Meski Terlalu Dini, Warning S&P Atas Neraca BUMN Relevan

Opini - , CNBC Indonesia
02 April 2018 11:45
Perusahaan pemeringkat global Standard and Poor's (S&P) baru-baru ini merilis hasil kajiannya terhadap 20 perusahaan BUMN, yang rata-rata membukukan pelemahan rasio kecukupan arus kas (cash-flow adequacy ratio) akibat ambisi infrastruktur pemerintah.

Analis S&P Xavier Jean menyebutkan utang empat BUMN konstruksi melonjak 57% menjadi Rp 156,2 triliun (US$11,3 miliar) tahun lalu. Sementara, rasio utang 20 BUMN terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) naik rata-rata 5 kali, melesat dari rerata 2011 sebesar 1 kali.

Merespon laporan tersebut, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menilai BUMN saat ini justru menunjukkan produktivitas terlihat dari banyaknya proyek yang mereka kerjakan, dan mengklaim risiko yang timbul sebagai "problem of growth". Justru, pemerintah lebih khawatir jika BUMN tidak punya pekerjaan yang digarap di perekonomian.


Untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai kinerja BUMN nasional dan risiko cash flow yang tengah hadapi, kami mengumpulkan dan menelusuri rasio utang ke-20 perusahaan pelat merah yang dimaksud dan mengulasnya dalam laporan berikut ini.

Hanya saja, tidak seperti S&P yang mengukur kesehatan arus kas 20 BUMN nasional dari 2001-2017, kami membatasi rentang waktu penyajian data menjadi 2013-2017, yakni periode sebelum dan setelah pemerintah menggeber keduapuluh BUMN tersebut dalam berbagai proyek yang terkait dengan infrastruktur dan logistik.

Namun sebelumnya, perlu ditekankan bahwa pendekatan untuk mengukur kemampuan perseroan membayar utang, termasuk kesehatan keuangannya, terdiri dari beberapa macam dan tidak hanya rasio 'utang terhadap EBITDA' (debt to EBITDA) seperti yang dipakai S&P. Di luar itu ada indikator lain seperti rasio 'pendapatan operasional bersih terhadap utang jangka pendek (debt service coverage ratio/ DSCR), rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/ DER), dan rasio utang terhadap aset (debt to asset ratio).

Keempat rasio tersebut memiliki fokus sendiri-sendiri terkait dengan going concern sebuah perusahaan. kami membedah keempat rasio tersebut untuk mengukur sejauh mana risiko tersebut perlu diantisipasi pemerintah dan apakah peringatan dini S&P itu terlampau berlebihan. (ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading