ESDM Setujui Revisi RKAB 2026 Produksi Batu Bara-Nikel, Ini Jumlahnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk target produksi batu bara dan nikel.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, untuk target produksi batu bara pada revisi RKAB 2026 disetujui mencapai 700 juta ton dan produksi nikel sebesar 290-an juta ton.
"Mudah-mudahan nggak ada hambatan untuk produksi dan lain sebagainya," ungkap Tri saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Adapun, kewajiban alokasi batu bara untuk kepentingan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) khususnya untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero) pada 2026 ini menurutnya telah dialokasikan sebesar 154 juta ton.
Sebelumnya, pemerintah berulang kali menyebutkan bahwa produksi batu bara dalam RKAB 2026 akan dipangkas untuk menjaga harga pasar batu bara dunia tidak terus menurun.
Mulanya, target produksi batu bara pada 2026 dipatok sekitar 600-an juta ton. Lebih rendah dari realisasi produksi batu bara sepanjang 2025 yang mencapai 817,48 juta ton.
Namun pada perjalanannya, pemerintah melakukan revisi RKAB dan membuka peningkatan target produksi batu bara pada tahun ini, seiring dengan bertambahnya kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero).
Pada September 2026 lalu, Tri sempat memperkirakan, produksi batu bara hingga akhir 2026 melalui revisi RKAB ini bisa mencapai sekitar 720 juta ton.
Sementara untuk target produksi nikel dalam RKAB 2026, mulanya pemerintah menargetkan produksi bijih nikel pada 2026 sekitar 250-260 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 yang sebesar 379 juta ton.
Hal ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan batu bara dan nikel di pasar dunia, sehingga pada akhirnya bisa mendongkrak kenaikan harga kedua komoditas ini.