukan" untuk mengendalikan harga. Dia berujar kenaikan suku bunga bisa berubah dari kenaikan seperempat poin persentase (bps) ke kenaikan yang lebih agresif yaitu setengah basis poin jika perlu.

Pernyataan di National Association for Business Economics tersebut diucapkan kurang dari seminggu setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2018.

Jika suku bunga AS kemudian ditingkatkan dengan lebih agresif, ini akan akan jadi penekan emiten-emiten yang memiliki utang berdenominasi dolar AS. Sebab tingkat beban bunga yang ditanggung akan lebih besar.

Selain itu, hal ini juga bisa menarik investor asing keluar dari bursa saham Indonesia. Karena ketika suku bunga acuan AS tinggi, maka selisih imbal hasil (spread) obligasi pemerintah AS kian membesar terhadap obligasi negara berkembang, terutama di tengah premi risiko negara berkembang yang masih tinggi akibat bayang-bayang efek perang Ukraina.

Spekulasi perpindahan alokasi dari negara berkembang ke negara maju ini secara psikologis menekan pasar saham di negara berkembang, termasuk IHSG.

Konflik antara Rusia dan Ukraina masih jadi momok mengkhawatirkan bagi investor aset berisiko seperti saham. Harga energi yang melonjak bisa jadi batu sandungan pemulihan ekonomi dunia. Investor pun mulai mencari perlindungan aset yang lebih aman.

Laju IHSG bisa ditopang dari musim dividen emiten-emiten bank besar. Seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk. (Persero) atau BBNI yang akan membagikan labanya ke investor sebesar Rp 146,3 per lembar saham. Tanggal batas terakhir terdaftar sebagai penerima dividen alias cum date pada tanggal 25 Maret 2022.

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) bakal membagikan dividen senilai total Rp 14,79 triliun atau Rp 120 per lembar saham yang akan dibayarkan pada 19 April 2022. Tanggal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi adalah pada 25 Maret 2022, sedangkan di pasar tunai pada 29 Maret 2022.

Agenda dan Data Ekonomi, Agenda Emiten, & Indikator Ekonomi RI
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading