Simalakama Gen Z: Beli Rumah-Gagal Bayar Cicilan Vs Kantong Tak Bolong
Jakarta, CNBC Indonesia - Generasi Z menghadapi dilema ketika ingin memiliki rumah. Di satu sisi, rumah tetap menjadi kebutuhan dan bagian dari rencana hidup jangka panjang. Namun di sisi lain, mengambil KPR berarti harus siap mengunci sebagian pendapatan untuk cicilan selama bertahun-tahun.
Kondisi tersebut ikut menjadi sorotan di tengah realisasi penyaluran rumah subsidi yang masih jauh dari target pemerintah. Hingga akhir kuartal III 2026, Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) baru tersalurkan 160.070 unit atau 45,73% dari target 350.000 unit.
Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai kondisi tersebut tidak tepat jika langsung dikaitkan dengan anggapan bahwa Gen Z lebih memilih menghabiskan uang untuk liburan atau mencari pengalaman dibanding membeli rumah.
"Harus hati-hati menyimpulkan penurunan jumlah rumah subsidi karena Gen Z lebih memilih lifestyle untuk berlibur daripada membeli rumah. Menurut saya enggak sesimpel itu. Persoalan yang lebih fundamental adalah affordability dan bankability, yaitu kemampuan mereka dan apakah mereka layak dinilai oleh bank untuk bisa mencicil," ujar Ferry dalam konferensi pers Colliers, Rabu (7/10/2026).
Bagi kelompok usia muda, persoalannya bukan sekadar menemukan rumah dengan harga yang sesuai. Mereka juga harus menghitung kemampuan menyediakan uang muka, biaya transaksi, hingga memastikan cicilan bulanan tidak membuat keuangan sehari-hari terlalu tertekan.
"Setiap orang pasti punya keinginan untuk memiliki rumah, tetapi masalahnya kemampuan untuk masuk ke pasar perumahan ini memang semakin sulit dan semakin berat. Jadi bukan hanya soal harga rumahnya, tapi juga kemampuan menyediakan uang muka, biaya transaksi, kemudian apakah mereka bisa konsisten mencicil setiap bulannya, dan yang paling penting apakah mereka dinilai layak oleh bank," kata Ferry.
Dilema semakin besar bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja. Pendapatan masih berada pada tahap awal pertumbuhan, sementara biaya hidup terus berjalan dan kebutuhan sehari-hari tidak bisa dihentikan hanya karena seseorang ingin mengejar kepemilikan rumah.
"Kalau dalam kelompok konsumen usia muda, persoalannya memang lebih terasa karena banyak yang masih berada pada tahap awal karier. Pertumbuhan pendapatannya juga belum tentu sejalan dengan kenaikan biaya hidup. Karena masih awal karier, persoalan bankability atau kelayakan di bank itu jadi lebih berat," tutur Ferry.
Di tengah kondisi tersebut, menjaga agar kantong tetap aman menjadi pertimbangan penting sebelum mengambil KPR. Sebab, persoalan pembiayaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membayar cicilan pada bulan pertama, tetapi juga kemampuan mempertahankannya dalam jangka panjang.
Riwayat keuangan juga dapat menentukan peluang Gen Z mendapatkan KPR. Pinjaman konsumtif hingga pinjaman online dapat masuk dalam penilaian bank dan berpotensi memengaruhi kelayakan calon debitur.
Meski demikian, keinginan memiliki rumah tidak hilang begitu saja. Generasi muda hanya perlu menata ulang prioritas antara kebutuhan hidup saat ini dengan komitmen finansial untuk memiliki rumah di masa depan.
"Pada dasarnya setiap manusia yang sudah punya rencana untuk berkeluarga dan menjadi pribadi yang lebih baik, pasti membutuhkan perumahan. Jadi menurut saya bukan berarti mereka tidak tertarik membeli rumah, tetapi mereka harus melakukan penyesuaian prioritas karena membeli rumah membutuhkan komitmen finansial yang jauh lebih besar dan jangka panjang," ujar Ferry.