MARKET DATA

206 Juta Barel Minyak Menguap di Hormuz, Setara 103 Menara Eiffel

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
10 April 2026 15:10
Ketergantungan Asia pada Impor Energi dari negara Teluk
Foto: Infografis/ Ketergantungan Asia pada Impor Energi dari negara Teluk/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia- Perang membuat Selat Hormuz mencekam bak neraka.

Langit Teluk masih sama birunya. Lautnya tetap luas, jalur pelayarannya tak berubah.  Yang hilang, kapal-kapal raksasa yang seharusnya mengangkut minyak.

Dalam hitungan satu bulan, pasar global kehilangan volume yang setara dengan 103 kapal tanker raksasa. Bukan metafora kosong. Ini angka riilnya yakni 206 juta barel minyak menghilang dari arus perdagangan dunia antara Februari dan Maret 2026.

Data yang dihimpun KPLER dan divisualkan oleh Al Jazeera (AJLabs) mencatat, total ekspor dari enam negara Arab anjlok dari 469 juta barel menjadi 263 juta barel. Penurunan mencapai 44%

Irak jatuh paling dalam, ekspor dari 94 juta barel tersisa 17 juta barel. Kuwait turun dari 35 juta menjadi 9 juta barel. Qatar kehilangan hampir dua pertiga volumenya, Arab Saudi, jangkar utama pasar minyak global pun terkoreksi dalam, Uni Emirat Arab ikut tertekan, dari 94 juta menjadi 69 juta barel.

Satu pengecualian muncul di Oman, yang justru naik dari 25 juta ke 29 juta barel, beruntungnya, jalur ekspornya berada di luar titik rawan konflik.

Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat jalur pelayaran utama di sekitar Selat Hormuz masuk kategori berisiko tinggi.

Premi asuransi melonjak, operator kapal menahan pergerakan, sebagian pelabuhan mengalami hambatan operasional. Minyak tetap ada di perut bumi, tetapi tak semuanya bisa keluar.

Untuk memahami skalanya, Al Jazeera menggambarkannya dengan satu kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) panjang 330 meter, hampir setinggi Menara Eiffel.

Satu kapal mengangkut sekitar 2 juta barel. Kehilangan 206 juta barel berarti setara 103 VLCC yang tak pernah berlayar.

Satu barel minyak mentah setara 159 liter. Dari jumlah itu, sekitar 43% menjadi bensin, atau kira-kira 73 liter. Volume tersebut bisa membawa sebuah kendaraan hingga 730 kilometer.

Ketika 206 juta barel tak sampai ke kilang, yang hilang bukan hanya komoditas mentas, itu berarti miliaran liter bahan bakar yang tidak pernah diproduksi, penerbangan yang lebih mahal, logistik yang tersendat.

 

Nilai ekonominya langsung terasa. Dengan asumsi harga US$80 per barel, nilai minyak yang hilang mencapai US$16,4 miliar. Pada US$100, nilainya naik ke US$20,6 miliar. Jika pasar bergerak ke US$120, angka kerugian menyentuh US$24,7 miliar. Estimasi ini merujuk pada perhitungan berbasis harga pasar menurut Trading Economics.

Bahkan per hari ini, harga minyak dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Jumat  (10/4/2026), di tengah eskalasi risiko geopolitik yang kembali menjadi perhatian pasar.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 13.52 WIB, Brent berada di level US$96,68 per barel atau melemah 0,8%, sementara West Texas Intermediate (WTI) di US$98,81 per barel atau turun 0,9%.

Sentimen utama datang dari serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi yang memangkas produksi sekitar 600 ribu barel per hari. Selain itu, aliran minyak melalui East-West Pipeline ikut terganggu hingga 700 ribu barel per hari.

Dalam waktu hampir enam pekan konflik berlangsung, sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak dilaporkan tidak beroperasi akibat kerusakan infrastruktur di kawasan Teluk.

Bagi negara pengekspor, ini berarti penerimaan devisa yang menyusut dalam waktu singkat.

Akhirnya, dampak menjalar ke sistem energi global. Pasokan mengetat, volatilitas harga meningkat, pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi.

Negara importir menghadapi tekanan biaya, sementara produsen di luar kawasan konflik mendapatkan ruang untuk mengisi celah. Dalam situasi seperti ini, pasar tidak menunggu stabilitas ia langsung mencari keseimbangan baru.

Krisis ini tidak menghentikan produksi sepenuhnya. Ia mengganggu pergerakan. Minyak tetap dipompa, tetapi perjalanan dari sumur ke konsumen terputus di beberapa titik.

Dalam peta energi global, kehilangan 206 juta barel dalam sebulan membentuk ulang arus perdagangan, menggeser harga, dan menguji ketahanan sistem logistik dunia.

Sebagian muatan yang seharusnya melintas kini hanya tercatat sebagai selisih dan hilang di antara angka.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular