Ada "Bismillah" di Demo Besar-besaran Prancis, Jadi Slogan Resmi
Jakarta, CNBC Indonesia - Ada cerita sendiri dibalik demonstrasi besar-besaran di Prancis. Sebelum demonstrasi pecah menjadi kerusuhan besar seperti yang terjadi akhir pekan lalu, berhari-hari protes remaja berusia belasan tahun mengguncang Prancis meneriakkan deskriminasi terhadap sistem pendidikan.
Yang menarik, muncul sebuah kalimat yang menjadi slogan gerakan mereka. Kalimat itu ditulis pada papan karton di luar sekolah-sekolah yang diblokade, dibagikan puluhan ribu kali dalam video parodi, bahkan diucapkan oleh Greta Thunberg, aktivis muda dunia.
Slogan tersebut adalah "Bismillah, c'est les tenebres". Saat ini, kalimat tersebut menjadi slogan tidak resmi bagi aksi protes siswa sekolah menengah di Prancis.
Lalu apa artinya dan bagaimana bisa muncul?
Apa Artinya?
"Bismillah" berasal dari bahasa Arab. Ini berarti "dengan menyebut nama Tuhan".
Umat Muslim biasanya mengucapkannya sebelum memulai suatu kegiatan. Sementara dalam bahasa gaul Prancis sehari-hari, istilah ini bisa bermakna kurang lebih seperti "ayo kita mulai".
"C'est les tenebres" sendiri berarti "ini adalah kegelapan". Di kalangan anak muda, istilah itu merupakan bahasa gaul untuk menggambarkan situasi yang sangat buruk atau suram.
Jika digabungkan, frasa tersebut terdengar tidak masuk akal. Artinya, dengan menyebut nama Tuhan, ini adalah kegelapan.
Para pelajar mengatakan justru itulah alasan mengapa frasa ini menjadi populer. Mereka mengejek seseorang yang berusaha namun gagal untuk berbicara seperti mereka.
Para pelajar sekolah menengah dan mahasiswa di Prancis mengikuti unjuk rasa di Nantes sebagai bagian dari gerakan protes yang terus berlangsung, menuntut kondisi sekolah yang lebih baik serta tindakan dari pemerintah, Prancis, 15 Oktober 2026. Slogan pada papan yang dibawa berbunyi "Bismillah c'est les tenebres" (Bismillah, ini adalah kegelapan). (REUTERS/Stephane Mahe) |
Dari Mana Slogan Ini Berasal?
Frasa tersebut muncul dari tangkapan layar percakapan Snapchat yang mulai beredar pada awal Oktober. Saat itu, para pelajar menggunakan aplikasi tersebut untuk mengorganisasi blokade sekolah.
Dalam pesan itu, seorang pengguna bernama "Mamadou" meminta untuk bergabung ke dalam grup. "Hai, dengan menyebut nama Tuhan, ini adalah kegelapan. Kapan blokadenya, wallah, bro?" tulisnya disertai dengan emoji bendera Aljazair.
Tangkapan layar lainnya menunjukkan akun-akun serupa yang bertanya kepada para pelajar mengenai lokasi blokade serta siapa yang menjual kembang api dan granat asap. Bagi banyak pelajar, perpaduan yang canggung antara bahasa Arab, bahasa gaul jalanan, dan bendera negara tersebut membongkar kedok mereka.
Mereka menyimpulkan bahwa pesan-pesan itu ditulis oleh polisi yang menyamar sebagai remaja. Polisi itu hendak menyusup ke dalam kelompok protes privat.
Apakah Polisi Benar-Benar Menyusup ke Dalam Grup Snapchat para Pelajar?
Hal ini belum terbukti. Baik kepolisian maupun kementerian dalam negeri Prancis belum memberikan komentar mengenai tangkapan layar tersebut, dan belum ada pihak independen yang memverifikasi siapa sosok di balik akun-akun itu.
Beberapa pengguna internet mengeklaim telah melacak lokasi akun-akun tersebut hingga ke titik di dekat kantor polisi, namun klaim ini belum terverifikasi. Sebagian tangkapan layar yang beredar bisa saja merupakan hoaks atau parodi.
Kenapa Pelajar Berdemo?
Gerakan ini bermula di Creteil, sebelah tenggara Paris, pada 18 September dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri. Berbagai keluhan pelajar menjadi inti dari gerakan ini, termasuk durasi sekolah yang panjang, ruang kelas yang terlalu padat, kondisi sekolah yang rusak, serta seringnya guru tidak hadir.
Banyak pihak berpendapat bahwa masalah-masalah ini paling berdampak pada wilayah pinggiran kelas pekerja dan komunitas minoritas. Pada tanggal 2 Oktober saja, sekitar 400 sekolah ditutup akibat aksi blokade.
Protes para pelajar ini kemudian menjadi bagian dari demonstrasi nasional terkait biaya hidup pada Sabtu, 17 Oktober. Demonstrasi itu yang berujung pada kerusuhan dan penjarahan terburuk yang pernah terjadi di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.
Apakah Slogan Tersebut Telah Menyebar ke Luar Prancis?
Menurut kantor berita Italia ANSA, aktivis asal Swedia, Greta Thunberg, menggunakan slogan tersebut saat mengunjungi para pelajar yang sedang melakukan aksi mogok di Seine-Saint-Denis, sebelah utara Paris, pada 13 Oktober. Pada 9 Oktober, slogan itu muncul pada poster-poster dalam demonstrasi yang dipimpin oleh serikat pekerja di Brussel untuk menentang pemangkasan anggaran oleh pemerintah Belgia.
Di sana, slogan tersebut digunakan sebagai bentuk solidaritas terhadap para pelajar Prancis. Tapi kala itu, ini bukan sebagai rujukan pada klaim mengenai adanya infiltrasi.
Di Italia, ANSA melaporkan bahwa frasa tersebut muncul dalam aksi unjuk rasa pelajar di Bologna pada 15 Oktober. Hal itu kembali terdengar di Milan pada akhir pekan tanggal 17 dan 18 Oktober, saat aksi protes di Piazza del Duomo juga berujung pada penjarahan, dan para siswa dari sebuah sekolah Prancis di Berlin tertangkap kamera sedang membentangkan spanduk berisi slogan tersebut.
