CLOSE AD
MARKET DATA

Fenomena Gen Z "Malas" Beli Rumah, Ternyata Biang Keroknya Numpuk

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
07 October 2026 12:35
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau se
Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyaluran rumah subsidi hingga memasuki akhir kuartal III 2026 masih jauh dari target pemerintah. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai melemahnya minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki rumah.

Realisasi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tercatat sebanyak 160.070 unit atau baru 45,73% dari target 350.000 unit hingga akhir triwulan III. Dari jumlah tersebut, hanya 17 unit yang merupakan hunian vertikal, sementara mayoritas merupakan rumah tapak.

Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai penurunan penjualan rumah subsidi tidak tepat jika hanya dikaitkan dengan perubahan gaya hidup generasi Z yang disebut lebih gemar menghabiskan uang untuk liburan atau mencari pengalaman.

"Harus hati-hati menyimpulkan penurunan jumlah rumah subsidi karena Gen Z lebih memilih lifestyle untuk berlibur daripada membeli rumah. Menurut saya enggak sesimpel itu. Persoalan yang lebih fundamental adalah affordability dan bankability, yaitu kemampuan mereka dan apakah mereka layak dinilai oleh bank untuk bisa mencicil," ujar Ferry dalam konferensi pers Colliers, Rabu (7/10/26).

Persoalan tersebut tidak berhenti pada harga rumah yang harus dibayar calon pembeli. Uang muka, biaya transaksi, kemampuan membayar cicilan secara konsisten, hingga penilaian bank terhadap profil calon debitur menjadi bagian dari beban yang harus dihadapi pembeli rumah muda.

"Setiap orang pasti punya keinginan untuk memiliki rumah, tetapi masalahnya kemampuan untuk masuk ke pasar perumahan ini memang semakin sulit dan semakin berat. Jadi bukan hanya soal harga rumahnya, tapi juga kemampuan menyediakan uang muka, biaya transaksi, kemudian apakah mereka bisa konsisten mencicil setiap bulannya, dan yang paling penting apakah mereka dinilai layak oleh bank," kata Ferry.

Tekanan tersebut semakin terasa bagi kelompok konsumen berusia muda yang masih berada di tahap awal karier. Pada fase ini, pendapatan belum tentu tumbuh secepat biaya hidup, sementara kebutuhan pembiayaan rumah membutuhkan komitmen jangka panjang.

"Kalau dalam kelompok konsumen usia muda, persoalannya memang lebih terasa karena banyak yang masih berada pada tahap awal karier. Pertumbuhan pendapatannya juga belum tentu sejalan dengan kenaikan biaya hidup. Karena masih awal karier, persoalan bankability atau kelayakan di bank itu jadi lebih berat," tutur Ferry.

Selain kemampuan pendapatan, riwayat keuangan juga dapat menjadi hambatan ketika calon pembeli mengajukan KPR. Pinjaman konsumtif maupun keterlibatan dalam pinjaman online dapat memengaruhi penilaian bank terhadap kemampuan seseorang memperoleh pembiayaan rumah.

Di sisi lain, gaya hidup generasi muda tetap menjadi bagian dari dinamika daya beli. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari, perjalanan, hingga pengalaman membuat calon pembeli perlu mengatur kembali prioritas keuangan ketika harus mengambil komitmen pembelian rumah dalam jangka panjang.

"Pada dasarnya setiap manusia yang sudah punya rencana untuk berkeluarga dan menjadi pribadi yang lebih baik, pasti membutuhkan perumahan. Jadi menurut saya bukan berarti mereka tidak tertarik membeli rumah, tetapi mereka harus melakukan penyesuaian prioritas karena membeli rumah membutuhkan komitmen finansial yang jauh lebih besar dan jangka panjang," ujar Ferry.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Fenomena Ramai Orang Tua Datangi Pameran Efek Gen Y-Z Malas Beli Rumah


Most Popular
Features