Kulon Progo dan Reposisi Indonesia dalam Ekonomi Hijau Global

Setiawan Budi Utomo CNBC Indonesia
Kamis, 23/07/2026 10:55 WIB
Setiawan Budi Utomo
Setiawan Budi Utomo
Setiawan Budi Utomo merupakan pemerhati keuangan dan kebijakan ekonomi. Ia juga menjadi dosen tamu untuk program Pascasarjana di berbagai pe... Selengkapnya
Foto: Ilustrasi bendera Indonesia. (Dok. Pexels)

Di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 MW dengan investasi sekitar US$32 juta atau Rp574 miliar segera dibangun di atas lahan seluas 50 hektare.

Sepintas, proyek ini tampak sebagai investasi daerah yang biasa. Namun jika dibaca dalam lanskap global yang lebih luas, sesungguhnya ia merupakan bagian dari transformasi ekonomi dan geopolitik terbesar abad ke-21.

Dunia saat ini tidak hanya sedang mengalami transisi energi. Dunia sedang menyaksikan lahirnya peta kekuatan ekonomi baru yang ditentukan oleh siapa yang menguasai teknologi energi bersih, mineral strategis, rantai pasok baterai, kendaraan listrik, dan panel surya. Karena itu, PLTS Kulon Progo bukan sekadar proyek listrik. Ia merupakan bagian kecil dari pertarungan besar ekonomi hijau global.


Dari Geopolitik Minyak Menuju Geopolitik Energi Bersih
Selama lebih dari satu abad, geopolitik dunia ditentukan oleh minyak dan gas. Kawasan Timur Tengah menjadi episentrum ekonomi global karena menguasai sumber energi yang menggerakkan industri modern.

Namun sejarah sedang berubah. Laporan berbagai lembaga energi internasional menunjukkan bahwa tenaga surya kini menjadi sumber pembangkit listrik baru yang tumbuh paling cepat di dunia. Dalam banyak negara, biaya listrik dari tenaga surya bahkan telah lebih murah dibanding pembangkit fosil baru.

Perubahan ini melahirkan apa yang oleh sejumlah ekonom disebut sebagai new energy geopolitics. Jika abad ke-20 ditentukan oleh perebutan ladang minyak, maka abad ke-21 akan ditentukan oleh penguasaan teknologi energi bersih, manufaktur panel surya, baterai, sistem penyimpanan energi, dan jaringan listrik cerdas. Dalam konteks ini, transisi energi tidak lagi semata agenda lingkungan hidup. Ia telah menjadi instrumen daya saing nasional.

Persaingan China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa
Persaingan ekonomi global saat ini semakin banyak berlangsung melalui kebijakan energi hijau. China berhasil membangun dominasi yang sangat kuat dalam rantai pasok panel surya dunia. Sebagian besar produksi polisilikon, wafer, sel surya, hingga modul panel surya global kini berada dalam ekosistem industri China. Keunggulan skala produksi membuat harga panel surya terus turun dan mempercepat adopsi energi surya di berbagai negara.

Di sisi lain, Amerika Serikat merespons melalui kebijakan industrial yang agresif melalui Inflation Reduction Act (IRA), yang memberikan berbagai insentif fiskal untuk manufaktur energi bersih domestik. Uni Eropa melakukan langkah serupa melalui Green Deal Industrial Plan guna mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok energi bersih dari luar kawasan.

Dengan kata lain, energi hijau kini bukan hanya isu iklim. Ia telah menjadi arena persaingan industri dan teknologi global. Indonesia tidak dapat berdiri di luar dinamika tersebut.

Momentum Indonesia dalam Peta Energi Baru
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar. Selain memiliki cadangan nikel terbesar dunia yang menjadi komponen utama baterai kendaraan listrik, Indonesia juga memiliki potensi energi surya yang sangat besar karena berada di kawasan khatulistiwa. Berbagai kajian menunjukkan potensi energi surya nasional mencapai ratusan gigawatt dengan tingkat iradiasi yang relatif stabil sepanjang tahun.

Pemerintah mulai menerjemahkan potensi tersebut ke dalam kebijakan yang lebih konkret. RUPTL PLN 2025-2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sekitar 69,5 GW, dengan sekitar 42,6 GW berasal dari energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi. Di antara seluruh sumber energi bersih tersebut, tenaga surya menjadi kontributor terbesar dengan target sekitar 17,1 GW kapasitas baru.

Investasi yang dibutuhkan untuk menjalankan RUPTL tersebut mencapai lebih dari Rp2.100 triliun dan diproyeksikan menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan kerja, dimana sebagian besar merupakan pekerjaan hijau (green jobs). Artinya, energi surya tidak lagi menjadi proyek eksperimental. Ia telah menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional.

Kulon Progo dan Model Pembangunan Masa Depan
Yang membuat proyek Kulon Progo menarik bukan hanya karena kapasitas listriknya. Nilai strategisnya terletak pada kemampuannya menjawab apa yang dikenal sebagai energy trilemma: bagaimana menyediakan energi yang cukup, terjangkau, dan berkelanjutan secara bersamaan.

Selama ini pengembangan energi surya sering menghadapi kritik terkait kebutuhan lahan yang luas. Di banyak negara, konflik antara energi dan pangan menjadi tantangan serius.

Namun proyek Kulon Progo menunjukkan pendekatan yang berbeda. Lahan yang digunakan bukan merupakan lahan sawah dilindungi dan tetap dapat dimanfaatkan untuk budidaya hortikultura seperti melon dan semangka.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep agrivoltaics yang berkembang di Jepang, Jerman, dan Prancis, yaitu integrasi antara produksi pangan dan energi dalam satu ruang ekonomi yang sama.

Dengan model seperti itu, lahan tidak hanya menghasilkan satu komoditas, tetapi dua sekaligus: pangan dan energi. Inilah bentuk konkret pembangunan berkelanjutan yang selama ini sering hanya menjadi jargon kebijakan.

Green Growth dari Daerah
Teori green growth berangkat dari gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan. Justru sebaliknya, investasi hijau dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Joseph Schumpeter menyebut proses tersebut sebagai creative destruction, ketika teknologi baru secara bertahap menggantikan teknologi lama dan menciptakan sektor ekonomi baru yang lebih produktif.

PLTS Kulon Progo merupakan contoh nyata proses tersebut. Selain menghasilkan listrik bersih, proyek ini menciptakan aktivitas konstruksi, kebutuhan tenaga kerja, pengembangan keterampilan baru, peningkatan nilai lahan, serta peluang tumbuhnya rantai pasok energi terbarukan di tingkat lokal.

Lebih jauh lagi, kehadiran infrastruktur energi hijau semakin menjadi faktor penting dalam keputusan investasi global. Banyak perusahaan multinasional kini mempertimbangkan akses terhadap energi bersih sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi mereka. Dengan demikian, PLTS tidak hanya menghasilkan listrik. Ia menghasilkan daya tarik investasi.

Indonesia Emas 2045 dan Ekonomi Surya
Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada 2045. Namun target tersebut tidak mungkin dicapai hanya dengan mengandalkan model pembangunan lama yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam mentah.

Indonesia membutuhkan fondasi pertumbuhan baru yang lebih produktif, lebih berkelanjutan, dan lebih adaptif terhadap perubahan global. Energi surya merupakan salah satu fondasi tersebut. Karena itu, proyek Kulon Progo seharusnya tidak dipandang sebagai proyek daerah semata. Ia adalah simbol dari arah pembangunan baru Indonesia.

Di tengah persaingan China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa dalam membangun ekonomi hijau, Indonesia perlu menemukan posisinya sendiri: bukan sekadar menjadi pasar teknologi energi bersih, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai global yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan kedaulatan energi nasional.

Pada akhirnya, nilai terbesar PLTS Kulon Progo bukanlah 50 MW listrik yang akan dihasilkannya. Nilai terbesarnya adalah pesan strategis yang dibawanya: bahwa masa depan Indonesia tidak harus memilih antara pertanian, investasi, energi, dan lingkungan. Keempatnya dapat tumbuh bersama.

Ketika sawah dan panel surya mampu berbagi ruang, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya pembangkit listrik. Yang sedang dibangun adalah fondasi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam ekonomi hijau global abad ke-21.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google