Ekonomi RI Jelang Rilis PDB, 3 Indikator Ini Kompak Menguat

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Selasa, 03/11/2026 07:25 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan signifikan menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia melonjak menjadi 54,0 pada Oktober 2026, mencatatkan ekspansi terkuat dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, capaian tersebut menjadi salah satu sinyal positif ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Penguatan manufaktur juga berjalan beriringan dengan inflasi yang terjaga dan neraca perdagangan yang kembali mencatatkan surplus.

"Fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).


PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober naik dari 52,4 pada September menjadi 54,0. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.

Capaian tersebut menandai ekspansi selama dua bulan berturut-turut sekaligus menjadi perbaikan kondisi manufaktur paling kuat sejak Maret 2024.

Penguatan terutama ditopang oleh peningkatan permintaan baru yang mencapai laju tercepat dalam lima tahun terakhir. Bahkan, pertumbuhan pesanan ekspor baru mencatatkan rekor tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011.

Meningkatnya permintaan tersebut turut mendorong aktivitas produksi tumbuh paling kuat sejak Maret 2024. Pelaku industri juga meningkatkan pembelian bahan baku dan mengakumulasi persediaan untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Optimisme dunia usaha terhadap prospek manufaktur dalam 12 bulan mendatang pun masih terjaga. Pemerintah menilai akselerasi permintaan dari dalam maupun luar negeri menjadi modal bagi penguatan kinerja industri ke depan.

Di sisi lain, kinerja sektor eksternal juga menunjukkan perkembangan positif. Neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatatkan surplus US$3,36 miliar, melanjutkan surplus selama tiga bulan berturut-turut.

Surplus tersebut ditopang nilai ekspor yang mencapai US$27,59 miliar, tumbuh 3,68% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 11,87% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kenaikan ekspor antara lain didorong oleh peningkatan harga sejumlah komoditas utama Indonesia, seperti batu bara, gas alam, minyak kelapa sawit, karet alam, bijih besi, dan tembaga.

Pemerintah melihat prospek ekspor masih terbuka seiring berlanjutnya program hilirisasi dan membaiknya kondisi perekonomian negara mitra dagang utama. Upaya memperluas pasar juga dilakukan melalui 25 perjanjian perdagangan internasional yang telah diimplementasikan, sementara 13 perjanjian lainnya masih dalam proses perundingan.

Indonesia juga akan segera memberlakukan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), yang diharapkan membuka peluang pasar lebih luas bagi produk nasional di Uni Eropa.

Adapun nilai impor September tercatat sebesar US$24,23 miliar. Impor barang baku dan penolong meningkat 3,12% mtm dan 24,65% yoy. Sementara itu, impor barang modal naik 12,14% mtm dan 1,25% yoy.

Peningkatan impor kedua kelompok barang tersebut mencerminkan kebutuhan industri terhadap input produksi, mesin, dan peralatan untuk mendukung aktivitas serta kapasitas produksi.

Sementara itu, impor migas turun 7,35% mtm menjadi US$3,27 miliar. Pemerintah mengaitkan penurunan tersebut dengan upaya menjaga ketahanan energi, termasuk melalui implementasi mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026.

Inflasi Masih Terkendali

Dari sisi stabilitas harga, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23% yoy. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% plus minus 1%.

Inflasi inti melandai menjadi 2,56% yoy, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices/AP) tercatat sebesar 3,24% yoy.

Namun, tekanan harga pada kelompok pangan bergejolak (volatile food/VF) meningkat menjadi 5,81% yoy. Kenaikan ini dipengaruhi harga komoditas hortikultura, terutama cabai rawit, cabai merah, dan tomat, di tengah penurunan produksi seiring fenomena El Niño yang memperpanjang musim kemarau.

Pemerintah menyatakan akan memperkuat antisipasi gangguan produksi dan distribusi pangan, terutama menjelang periode Natal dan Tahun Baru. Langkah yang disiapkan antara lain optimalisasi pengelolaan air dan jaringan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, serta penguatan sistem peringatan dini.

Koordinasi distribusi antardaerah juga akan diperkuat melalui optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD), disertai pemantauan harga dan ketersediaan pangan.

Airlangga mengatakan pemerintah akan melanjutkan berbagai instrumen pembiayaan dan insentif untuk memperkuat kapasitas produksi dan investasi, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Alsintan, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), dan Kredit Program Perumahan.

Pemerintah juga mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui program magang dan pelatihan vokasi untuk memenuhi kebutuhan industri.

"Pemerintah memastikan inflasi tetap terkendali agar daya beli masyarakat terjaga dan dunia usaha memiliki kepastian dalam menjalankan aktivitasnya," kata Airlangga.

Berbagai indikator tersebut menjadi modal positif menjelang rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 pada 5 November mendatang. Namun demikian, kinerja PMI, perdagangan, dan inflasi belum dengan sendirinya menggambarkan besaran pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada periode tersebut.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Aktivitas Manufaktur China Terkontraksi di Oktober 2026