MARKET DATA

Kantor Purbaya Beberkan Kabar Ekonomi RI: PMI Naik, Inflasi Turun

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
04 August 2026 08:10
Gedung Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak, Selasa (17/11/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Gedung Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak, Selasa (17/11/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansif pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya. Di saat yang sama, inflasi tahunan juga melandai, meski pemerintah tetap mewaspadai munculnya defisit neraca perdagangan akibat lonjakan impor.

Berdasarkan rilis Kementerian Keuangan, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni 2026. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi.

Perbaikan kinerja manufaktur ditopang oleh meningkatnya produksi serta penambahan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan. Meski demikian, pemulihan permintaan dinilai masih berlangsung secara bertahap sehingga penguatan sektor manufaktur tetap membutuhkan dukungan daya beli masyarakat, peningkatan daya saing industri, dan keberlanjutan permintaan ekspor.

Kinerja manufaktur Indonesia juga sejalan dengan perbaikan yang terjadi di sejumlah negara mitra dagang utama. PMI manufaktur Thailand tercatat di level 54,2, Jepang 54,5, Amerika Serikat 53,8, Vietnam 52,9, dan Malaysia 50,7 pada Juli 2026.

Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 8,84% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$25,46 miliar. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas, khususnya komoditas batu bara serta minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya.

Namun, impor tumbuh lebih tinggi, yakni 34,27% (yoy) menjadi US$25,91 miliar. Kenaikan impor terutama berasal dari kelompok nonmigas, dengan peningkatan terbesar pada bahan baku/penolong dan barang modal.

Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit tipis sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Meski demikian, secara kumulatif Januari-Juni 2026 Indonesia masih membukukan surplus perdagangan sebesar US$3,58 miliar.

"Defisit neraca perdagangan menjadi sinyal untuk terus mencermati dinamika permintaan global dan perkembangan impor, terutama harga minyak dan gas dunia," tulis Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Sementara itu, tekanan inflasi menunjukkan tren mereda. Inflasi Juli 2026 tercatat sebesar 2,88% (yoy), turun dari 3,34% pada Juni 2026.

Penurunan inflasi terutama dipicu oleh melandainya inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food). Inflasi volatile food turun menjadi 2,52% (yoy) dari sebelumnya 5,58% seiring melimpahnya pasokan hasil panen hortikultura.

Di sisi lain, DJSEF mengungkapkan inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices) sedikit meningkat menjadi 3,58% (yoy) dari 3,42% pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh transmisi harga BBM nonsubsidi dan tarif angkutan udara.

Adapun inflasi inti tercatat stabil di level 2,76% (yoy). Stabilnya inflasi inti mencerminkan permintaan domestik yang masih terjaga meskipun terdapat tekanan dari kenaikan harga komoditas global dan imported inflation pada beberapa produk, seperti telepon seluler dan pelumas.

DJSEF juga mencatat sejumlah indikator domestik masih menunjukkan kondisi ekonomi yang solid. Penjualan mobil tumbuh 32,9%, sementara penjualan sepeda motor naik 1,1%.

Konsumsi BBM meningkat 6,5%, dengan konsumsi BBM ritel dan industri masing-masing tumbuh 8,0% dan 8,3%. Penjualan semen domestik juga tumbuh 13,5%, sedangkan penjualan listrik meningkat 10,8%.

Dari sisi sentimen masyarakat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bertahan di level optimistis 117,8. Angka tersebut ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 109,2 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 126,4.

"Pemerintah menegaskan akan terus menjaga stabilitas makroekonomi melalui kebijakan yang responsif dan terukur," tulis DJSEF.

Adapun, fokus kebijakan diarahkan pada pengendalian inflasi, penguatan daya beli masyarakat, peningkatan daya saing industri manufaktur, serta menjaga kinerja perdagangan dan investasi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Gambaran Ekonomi RI di Pertengahan 2026: Alarm Mulai Berdering


Most Popular
Features