Ekonomi ASEAN 2026: Vietnam Juara-Thailand Paling Parah, RI Gimana?
Jakarta, CNBC Indonesia - Vietnam menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ASEAN menurut proyeksi Bank Dunia pada 2026 dan 2027.
'Negeri Naga Biru' tersebut diperkirakan ekonominya tumbuh 7,4% pada 2026 dan 7,3% pada 2027 ditopang oleh industri manufaktur dan ekspor barang-barang yang berkaitan dnegan teknologi kecerdasan buatan (AI).
"Manufaktur dan ekspor barang-barang berteknologi tinggi serta produk terkait kecerdasan buatan (AI) telah menopang pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan belakangan ini, dan tren tersebut diproyeksikan akan berlanjut," ujar Bank Dunia dalam Laporan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia edisi Oktober 2026, dikutip pada Rabu (7/10/2026).
Aktivitas ekonomi juga diperkirakan akan mendapat dorongan dari peningkatan stimulus domestik yang bersumber pada reformasi struktural dan perluasan investasi publik.
"Setelah melalui masa konsolidasi selama beberapa tahun, posisi fiskal diperkirakan akan tetap mengalami defisit sepanjang periode proyeksi."
Bank Dunia pun memperkirakan inflasi di Vietnam mencapai rata-rata 4,2 persen pada tahun 2026 akibat kenaikan biaya bahan bakar, perumahan, dan utilitas. Setelah Vietnam, Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ASEAN.
Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2%. Sebelumnya pada edisi April Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 4,7% pada laporan Edisi April 2026. Artinya ada revisi peningkatan pertumbuhan sebesar 0,5%. Sementara pada 2027, pertumbuhan ekonomi diperkirakan stabil di 5,2%.
Aktivitas ekonomi Indonesia didukung oleh peningkatan pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, investasi yang terkait dengan negara, serta subsidi energi.
Selanjutnya, ada Malaysia dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1% pada 2026 dan 4,7% pada 2027 yang didorong oleh permintaan domestik. Ekonomi 'Negeri Jiran' pun didukung inflasi yang diproyeksikan tetap relatif stabil karena subsidi bahan bakar yang bersifat tepat sasaran mampu membatasi dampak kenaikan harga energi terhadap rumah tangga.
Laos menempati peringkat empat negara ASEAN dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi menurut Bank Dunia tertinggi dengan 4,1% pada 2026 dan 3,7% pada 2027. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kinerja pembangkit listrik yang kuat dan arus masuk investasi.
Timor Leste masuk lima besar negara ASEAN dengan prakiraan pertumbuhan ekonomi tertinggi menurut Bank Dunia dengan 4,1% pada 2026 dan 3,8% pada 2027.
Bank dunia menyebut proyeksi pada 2026 melambat dibandingkan 2025 sebesar 4,5% seiring berakhirnya langkah-langkah belanja publik yang bersifat sementara. Selain itu, penutupan ladang minyak bumi terakhir yang masih berproduksi di negara tersebut pada tahun 2025 menandai berakhirnya aliran pendapatan minyak bumi yang selama dua dekade terakhir telah membiayai negara dan menopang pertumbuhan ekonomi.
Kemudian Filipina diproykesikan akan mencapai pertumbuhan ekonomi 3,7% pada 2026 dan meningkat pada tahun berikutnya menjadi 5,2%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Filipina pada 2026 turun dibandingkan realisasi 2025 sebesar 4,4%. Penyebabnya adalah melemahnya permintaan domestik yang memperlebar kesenjangan output negatif.
Selain itu, tekanan akibat tingginya harga energi diperkirakan akan mendorong inflasi hingga 5,8 persen pada tahun 2026, yang melemahkan daya beli rumah tangga dan meningkatkan biaya produksi, sementara lemahnya investasi publik dan kepercayaan pelaku usaha akan menghambat laju pertumbuhan investasi.
Kemudian, ada Kamboja dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 3,5% pada 2026 dan meningkat 4% pada 2027. Proyeksi ini pun melambat dari realisasi 2025 sebesar 5,3% akibat kontraksi pada konsumsi swasta. Selain itu ada faktor penurunan arus remitansi, tingginya inflasi, dan lambatnya pertumbuhan kredit, yang secara signifikan membatasi daya beli rumah tangga.
Myanmar dan Thailand menjadi dua negara dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi terendah di ASEAN, masing-masing 2% pada 2026. Sementara pada 2027, ekonomi Myanmar diperkirakan tumbuh 2,5% dan Thailand 2,3%.
Perlambatan ekonomi terjadi di Thailand dari pertumbuhan 2,4% pada 2025 seiring dampak tingginya harga energi terhadap sektor pariwisata dan logistik.
Di sisi lain, ekonomi Myanmar diiringi kisah pembalikan keadaan dari negatif 1,3% pada 2025. Ekonomi Myanmar pulih didukung oleh upaya rekonstruksi dan adaptasi dunia usaha yang berjalan secara bertahap. Namun, konflik yang berkepanjangan, kekurangan pasokan listrik, kendala tenaga kerja, pembatasan valuta asing, dan lemahnya permintaan domestik diperkirakan akan membuat tingkat aktivitas ekonomi tetap jauh di bawah kondisi sebelum krisis.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]