Jangka Pendek Butuh Solar + BSS, Jangka Panjang Perlu Geotermal-Nuklir
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Bukan hanya saya yang khawatir mengenai kenaikan harga energi. Di tengah lonjakan harga minyak dalam satu bulan terakhir, banyak teman saya yang menanyakan alternatif. Mungkin karena saya adalah salah satu pelaku usaha di bidang energi terbarukan. Saya menerima beberapa pesan dari teman dan keluarga:
"Apakah EV worth-it? Seberapa hemat, sih?"
"Kira-kira berapa biaya untuk memasang panel surya di rumah saya? Apakah bisa hemat energi?"
"Beli kompor listrik di mana, sih?"
Saya yakin diskursus di atas juga menjadi pembahasan obrolan masyarakat akhir-akhir ini. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita selalu take it for granted. Namun, ketika krisis energi terjadi, kehidupan kita pasti terkena dampaknya. Apakah itu kelangkaan minyak, saluran listrik yang terputus, atau melonjaknya harga.
Sistem energi menjadi salah satu pilar fondasi ekonomi Indonesia. Dengan adanya isu disrupsi Selat Hormuz yang terjadi, kita diingatkan untuk melakukan "upgrade" dari sistem energi kita yang masih bisa lebih disempurnakan.
Benang Merah Solusi Krisis Energi: Elektrifikasi
Bahan bakar minyak (BBM) sangat volatil terhadap kondisi geopolitik yang tidak stabil. Lantas, masyarakat-pun secara naluriah menganalisis menyimpulkan bahwa solusinya adalah mengganti penggunaan BBM menjadi listrik; atau dapat disebut elektrifikasi.
Listrik, dibandingkan dengan panas, gerak, kimia, maupun suara, merupakan bentuk energi yang paling versatil. Listrik bisa memutar roda mobil, menghasilkan getaran suara dari speaker, maupun memanaskan makanan di oven. Terlebih lagi, listrik dapat dihasilkan melalui berbagai cara, termasuk cara yang ramah lingkungan, tidak mengeluarkan emisi gas buang seperti ketika kita membakar BBM.
Pemerintah-pun memprioritaskan percepatan elektrifikasi nasional melalui rencana konversi kendaraan listrik untuk menekan impor BBM, dan menghindari beban volatilitas harga BBM terhadap beban fiskal negara. Sebagai pengamat dan pelaku bisnis industri energi, saya-pun tahu elektrifikasi adalah solusinya.
Elektrifikasi berarti sistem kelistrikan Indonesia harus lebih berkualitas, stabil, murah, dan yang paling penting, berkelanjutan. Upgrade ini perlu dilakukan di kala ekonomi Indonesia dalam tahap pertumbuhan pesat.
Pertama, elektrifikasi harus dilakukan dengan memperhatikan "kebersihan" dari sumber energinya. Saat ini, Indonesia menghasilkan listrik dari sumber daya batubara dengan share >60%. Mayoritas lainnya adalah dari sumber daya gas. Kita sudah tahu bahwa emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar batu bara dan gas menyebabkan perubahan iklim dan polusi udara yang buruk bagi kesehatan.
Kedua, elektrifikasi harus memperhatikan "keandalan" produksi listrik. Idealnya, listrik dihasilkan kapan pun kita mau, di lokasi yang tepat, dalam jumlah yang cukup, bahkan ketika langit mendung berhari-hari, permintaan malam hari melonjak, atau kawasan industri beroperasi 24 jam.
Ketiga, elektrifikasi harus memperhatikan keekonomian. Sebagai negara yang sedang berkembang pesat, kita memerlukan sumber daya energi semurah mungkin. Keempat, elektrifikasi harus memastikan keberlanjutan dari sumber energinya. Tentu, kita tidak mau memproduksi energi dari bahan baku yang kita harus susah payah membeli dari luar negeri. Sebaiknya bersifat "terbarukan" atau setidaknya Indonesia memiliki cukup suplai sumber dayanya.
Kelima, elektrifikasi harus memastikan coverage dari akses listrik. Tentunya, Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan kerja keras untuk membuat jaringan listrik yang merata namun efisien dan terintegrasi.
Tidak ada satu magic primary energy source yang dapat memenuhi lima kriteria di atas. Namun adanya kombinasi, di letak geografis yang berbeda. Setiap pakar, pemerintah, dan badan energi-pun memiliki banyak kemungkinan skenario teknologi.
Untuk saya, jawabannya adalah: pembangkit listrik tenaga surya dengan baterai dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan dan pembangkit listrik tenaga geotermal dan nuklir di atas sepuluh tahun ke depan.
Solusi Jangka Pendek: Solar PV dan Battery Energy Solutions (BESS)
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mengonversi tabrakan elektron di panel surya akibat paparan ke sinar matahari. Sehingga, sumber energinya terbarukan dan tersedia di kala ada cahaya matahari. Terlebih lagi, kekuatan penyinaran matahari di Indonesia cukup baik sebagai negara di ekuator bumi, sehingga potensi tenaga surya Indonesia cukup besar.
Kelemahannya adalah, ketika tidak ada cahaya matahari, PLTS secara mandiri tidak bisa menghasilkan listrik. Untuk sistem yang tersambung dengan sumber listrik lainnya, permintaan listrik dapat dipenuhi dari sumber lainnya. Namun, ketika sistem bersifat independen (tidak tersambung dengan sumber listrik lainnya) hal ini menjadi masalah.
Lantas, ada teknologi baterai atau biasa disebut BESS, untuk menangkap ekses listrik produksi di siang hari, dan menyimpannya. Walaupun menambah biaya, hal ini menjawab masalah intermittency dari teknologi PLTS. Biaya baterai pun terus turun dalam beberapa waktu terakhir, hasil dari maturitas teknologi yang datang dengan skala.
Namun, yang paling penting: PLTS cepat dibangun. Sistemnya bersifat modular, sehingga bisa di pasang dengan relatif gampang di mana pun, dari sabang sampai Merauke. Modularitas PLTS dan teknologi baterai yang bisa menyimpan energi berarti teknologi ini dapat mencapai tempat terpencil (offgrid dan independent) yang tidak terjangkau transmisi listrik PLN.
Biasanya, di lokasi seperti ini, listrik dihasilkan menggunakan bahan bakar diesel dengan teknologi genset (karena dapat bersifat independent) yang notabene mahal, terutama di saat kelangkaan BBM akhir-akhir ini.
Pengalaman saya di industri menyimpulkan bahwa implementasi PLTS dan baterai (10-30 US$ sen per kWh) dapat memangkas biaya listrik lebih dari setengah dibandingkan dengan pembangkit listrik diesel (50-60 US$ sen per kWh).
Sebagai respons, pemerintah telah menargetkan pembangunan PLTS sebesar 100 GW sebagai bentuk quick-win swasembada energi. Namun, walaupun menang dari sisi coverage, PLTS masih memiliki kelemahan di aspek "keandalan." Memang ada teknologi baterai, dan worth it untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel di daerah off-grid, mengingat harga diesel yang mahal.
Untuk jaringan terpusat dengan komparasi harga listrik batubara dan gas yang berharga <10 US$ sen per kWh yang handal, dapat menghasilkan listrik kapan pun asal ada bahan bakarnya, tentu PLTS plus baterai masih belum semurah itu. Mungkin PLTS dapat memakan porsi dari total pembangkit listrik on-grid, namun yang pasti tidak bisa mayoritas. Keandalan dan kestabilan listrik menjadi konsekuensinya.
Kita perlu mencari teknologi yang ramah lingkungan namun handal. Nothing is perfect, sehingga teknologi yang ramah lingkungan dan handal biasanya memiliki trade-off: kompleks sehingga lama di bangun dan dapat berpotensi cost overrun.
Walaupun demikian, kita tidak perlu terburu-buru. PLTS dan BESS menjadi prioritas saat ini, dan upgrade sistem kelistrikan memang butuh waktu. Transisi energi tidak bisa dalam sekejap mata. Yang kita cari adalah solusi jangka panjang.
Pembangkit listrik tenaga geotermal dan nuklir memiliki keandalan yang tinggi, mereka bisa menghasilkan listrik kapan pun, sesuai keinginan kita. Dan seharusnya, kita mulai membangun kapabilitas kelas dunia dan fokus membangun ekosistem kedua teknologi ini.
Geotermal: Energi Bersih dan Stabil yang Hanya Dimiliki Beberapa Negara
Geotermal merupakan sumber energi panas bumi yang notabene untapped dan readily available di bawah permukaan bumi sehingga dapat dikatakan "renewable." Sebagai negara di ring of fire, Indonesia memiliki potensi pembangkit listrik geotermal terbesar ke-2 di dunia.
Selama ini, pengembangan teknologi geotermal sangat menantang. Seperti layaknya minyak dan gas, eksplorasi ladang geotermal memiliki risiko yang tinggi, berbeda dengan PLTS yang bisa langsung bongkar-pasang. Setelah eksplorasi pun, diperlukan pengeboran yang kompleks yang tidak selalu berhasil. Banyak proyek yang mengeluarkan biaya besar tanpa jaminan keberhasilan.
Di akhirnya pun, tidak seperti minyak dan gas, keekonomian proyek geotermal terbatas pada tarif listrik yang tidak sebesar harga minyak dan gas. Waktu pengembangan proyek geotermal juga relatif lama. Dari eksplorasi hingga operasi komersial bisa memakan waktu 5-10 tahun. Risiko tinggi, potensi return tidak sepadan. Hasilnya, investasi lambat.
Padahal, geotermal merupakan sumber daya yang tak dimiliki banyak negara yang memberikan sesuatu yang sangat berharga: listrik yang bersih, stabil, dan dapat diandalkan 24/7 tanpa tergantung cuaca.
Ketika pasar tidak bekerja, tentunya diperlukan inovasi kebijakan dari pemerintah. Tentunya, risiko tinggi yang diemban pengembang perlu di-reward dengan tarif yang tinggi dan bantuan lebih luas pada proses eksplorasi juga dapat dilakukan seperti penerapan cost recovery. Investor tidak akan mau mengambil risiko awal yang "tidak terbatas," untuk return hasil jangka panjang yang "terbatas."
Small Modular Reactors (SMR): Energi Nuklir Tepat Guna Untuk Indonesia
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bekerja dengan cara melakukan proses fisi (pemecahan atom) untuk menghasilkan panas yang digunakan untuk menghasilkan uap panas. Uap panas tersebut memutar turbin dan generator yang menghasilkan listrik.
Pemecahan atom dilakukan dengan uranium. Yang luar biasa, adalah konsentrasi energi dari proses PLTN. Hanya dengan pelet ukuran uranium sebesar anggur sebanyak satu kepal tangan dapat memproduksi listrik ekuivalen dengan satu ton batubara. Sehingga tidak perlu rantai nilai global yang dapat menyebabkan volatilitas seperti sekarang dengan Selat Hormuz.
Jika kita telah menemukan material nuklir seperti uranium lokal (salah satu area potensial adalah di Kalimantan), dan menguasai teknologi pemrosesan (enrichment) bahan baku nuklir, kita tidak perlu logistik jutaan ton BBM yang perlu kita impor.
Di sisi lain, teknologi nuklir juga terus berkembang. Walau masih dalam tahap awal, teknologi Small Modular Reactor (SMR) adalah salah satu teknologi masa depan yang menjanjikan.
SMR adalah reaktor nuklir dengan kapasitas lebih kecil (setengah atau lebih kecil dari PLTN konvensional), modular, dan terstandardisasi. Teknologi SMR dapat menjadi tepat guna di Indonesia yang merupakan negara dengan demand center yang tersebar di berbagai pulau.
Pihak anti-nuklir biasanya berargumen mengenai biaya, keamanan, dan kompleksitas. Dengan SMR yang lebih terstandardisasi, pembangkit akan lebih murah, lebih cepat dibangun (2-3 tahun), dan lebih sederhana dibandingkan dengan PLTN megaproject. Kekuatan intensitas energi uranium digabung dengan efisiensi produksi.
Terkait keselamatan proses dan waste, tidak bisa dipungkiri dibutuhkan SDM dan sistem yang mumpuni. Namun secara jangka panjang, Indonesia dapat membangunnya perlahan. Walau valid, tetapi ketakutan terhadap PLTN mayoritas lebih didominasi oleh faktor psikologis dan radiophobia, didramatisir oleh pop culture seperti seri Chernobyl di HBO.
PLTS plus baterai dalam beberapa tahun ke depan. Bangun cepat, fokus implementasi untuk mengurangi BBM di daerah off-grid. Jangka panjang, dalami teknologi pembangkit geotermal dan nuklir (terutama SMR) untuk perlahan menggantikan baseload energy seperti pembangkit batubara. Saya bisa salah, tapi ini rasanya adalah jalur realistis Indonesia mencapai kemandirian dan keberlanjutan sistem energi.
(miq/miq)