CLOSE AD
MARKET DATA

Tanda-tandanya Muncul di Mal, Fenomena Rojali-Rohana Serang RI Lagi?

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
07 October 2026 19:30
Pengunjung melihat produk yang dijual pada salah satu tenan di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (26/3/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Pengunjung melihat produk yang dijual pada salah satu tenan di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (26/3/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pusat perbelanjaan di Jakarta masih terlihat ramai pada kuartal III-2026. Masyarakat tetap datang ke mal untuk makan, mencari hiburan, rekreasi maupun bersosialisasi, tetapi keramaian tersebut belum tentu berujung pada transaksi yang lebih tinggi.

Kepala Departemen Riset (Head of Research) Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan tantangan industri retail kini bukan sekadar mendatangkan pengunjung, tetapi mengubah traffic tersebut menjadi transaksi dan meningkatkan nilai belanja.

"Kalau kita berkunjung ke beberapa mall yang ada di Jakarta sekarang mungkin secara kasat mata kondisinya terlihat cukup positif. Mall-nya ramai, restoran-nya penuh, terus banyak orang datang bersama keluarga dan aktivitasnya kelihatannya kembali normal. Tapi ada satu hal yang perlu kita bedakan, ramainya pengunjung itu belum tentu berarti ramai terjadi transaksi," kata Ferry, Rabu (7/10/26).

Fenomena tersebut memiliki kemiripan dengan kondisi yang ramai dibicarakan pada 2025 lalu dengan istilah Rojali atau rombongan jarang beli dan Rohana atau rombongan hanya nanya. Saat itu, pelaku usaha mencatat jumlah pengunjung mal tetap meningkat, tetapi transaksi tidak selalu mengikuti kenaikan trafik karena masyarakat semakin selektif dalam berbelanja.

Pola konsumsi tersebut kini membuat ukuran kesehatan sebuah pusat perbelanjaan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah pengunjung.

"Traffic atau footfall itu memang relatif terjaga. Mal tetap menjadi destinasi, baik untuk makan, cari entertainment, rekreasi atau bersosialisasi. Tapi konsumen sekarang memang jauh lebih selektif dalam menentukan kapan mereka belanja dan apa yang mereka beli," ujarnya.

Dia mengatakan kondisi tersebut bahkan dapat terlihat di sektor makanan dan minuman. Tingginya jumlah pengunjung belum tentu membuat nilai transaksi meningkat karena konsumen bisa tetap datang ke mal tetapi mengeluarkan uang lebih sedikit.

"Bahkan di sektor F&B atau makanan, traffic yang tinggi juga tidak selalu berarti nilai transaksi meningkat. Orang mungkin datang dan makan di mal, tapi average spending-nya juga bisa lebih rendah," jelas Ferry.

Karena perubahan perilaku konsumen tersebut, pengelola mal dituntut melakukan pembaruan yang lebih mendasar. Menurut Ferry, rejuvenation tidak cukup dilakukan dengan mempercantik tampilan fisik pusat perbelanjaan.

"Karena itu menurut kami ukuran kesehatan mal itu sekarang tidak cukup dari traffic saja. Rejuvenation atau upgrade mal itu menjadi penting. Dan, rejuvenation yang kita maksud bukan sekadar ganti lantai, dibikin lighting atau mempercantik interior, tapi yang jauh lebih penting adalah repositioning," tuturnya.

Fokus peritel kini bergeser dari mengejar jumlah lokasi menjadi mengejar kinerja masing-masing lokasi. Ukuran toko juga semakin fleksibel untuk menyesuaikan potensi penjualan dan biaya operasional.

"Jadi fokusnya bergeser dari jumlah lokasi menjadi kinerja setiap lokasi. Kalau dulu pertanyaannya adalah berapa outlet yang bisa kita buka, sekarang lebih banyak menjadi di lokasi mana outlet kita bisa menghasilkan kinerja yang terbaik," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 407 Mal di RI Geber Diskon 17 Hari, Bos Pengusaha Incar Omzet Rp38 T


Most Popular
Features