Bos-Bos Tambang Tiba-Tiba Tahan Belanja Alat Berat, Ada Apa?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 05/11/2026 12:15 WIB
Foto: PTBA telah mengoperasikan 7 unit Shovel Listrik (PC3000-6E), 40 unit Hybrid Dump Truck (Belaz-75135), dan 6 Pompa Tambang berbasis listrik (Dok PTBA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri perusahaan pembiayaan atau multifinance ikut terkena dampak dari tertahannya ekspansi sektor pertambangan sepanjang 2026. Ketidakpastian perizinan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) membuat sejumlah perusahaan tambang menunda pembelian maupun penggantian alat berat. Akibatnya, penyaluran pembiayaan investasi di sektor ini mengalami tekanan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab pertumbuhan industri multifinance jauh dari target yang ditetapkan pada awal tahun. Pembiayaan investasi, khususnya untuk kebutuhan alat berat, selama ini menjadi salah satu segmen bisnis perusahaan pembiayaan yang menyasar kontraktor dan perusahaan pertambangan.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, ketidakpastian perizinan membuat pelaku usaha pertambangan lebih berhati-hati dalam mengeluarkan belanja modal atau capital expenditure (capex). Meski kegiatan operasional tambang tetap berjalan, perusahaan belum berani melakukan ekspansi besar-besaran sebelum mendapatkan kepastian izin.


"Di pembiayaan investasi, para lessee atau debitur kita banyak yang menahan ekspansi untuk mengganti alat-alat beratnya karena kita banyak pembiayaan alat berat khususnya di sana. Pada awal tahun 2026, banyak kontraktor dan debitur yang ingin menambah atau mengganti alat beratnya, tetapi terhambat dengan bagaimana perizinan RKAB," ujar Suwandi kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/11/2026).

Penundaan investasi tersebut berimbas langsung terhadap permintaan pembiayaan alat berat. Perusahaan tambang harus memperhitungkan kepastian kegiatan usaha sebelum memutuskan menambah aset produksi, terutama karena pembelian alat berat membutuhkan dana investasi yang tidak sedikit.

PTBA telah mengoperasikan 7 unit Shovel Listrik (PC3000-6E), 40 unit Hybrid Dump Truck (Belaz-75135), dan 6 Pompa Tambang berbasis listrik. Foto: PTBA telah mengoperasikan 7 unit Shovel Listrik (PC3000-6E), 40 unit Hybrid Dump Truck (Belaz-75135), dan 6 Pompa Tambang berbasis listrik (Dok PTBA)

"Perizinan RKAB ini masih terus perlu diproses izinnya. Mereka masih tetap bisa bekerja menambang dan sebagainya, namun demikian mereka sangat hati-hati untuk menambah capex. Dengan kehati-hatian ini sendiri, di posisi pembiayaan investasi kita terjadi penurunan secara year-on-year, kontraksi sekitar 4 sampai dengan 5%," katanya.

Tekanan tersebut membuat kinerja pembiayaan investasi menjadi salah satu pemberat pertumbuhan industri multifinance. Situasinya berbeda dengan pembiayaan modal kerja dan multiguna yang masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Perusahaan pembiayaan pun harus menyesuaikan strategi bisnis untuk menghadapi permintaan yang belum pulih.

Di tengah kondisi tersebut, terbitnya izin RKAB untuk 2026 pada Agustus hingga September mulai memberikan ruang bagi perusahaan tambang untuk kembali mempertimbangkan rencana investasi. Namun, dampaknya terhadap penyaluran pembiayaan tidak bisa langsung terlihat dalam waktu singkat karena keputusan pembelian alat berat membutuhkan proses tersendiri.

"Yang membuat kami senang, artinya debitur atau lessee kami sangat mengedepankan asas kehati-hatian dalam mengeluarkan capex sebelum mendapatkan izin RKAB. Nah, izin RKAB ini baru terbit di kisaran antara Agustus-September untuk tahun 2026," ujar Suwandi.

Dengan waktu yang tersisa hingga akhir tahun, perusahaan pembiayaan belum bisa berharap banyak terhadap lonjakan permintaan alat berat secara langsung. Pelaku usaha pertambangan masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan rencana ekspansi dan merealisasikan investasi setelah memperoleh kepastian perizinan.

"Ini mulai masuk pada kita dan tentu tidak akan secepat mungkin menumbuhkembangkan pertumbuhan year-on-year-nya hanya untuk waktu tiga bulan ke depan. Artinya, hanya yang dipakai mungkin alat-alat yang sudah ada," kata Suwandi.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Anti Miskin! 18 Perusahaan Batu Bara RI Ini Untung Besar-Besaran