Gebrak Podium PBB! Macron 'Permalukan' Trump, Ungkit Gaza-Hukum Rimba
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka menepis klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang sesumbar telah mengamankan perdamaian di Gaza. Macron menegaskan bahwa tidak ada satu pun koridor kemanusiaan yang dibuka kembali di daerah kantong tersebut terlepas dari proklamasi perdamaian yang digaungkan Washington.
Mengutip Reuters, Kamis (24/09/2026), dalam pidato terakhirnya di Majelis Umum PBB sebelum turun jabatan tahun depan, Macron menyebut dunia sedang menyaksikan tontonan yang seharusnya mempermalukan semua orang. Ia menegur keras penggambaran Trump atas rencana perdamaian Gaza-nya sebagai sebuah kemenangan diplomatik.
Macron berpidato hanya beberapa jam setelah Trump memuji rencana perdamaiannya dari podium yang sama. Sembari memukul podium, Macron menyinggung pengakuan negara Palestina di hadapan para pemimpin dunia.
"Setahun yang lalu, di aula ini, sekitar selusin negara telah mengakui Palestina. Saya mendengar sinisme beberapa orang bahwa pengakuan hanyalah selembar kertas, lihatlah kenyataannya," tegasnya.
"Namun kredibilitas apa yang kita miliki jika kita terus diam menghadapi Gaza?" paparnya. "Beberapa orang membual tentang perdamaian semu. Tetapi perdamaian itu tidak membuka kembali akses kemanusiaan sedetik pun. Apakah kita hanya akan berdiam diri dan menyaksikan tontonan yang seharusnya mempermalukan kita semua?"
Macron kemudian menyinggung kekerasan di Tepi Barat. Ia diketahui telah memperkokoh pendiriannya terhadap kekerasan pemukim terhadap warga Palestina dengan menjatuhkan beberapa sanksi nasional dan meluncurkan proses pelarangan produk dari permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.Â
"Lihatlah apa yang terjadi di Tepi Barat, di mana pelanggaran dilakukan setiap hari. Atas nama siapa? Hamas tidak pernah beroperasi di Tepi Barat," ungkap Macron.
"Apa yang terjadi di sana sedang membangun, hari demi hari, ketidakmungkinan sebuah proyek yang seharusnya didasarkan pada penghormatan terhadap hak sah rakyat Palestina untuk eksis."
Lebih lanjut, Macron juga memperingatkan dunia tentang bahaya global yang kembali ke hukum rimba. Ia menyatakan bahwa negara-negara kini dihadapkan pada pilihan antara dunia yang diatur oleh kekuasaan dan paksaan, atau masyarakat internasional yang beradab.Â
"Tugas kita, lebih dari sebelumnya, adalah berdiri berdampingan dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kita tidak dapat menerima tatanan impunitas baru yang ingin dibangun oleh beberapa orang," tuturnya. "Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa!".
Menanggapi kritik pedas tersebut, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly langsung memberikan pembelaan. Ia bersikeras bahwa intervensi Trump membuahkan hasil nyata bagi kawasan tersebut.
"Presiden Trump mengakhiri perang antara Israel dan Hamas, membebaskan semua sandera yang masih hidup, mengembalikan jenazah ke orang yang mereka cintai, dan sekarang memimpin implementasi Rencana 20 Poin untuk Perdamaian di Gaza," ucapnya.
"Sementara yang lain hanya berbicara, Presiden ini menghadapi masalah kompleks ini secara langsung. Tidak ada yang berbuat lebih banyak untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan ini," pungkas Kelly.