MARKET DATA

Kantor Premium di Jantung Bisnis Jakarta Padat-Laku Keras, Tanda Apa?

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
09 October 2026 07:15
Kawasan SCBD. (Dok. scbd.com)
Foto: Kawasan SCBD. (Dok. scbd.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski lajunya belum merata di seluruh kawasan. Salah satu titik yang mencatat perbaikan paling kuat adalah Sudirman Central Business District (SCBD), dengan tingkat hunian ruang kantor mencapai sekitar 87% pada kuartal III-2026.

"SCBD ini menawarkan kombinasi yang sekarang semakin dicari oleh tenant. Jadi di sana banyak gedung-gedung yang memang berkualitas, kemudian akses transportasi publik juga oke, kemudian di sana ada pusat perbelanjaan, hotel, ada F&B, dan berbagai fasilitas dalam satu kawasan terintegrasi," ungkap Kepala Departemen Riset (Head of Research) Colliers Indonesia Ferry Salanto dikutip Jumat (9/10/26).

Meski demikian, tingginya okupansi SCBD tidak berarti persoalan kelebihan pasokan kantor Jakarta telah selesai. Secara keseluruhan, masih terdapat sekitar 3 juta meter persegi ruang kantor yang kosong, terdiri dari sekitar 1,75 juta meter persegi di kawasan CBD dan 1,26 juta meter persegi di luar CBD.

Persoalannya, ruang kosong tersebut belum tentu sesuai dengan kriteria yang dicari perusahaan. Dari total pasokan yang tersedia, ruang kosong pada gedung premium di CBD Jakarta sekitar 128.000 meter persegi, sedangkan ruang kosong gedung Grade A mencapai sekitar 873.000 meter persegi.

"Jadi meskipun secara agregat Jakarta masih memiliki banyak pilihan ruang kantor, pilihan untuk gedung yang benar-benar kualitas premium itu mulai jauh lebih terbatas," kata Ferry.

Perubahan perilaku perusahaan juga ikut menopang permintaan. Jika sebelumnya banyak perusahaan melakukan downsizing atau mengurangi luas ruang kantor setelah pandemi, kini pola tersebut mulai bergeser. Sejumlah perusahaan justru berpindah lokasi untuk mendapatkan gedung yang lebih sesuai dengan kebutuhan bisnisnya.

"Intinya Jakarta itu belum kekurangan ruang kantor, tapi mulai kekurangan ruang kantor yang memang diminati. Permintaan makin mengarah ke gedung berkualitas yang memenuhi standar green building dan kebutuhan ESG perusahaan," kata Ferry.

Permintaan tersebut antara lain datang dari sektor energi, teknologi informasi, logistik hingga consumer goods. Perusahaan-perusahaan dari sektor tersebut mulai melakukan relokasi maupun ekspansi secara selektif, sehingga gedung dengan kualitas dan lokasi yang lebih baik memiliki posisi tawar yang semakin kuat.

Sejumlah gedung premium di SCBD bahkan telah mencatat tingkat okupansi di atas 90%. Kondisi tersebut membuat pemilik gedung memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan tarif sewa dan mengurangi berbagai insentif yang sebelumnya banyak digunakan untuk menarik penyewa.

"Jadi meskipun secara agregat Jakarta masih memiliki banyak pilihan ruang kantor, pilihan untuk gedung yang benar-benar kualitas premium itu mulai jauh lebih terbatas," kata Ferry.

Tingkat hunian SCBD tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan sejumlah lokasi perkantoran utama Jakarta lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin selektif dalam menentukan lokasi kantor, terutama ketika harus mempertimbangkan akses, kualitas bangunan dan efisiensi operasional dalam jangka panjang.

"Dan kemudian kita perkirakan demand untuk (ruang kantor) SCBD masih tetap ada karena memang secara lokasi itu banyak sekali perusahaan multinasional ingin berada di SCBD karena aksesibilitasnya banyak, bebas out and even (ganjil-genap) gitu kan," ujar Senior Director of Office Services Colliers Indonesia Bagus Adikusumo.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Penjualan Rumah Baru Tiba-Tiba Bangkit dari Kubur, Ada Apa?


Most Popular
Features