Prancis Masih Ngeri, Presiden Warning Demo Besar 31 Oktober
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan akan ada gelombang protes baru akhir pekan ini, Sabtu 31 Oktober. Bahkan demo massa tersebut dikatakannya berisiko menimbulkan "risiko".
Macron menegaskan itu saat mengunjungi Balai Kota Marseille, yang sempat diduduki oleh para pengunjuk rasa pada 17 Oktober. Di lokasi tersebut, patung dada Marianne, simbol nasional Prancis, sempat dijatuhkan ke tanah.
Saat berbicara kepada aparat penegak hukum, ia menyatakan bahwa kondisi Prancis yang penuh dengan "gejolak seperti saat ini adalah sesuatu yang tidak wajar". Ia juga menyebut situs media sosial sebagai sarana untuk memobilisasi dorongan-dorongan buruk seraya menambahkan bahwa situs-situs tersebut merugikan "demokrasi".
"Sabtu depan diperkirakan akan kembali menjadi hari yang berisiko," ujar Macron Senin waktu setempat, dikutip AFP, Selasa (27/10/2026).
"Kami akan terus mempertahankan pendirian kami," tambahnya lagi.
"Jika kita semua menjalankan tugas dengan baik, gerakan ini akan mereda- karena kita akan menanggapi harapan-harapan yang sah, dan karena ketertiban akan tetap terjaga. Namun, tidak ada hasil yang sudah pasti."
Sebelumnya, pihak berwenang mengakui adanya kegagalan dalam aspek keamanan dan intelijen yang memicu bentrokan, penjarahan besar-besaran, serta perusakan fasilitas umum pada 17 Oktober. Mereka pun telah meningkatkan pengamanan untuk aksi protes.
Para pejabat berjanji untuk tetap waspada menjelang demonstrasi berikutnya. Pejabat juga mengklaim situasi keamanan saat ini sudah terkendali.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyatakan bahwa kebijakan jam malam yang diberlakukan oleh otoritas setempat, di lebih dari dua belas lokasi, akan tetap berlaku. Ia juga menjanjikan operasi pengamanan yang sangat ketat untuk aksi protes Sabtu mendatang.
"Kami mengantisipasi situasi yang kembali sulit," ujarnya.
Sebanyak 1.435 orang telah ditangkap di sela-sela aksi protes akhir pekan. Ia menyebutkan bahwa 267 petugas kepolisian dan gendarmeri mengalami luka-luka, begitu pula dengan 150 pengunjuk rasa, termasuk tiga orang yang menderita cedera serius.
Kerusuhan ini terjadi setelah berminggu-minggu demonstrasi oleh para pelajar yang menuntut kondisi pembelajaran yang lebih baik. Respons kepolisian dikritik karena dianggap terlalu keras, yang kemudian memicu gerakan yang lebih luas untuk memprotes biaya hidup dan kekerasan oleh aparat.
(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]