Presiden Iran "Tampar" Trump Bertubi-tubi di PBB, Ini Pernyataannya
8.Sistem Pertahanan untuk Mempertahankan Negara
Pezeshkian juga mengatakan pembangunan sistem pertahanan merupakan bagian dari upaya mencegah serangan terhadap wilayah Iran. Ia menegaskan keputusan untuk mempertahankan negaranya tidak bergantung pada persetujuan negara lain.
Menurutnya, kemampuan pertahanan diperlukan agar pihak lain tidak menganggap serangan terhadap kota-kota Iran dapat dilakukan tanpa konsekuensi.
"Mengenai pertahanan Iran, sistem pertahanan kami dibangun agar tidak ada yang bisa berpikir bahwa pengeboman terhadap kota-kota Iran akan dibiarkan tanpa balasan. Itulah sebabnya kami memiliki kekuatan militer, untuk pertahanan," ujarnya.
"Namun kami menyatakan dengan jelas, untuk mempertahankan negara kami, kami tidak meminta izin atau persetujuan siapa pun," tambahnya.
9.Kami Memiliki Tetangga-Tetangga yang Kuat
Presiden Iran mengatakan keamanan kawasan seharusnya tidak dibangun melalui persaingan antarnegara, melainkan melalui kerja sama negara-negara di kawasan. Ia menegaskan Iran tidak ingin keamanan negaranya dibangun dengan mengorbankan keamanan negara tetangga.
Ia juga menolak keterlibatan kekuatan asing. Menurutnya dapat digunakan untuk mengancam negara-negara lain di kawasan.
"Kita hidup di kawasan di mana peperangan tidak mengenal batas, di mana krisis di satu wilayah akan meluas ke negara-negara sekitarnya," katanya.
"Itulah sebabnya Iran tidak melihat para tetangganya sebagai pesaing keamanan," tegasnya.
"Kami ingin memiliki tetangga-tetangga yang kuat."
10.Selat Hormuz
Ia pun menyinggung posisi strategis Selat Hormuz dan akses terhadap jalur pelayaran tersebut. Ia menolak situasi ketika jalur air itu digunakan untuk memberikan tekanan kepada Iran sekaligus menjadi jalur pengiriman senjata dan teknologi militer.
Ia memperingatkan bahwa meluasnya konflik justru dapat meningkatkan ketidakamanan bagi negara-negara pesisir di kawasan.
"Di perairan Selat Hormuz, kami tidak bisa membiarkan beberapa pihak memiliki akses bebas dan mengambil keuntungan dari jalur air tersebut, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur air itu untuk memaksakan agresi dan ketidaknyamanan kepada kami, serta melarang akses kami ke jalur air kami sendiri," tegasnya.
"Mereka menutup akses untuk kami, namun mereka terus memasok rudal dan teknologi militer mematikan untuk membawa ketidaknyamanan ke seluruh daratan di sekitar jalur air itu," jelasnya.
"Kami tidak akan menyerah pada hal itu. Perluasan peperangan tidak akan menghasilkan keamanan. Tidak ada yang boleh menciptakan kekacauan bagi negara-negara pesisir yang sedang mencari keamanan laut."
11.Palestina dan Gaza adalah Luka Terbuka
Sementara itu soal Palestina juga disinggung Pezeshkian. Ia mengatakan Palestina menjadi luka terbuka pada hati nurani masyarakat internasional dan Gaza tetap menjadi simbol kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil.
"Selama puluhan tahun resolusi-resolusi telah disahkan, namun pendudukan dan kekerasan terus berlanjut," katanya.
"Kita tidak dapat berbicara tentang perdamaian sambil mengabaikan Palestina. Perdamaian yang abadi di Asia Barat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Palestina. Selama pendudukan, agresi, dan ketidakadilan terus berlanjut di dunia, perlawanan akan terus berlanjut. Jika dilemahkan dalam satu bentuk, ia akan muncul kembali di bentuk lain, mungkin lebih kuat lagi," ujarnya.
"Gaza, terlepas dari pembunuhan tanpa henti dan kehancuran yang meluas, justru telah memperkuat keyakinan rakyat pada perlawanan, dan perlawanan tidak dapat dihancurkan oleh bom dan pengepungan. Ini adalah sifat manusia; jika manusia diusir dari tanahnya, mereka akan melawan. Jika rumah mereka menjadi sasaran pengeboman dan agresi, mereka akan melawan. Pilihan apa lagi yang mereka miliki? Menyerah pada intimidasi, diusir dari rumah dan tanah mereka, lalu diam saja menghadapi ancaman dan bahaya ini? Dan ketika mereka membela diri, mereka malah dilabeli teroris. Bahasa ini, sayangnya, memperjelas jenis dunia yang kita tinggali saat ini."
12. Standar Tunggal dan Jangan Ada Kelompok Istimewa
Ia mengatakan harus ada standar tunggal untuk semua. Sehingga tidak ada kelompok yang istimewa.
"Jika kita mencari perdamaian dan stabilitas sejati, kita harus menerapkan standar tunggal untuk semua. Iran tidak meminta perlakuan khusus, kami menuntut hak-hak yang setara dan kami memikul tanggung jawab yang menyertainya," katanya.
"Namun, selama sejarahnya yang penuh kebanggaan, Iran telah mempelajari pelajaran ini: dunia tanpa kekuatan adalah berbahaya, tetapi dunia yang hanya memahami bahasa perang dan penindasan tidak akan aman," tambahnya.
"Ketika kita berusaha melaksanakan agenda-agenda yang hanya menguntungkan segelintir kelompok yang istimewa, kita akan mendapatkan dunia yang kacau balau, dan kita melihat ini akan menjadi dunia yang jauh lebih berbahaya bagi kita semua."
13.Iran Buka Pintu Diplomasi Tapi Tolak Tekanan
Di akhir pidatonya, Presiden Iran mengatakan Teheran tetap membuka ruang untuk dialog dan negosiasi. Namun, ia menegaskan bahwa diplomasi tidak dapat berjalan jika disertai ancaman, tekanan atau penggunaan kekerasan.
Ia juga menyampaikan pesan kepada Presiden Trump dan pihak-pihak yang disebutnya berusaha menekan Iran bahwa negaranya tidak akan menyerah. Tetapi tetap terbuka untuk mencari penyelesaian melalui diplomasi.
"Kami berusaha memikirkan masa depan yang layak, di mana keamanan, kewajaran, keadilan, dan martabat manusia akan menjadi hak-hak yang tidak dapat dicabut bagi semua orang dan semua umat manusia. Sebuah masa depan di mana tidak ada rakyat yang terpinggirkan, tidak ada suara yang hilang di tengah hiruk pikuk kekuasaan, dan tidak ada satu kekuatan pun yang berhak menentukan masa depan suatu bangsa kecuali bangsa itu sendiri," katanya.
"Jika kita benar-benar menginginkan tatanan yang berlandaskan hukum dan standar internasional, maka tatanan itu harus berakar pada keadilan, kehendak kemanusiaan bersama yang mengangkat martabat manusia. Karena perdamaian yang tidak mencakup semua pihak bukanlah perdamaian, serta kewajaran dan keadilan yang tidak merangkul semuanya tidak pantas disebut keadilan," tegasnya.
Namun kembali pada perkataan Presiden Amerika Serikat kemarin. Hal tersebut menunjukkan kepada para pakar hukum internasional, dialog, diplomasi, dan standar dasar kemanusiaan bahwa segala hal yang diucapkan mengenai negara kami bertentangan dengan esensi, piagam, dan semangat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan terus meningkat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan intimidasi. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala kami atau bertekuk lutut," katanya lagi.
"Iran harus dipahami oleh Tuan Trump dan mereka yang berusaha menindas kami, bahwa kami siap untuk berdialog, diplomasi, dan bernegosiasi tanpa menerima bahasa paksaan dan kekerasan."