Harga Nikel Turun ke Terendah Tahun Ini, Kebijakan RI Belum Berdampak?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga nikel dunia kembali tertekan dan menyentuh level terendah sepanjang tahun ini bahkan sejak Desember 2025.
Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan global, meskipun Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia telah berupaya membatasi produksi.
Merujuk data Trading Economics pada Kamis (15/10/2026) harga nikel berada di level US$15.137 per ton, melanjutkan tren penurunan setelah sempat mendekati US$20.000 per ton pada Mei 2026.
Trading Economics mencatat harga nikel telah melemah sekitar 5,4% dalam empat pekan terakhir. Tekanan harga terutama dipicu melimpahnya pasokan, sementara prospek permintaan belum cukup kuat untuk menyerap peningkatan produksi global.
Pergerakan Harga Nikel (US$/t) Foto: Trading Economics |
Surplus Nikel Global Diproyeksi Berlanjut Hingga 2027
International Nickel Study Group (INSG) memperkirakan pasar nikel global mengalami surplus sebesar 19.000 ton pada 2026, berbalik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan defisit 32.000 ton.
Dalam proyeksi Oktober 2026, produksi nikel primer global diperkirakan mencapai 3,87 juta ton, sementara konsumsi sebesar 3,85 juta ton. Meski masih surplus, kelebihan pasokan tersebut menyusut tajam dibandingkan 299.000 ton pada 2025, sebelum diperkirakan kembali meningkat menjadi 70.000 ton pada 2027.
Di sisi permintaan, produksi baja tahan karat (stainless steel) global tumbuh 5% secara tahunan pada semester I-2026. INSG memperkirakan sektor ini terus berkembang hingga 2027, sementara penggunaan nikel dalam baterai masih menghadapi persaingan dari teknologi lithium iron phosphate (LFP).
Tekanan harga juga tercermin dari persediaan nikel London Metal Exchange (LME) yang berada di kisaran 283.000 ton pada awal Oktober, berdasarkan data Trading Economics.
Indonesia Batasi Produksi, Impor Bijih Justru Naik
Di tengah kekhawatiran surplus global, Indonesia berupaya mengendalikan pasokan melalui pembatasan produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempertahankan kisaran RKAB nikel 2026 sebesar 260-270 juta ton bijih per tahun. Penambahan kuota hanya dipertimbangkan secara selektif untuk memenuhi kebutuhan smelter yang kekurangan bahan baku.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah menilai kebijakan pengetatan pasokan tersebut telah membantu mengurangi kelebihan pasokan dari tahun-tahun sebelumnya.
Meski demikian, kebutuhan bahan baku industri pengolahan dalam negeri masih tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Reuters, impor bijih nikel Indonesia dari Filipina mencapai 13,52 juta ton sepanjang Januari-Agustus 2026, meningkat 65,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan impor membantu smelter memenuhi kebutuhan bahan baku di tengah pembatasan produksi domestik. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian produksi bijih belum tentu langsung mengurangi pasokan nikel olahan, terutama ketika smelter masih dapat memperoleh bahan baku dari luar negeri.
Produksi Nikel Olahan RI Diperkirakan Turun
Meski impor bijih meningkat, FINI memperkirakan produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 menurun sekitar 3,5-4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, produksi nikel olahan nasional mencapai sekitar 2,5 juta ton kandungan nikel, terdiri dari 2,05 juta ton dalam produk NPI, feronikel, dan matte, serta 450.000 ton dalam produk MHP dan nikel sulfat.
Penurunan produksi tahun ini antara lain dipengaruhi keterbatasan bahan baku, kenaikan harga bijih, kendala pasokan air akibat kekeringan, serta pengalihan sebagian kapasitas energi smelter ke industri aluminium.
Penurunan tersebut diperkirakan bersifat sementara. FINI memproyeksikan produksi kembali meningkat pada 2027 seiring beroperasinya proyek-proyek pengolahan berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL).
Kapasitas produksi MHP sebagai bahan antara industri baterai diperkirakan meningkat dari sekitar 450.000 ton kandungan nikel pada 2025 menjadi lebih dari 900.000 ton pada akhir 2027.
Di tengah tekanan harga dan proyeksi penurunan produksi, pemerintah tetap menargetkan nilai ekspor produk nikel Indonesia mencapai sedikitnya US$45 miliar pada 2026, dibandingkan capaian lebih dari US$40 miliar pada 2025.
Target tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia pada Rabu (14/10/2026). Pelemahan harga nikel menjadi tantangan karena nilai ekspor dipengaruhi harga jual, volume pengiriman, dan jenis produk yang diekspor.
Bagaimana Prospek Harga Nikel?
Ke depan, perkembangan harga nikel masih akan dipengaruhi pertumbuhan permintaan global, khususnya dari industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik.
Di sisi pasokan, rencana ekspansi smelter Indonesia pada 2027 berpotensi kembali meningkatkan produksi nikel olahan. Kondisi ini perlu dicermati karena pasar global masih diproyeksikan mengalami surplus.
Bagi perusahaan tambang dan pengolahan nikel Indonesia, pelemahan harga berisiko menekan pendapatan dan margin keuntungan, terutama ketika biaya bahan baku dan energi masih tinggi.
Dengan demikian, tantangan industri nikel Indonesia bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi dan nilai ekspor, tetapi juga menjaga efisiensi serta memastikan ekspansi industri hilirisasi sejalan dengan kebutuhan pasar global.
(slm/slm)