MARKET DATA
Internasional

Presiden Iran "Tampar" Trump Bertubi-tubi di PBB, Ini Pernyataannya

Tps,  CNBC Indonesia
24 September 2026 15:20
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di Markas Besar PBB di New York, Rabu (23/9/2026). (AFP/TIMOTHY A. CLARY)
Foto: AFP/TIMOTHY A. CLARY

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberi tamparan bertubi-tubi ke Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Iran justru merupakan "korban terorisme global" yang dilakukan Trump.

Lalu, apa saja poin-poin lengkapnya? Berikut rangkuman CNBC Indonesia, Kamis (24/9/2026).

1.Iran Korban dari Terorisme

Di awal pidatonya, Pezeshkian langsung membantah bagaimana negerinya dicap teroris oleh Trump. Ia menyatakan justru negaranya adalah "korban dari terorisme" yang dilakukan pemerintahan Trump sendiri.

"Presiden Amerika Serikat menggambarkan kami sebagai teroris, padahal kami adalah korban dari terorisme," ujarnya Rabu.

"Saya berasal dari Iran, di mana pemimpin tertinggi kami yang terhormat dibunuh tanpa kerangka hukum atau alasan apa pun. Dan saya berasal dari Iran, di mana pada kenyataannya mereka mengebom sebuah sekolah. Anda melihat anak-anak ini, anak-anak ini tewas di bawah bom dengan senjata yang digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel. Mereka tidak bersalah, mereka tidak melakukan kejahatan apa pun," katanya.

2.Rakyat Kami Tidak Bersalah

Ia pun menegaskan bagaimana rakyat Iran yang menjadi korban serangan AS dan Israel sebenarnya tidak bersalah. Ini merujuk serangan awal perang 28 Februari lalu.

Ia menggambarkan bagaimana di kota Ilan terdapat sebuah gedung olahraga di mana anak-anak sedang sibuk bermain. Menurutnya, AS tiba-tiba datang menggunakan senjata berlapis hulu ledak ganda menargetkan gedung olahraga tersebut.

"Mereka memartirkan, membunuh para ilmuwan kami, laki-laki, perempuan, dan anak-anak kami. Anak-anak tak berdosa yang sejatinya tidak melakukan kejahatan atau dosa apa pun," jelasnya.

"Mereka yang merupakan teroris serta melatih dan melindungi teroris, justru menggambarkan kami seperti itu.Kami hanya membela diri, kami bukan teroris," katanya lagi.

"Rakyat kami yang tidak bersalah telah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi yang dijatuhkan ke negara kami, dan kami membela diri dengan segenap kekuatan kami," tambahnya.

"Amerika dan Israel menyerang kami dengan dilengkapi teknologi dan sistem persenjataan terbaru, dan rakyat kami tetap teguh."

3.Bertentangan dengan Hukum Internasional

Di kesempatan yang sama, ia juga mengatakan bagaimana Iran tidak bertekuk lutut. Menurutnya, Iran memang membalas tapi tak menyerang sipil.

"Ya, mereka memang menyerang kami, tetapi kami tidak bertekuk lutut, kami tidak menundukkan kepala. Kami membalas, tetapi kami tidak menyerang penduduk sipil," ujar Pezeshkian.

Ia mengatakan bagaimana semua hal yang dilakukan AS dan Israel itu sebenarnya bertentangan dengan hukum internasional.`

"Mereka masuk ke wilayah-wilayah sekitar dan menargetkan universitas kami, pusat layanan kesehatan kami, sekolah-sekolah kami, rumah sakit kami, serta infrastruktur kami. Semuanya bertentangan dengan hukum internasional," katanya.

"Apakah kami sumber ketidakstabilan? Kami hanya ingin hidup secara mandiri. Apakah kami yang menyebabkan ketidakstabilan? Mereka yang melakukan terorisme dan melakukan kejahatan, apakah mereka pelindung perdamaian dan stabilitas? Tidak ada satu pun hukum internasional yang mereka patuhi. Inilah yang sedang kami hadapi," ujarnya.

4.Israel yang Teroris

Pezeshkian juga mengatakan bagaimana Israel-lah sebenarnya yang teroris. Ia membeberkan bagaimana sekutu AS itu melakukan sejumlah kekerasan baik di Iran maupun wilayah lain.

"Ketika saya mengambil alih tanggung jawab sebagai presiden, mereka (Israel) membunuh Ismail Haniyeh di Iran tepat pada hari pelantikan saya. Israel menargetkan wilayah manapun, di kota manapun, di provinsi manapun, serta melakukan pembunuhan layaknya teroris sejati," katanya.

"Di Gaza, lebih dari 80.000 warga sipil tak berdosa telah dibunuh, dibunuh secara brutal, dan ratusan ribu orang lainnya telah mengungsi. Mereka melakukan genosida dengan menggunakan teknologi yang mereka miliki, lalu melabeli pihak lain sebagai teroris," tambahnya.

"Bom atom dan nuklir berada di tangan rezim Israel, namun para inspektur (PBB) diminta untuk datang ke Iran. Israel telah membunuh lebih dari 70.000 warga tak berdosa di Gaza secara biadab, namun ketika Iran sedang berada di balik meja perundingan, mereka malah dibom. Israel memiliki bom, memiliki senjata pemusnah massal, tidak tergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi (NPT), dan selama keberadaannya yang memalukan mereka tidak pernah mengizinkan satu pun inspeksi. Namun mereka justru dihargai dengan segala sarana yang diperlukan agar mereka dapat mengebom ibu kota mana pun di wilayah itu sesuka hati," jelasnya.

"Saya ulangi: senjata nuklir ada di Israel, tetapi inspektur ada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran yang dikenai sanksi. Ini adalah sebuah tragedi sejati yang mungkin akan membuat siapa pun yang mendengarnya tertawa. Mereka membunuh, kami disanksi, kami dihukum. Orang-orang yang sakit, orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang miskin dan kelompok yang paling tidak beruntung di masyarakat kamilah yang menjadi sasaran sanksi-sanksi ini. Dan inilah yang berusaha dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap semua negara; mengorbankan populasi suatu negara demi mencapai tujuannya yang tidak sah."

5.Selama 200 Tahun Tak Pernah Serang Negara Lain

Dalam pidato ia juga mengatakan bagaimana sebenarnya Iran hanya ingin hidup mandiri. Dikatakannya bagaimana selama 200 tahun berdiri, negara itu tak pernah menyerang negara atau wilayah manapun.

"Selama 200 tahun atau dua abad terakhir, Iran tidak pernah menyerang negara atau wilayah mana pun, tetapi kami selalu membela diri kami dengan teguh," ujarnya.

"Namun kini kami dituduh sebagai sumber ketidakstabilan di kawasan, dan kami dilabeli teroris. Hal inilah yang membuat jalan yang kami pilih mengharuskan kami memiliki kekuatan untuk membela diri," tegasnya.

6. Program Nuklir untuk Tujuan Damai

Dalam pidatonya, ia juga kembali membela program nuklir negaranya. Ia mengatakan teknologi nuklir dibutuhkan Iran untuk berbagai keperluan, mulai dari pengobatan, pertanian, industri hingga penyediaan energi. Ia menegaskan Iran tidak akan menyerahkan apa yang disebutnya sebagai hak negara tersebut untuk mengembangkan teknologi nuklir damai.

"Kami tidak mencari kekuatan untuk menyerang atau melakukan agresi," katanya.

"Kami mencari energi untuk kemajuan, bukan untuk mengancam masyarakat dengan senjata, dan kami ingin bekerja sama serta berkolaborasi demi keamanan," ujarnya.

"Kami mencari energi untuk kemajuan. Selama bertahun-tahun, ketika menyangkut teknologi nuklir kami, mereka telah melabelinya dengan isu sentrifugal, sanksi internasional, dan label-label lainnya. Namun bagi negara kami, teknologi nuklir damai adalah bagian yang melekat pada kemajuan kami," tambahnya.

"Bagi orang-orang kami yang sakit, ini adalah untuk obat dan perawatan; bagi sektor pertanian, ini untuk ketahanan pangan; bagi industri, ini untuk perkembangan, kemajuan, dan pasokan energi listrik."

7.Nuklir Bukan Hanya Milik Ekslusif Segelintir

Ia pun menyinggung bagaimana nuklir seharusnya bukan hanya segelintir pihak. Dikatakannya hal ini adalah realita yang terlihat di dunia saat ini.

"Iran tidak dapat menerima jika teknologi nuklir hanya berada dalam kendali eksklusif segelintir pihak," ujarnya.

"Kami tidak akan menundukkan kepala kami dan menyerahkan hak yang pada dasarnya adalah milik kami. Kami menyatakannya dengan jelas: tidak untuk senjata nuklir dan tidak ada pembatasan pada teknologi nuklir yang damai," tambahnya.

Halaman 2>>

8.Sistem Pertahanan untuk Mempertahankan Negara

Pezeshkian juga mengatakan pembangunan sistem pertahanan merupakan bagian dari upaya mencegah serangan terhadap wilayah Iran. Ia menegaskan keputusan untuk mempertahankan negaranya tidak bergantung pada persetujuan negara lain.

Menurutnya, kemampuan pertahanan diperlukan agar pihak lain tidak menganggap serangan terhadap kota-kota Iran dapat dilakukan tanpa konsekuensi.

"Mengenai pertahanan Iran, sistem pertahanan kami dibangun agar tidak ada yang bisa berpikir bahwa pengeboman terhadap kota-kota Iran akan dibiarkan tanpa balasan. Itulah sebabnya kami memiliki kekuatan militer, untuk pertahanan," ujarnya.

"Namun kami menyatakan dengan jelas, untuk mempertahankan negara kami, kami tidak meminta izin atau persetujuan siapa pun," tambahnya.

9.Kami Memiliki Tetangga-Tetangga yang Kuat

Presiden Iran mengatakan keamanan kawasan seharusnya tidak dibangun melalui persaingan antarnegara, melainkan melalui kerja sama negara-negara di kawasan. Ia menegaskan Iran tidak ingin keamanan negaranya dibangun dengan mengorbankan keamanan negara tetangga.

Ia juga menolak keterlibatan kekuatan asing. Menurutnya dapat digunakan untuk mengancam negara-negara lain di kawasan.

"Kita hidup di kawasan di mana peperangan tidak mengenal batas, di mana krisis di satu wilayah akan meluas ke negara-negara sekitarnya," katanya.

"Itulah sebabnya Iran tidak melihat para tetangganya sebagai pesaing keamanan," tegasnya.

"Kami ingin memiliki tetangga-tetangga yang kuat."

10.Selat Hormuz

Ia pun menyinggung posisi strategis Selat Hormuz dan akses terhadap jalur pelayaran tersebut. Ia menolak situasi ketika jalur air itu digunakan untuk memberikan tekanan kepada Iran sekaligus menjadi jalur pengiriman senjata dan teknologi militer.

Ia memperingatkan bahwa meluasnya konflik justru dapat meningkatkan ketidakamanan bagi negara-negara pesisir di kawasan.

"Di perairan Selat Hormuz, kami tidak bisa membiarkan beberapa pihak memiliki akses bebas dan mengambil keuntungan dari jalur air tersebut, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur air itu untuk memaksakan agresi dan ketidaknyamanan kepada kami, serta melarang akses kami ke jalur air kami sendiri," tegasnya.

"Mereka menutup akses untuk kami, namun mereka terus memasok rudal dan teknologi militer mematikan untuk membawa ketidaknyamanan ke seluruh daratan di sekitar jalur air itu," jelasnya.

"Kami tidak akan menyerah pada hal itu. Perluasan peperangan tidak akan menghasilkan keamanan. Tidak ada yang boleh menciptakan kekacauan bagi negara-negara pesisir yang sedang mencari keamanan laut."

11.Palestina dan Gaza adalah Luka Terbuka

Sementara itu soal Palestina juga disinggung Pezeshkian. Ia mengatakan Palestina menjadi luka terbuka pada hati nurani masyarakat internasional dan Gaza tetap menjadi simbol kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil.

"Selama puluhan tahun resolusi-resolusi telah disahkan, namun pendudukan dan kekerasan terus berlanjut," katanya.

"Kita tidak dapat berbicara tentang perdamaian sambil mengabaikan Palestina. Perdamaian yang abadi di Asia Barat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Palestina. Selama pendudukan, agresi, dan ketidakadilan terus berlanjut di dunia, perlawanan akan terus berlanjut. Jika dilemahkan dalam satu bentuk, ia akan muncul kembali di bentuk lain, mungkin lebih kuat lagi," ujarnya.

"Gaza, terlepas dari pembunuhan tanpa henti dan kehancuran yang meluas, justru telah memperkuat keyakinan rakyat pada perlawanan, dan perlawanan tidak dapat dihancurkan oleh bom dan pengepungan. Ini adalah sifat manusia; jika manusia diusir dari tanahnya, mereka akan melawan. Jika rumah mereka menjadi sasaran pengeboman dan agresi, mereka akan melawan. Pilihan apa lagi yang mereka miliki? Menyerah pada intimidasi, diusir dari rumah dan tanah mereka, lalu diam saja menghadapi ancaman dan bahaya ini? Dan ketika mereka membela diri, mereka malah dilabeli teroris. Bahasa ini, sayangnya, memperjelas jenis dunia yang kita tinggali saat ini."

12. Standar Tunggal dan Jangan Ada Kelompok Istimewa

Ia mengatakan harus ada standar tunggal untuk semua. Sehingga tidak ada kelompok yang istimewa.

"Jika kita mencari perdamaian dan stabilitas sejati, kita harus menerapkan standar tunggal untuk semua. Iran tidak meminta perlakuan khusus, kami menuntut hak-hak yang setara dan kami memikul tanggung jawab yang menyertainya," katanya.

"Namun, selama sejarahnya yang penuh kebanggaan, Iran telah mempelajari pelajaran ini: dunia tanpa kekuatan adalah berbahaya, tetapi dunia yang hanya memahami bahasa perang dan penindasan tidak akan aman," tambahnya.

"Ketika kita berusaha melaksanakan agenda-agenda yang hanya menguntungkan segelintir kelompok yang istimewa, kita akan mendapatkan dunia yang kacau balau, dan kita melihat ini akan menjadi dunia yang jauh lebih berbahaya bagi kita semua."

13.Iran Buka Pintu Diplomasi Tapi Tolak Tekanan

Di akhir pidatonya, Presiden Iran mengatakan Teheran tetap membuka ruang untuk dialog dan negosiasi. Namun, ia menegaskan bahwa diplomasi tidak dapat berjalan jika disertai ancaman, tekanan atau penggunaan kekerasan.

Ia juga menyampaikan pesan kepada Presiden Trump dan pihak-pihak yang disebutnya berusaha menekan Iran bahwa negaranya tidak akan menyerah. Tetapi tetap terbuka untuk mencari penyelesaian melalui diplomasi.

"Kami berusaha memikirkan masa depan yang layak, di mana keamanan, kewajaran, keadilan, dan martabat manusia akan menjadi hak-hak yang tidak dapat dicabut bagi semua orang dan semua umat manusia. Sebuah masa depan di mana tidak ada rakyat yang terpinggirkan, tidak ada suara yang hilang di tengah hiruk pikuk kekuasaan, dan tidak ada satu kekuatan pun yang berhak menentukan masa depan suatu bangsa kecuali bangsa itu sendiri," katanya.

"Jika kita benar-benar menginginkan tatanan yang berlandaskan hukum dan standar internasional, maka tatanan itu harus berakar pada keadilan, kehendak kemanusiaan bersama yang mengangkat martabat manusia. Karena perdamaian yang tidak mencakup semua pihak bukanlah perdamaian, serta kewajaran dan keadilan yang tidak merangkul semuanya tidak pantas disebut keadilan," tegasnya.

Namun kembali pada perkataan Presiden Amerika Serikat kemarin. Hal tersebut menunjukkan kepada para pakar hukum internasional, dialog, diplomasi, dan standar dasar kemanusiaan bahwa segala hal yang diucapkan mengenai negara kami bertentangan dengan esensi, piagam, dan semangat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan terus meningkat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan intimidasi. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala kami atau bertekuk lutut," katanya lagi.

"Iran harus dipahami oleh Tuan Trump dan mereka yang berusaha menindas kami, bahwa kami siap untuk berdialog, diplomasi, dan bernegosiasi tanpa menerima bahasa paksaan dan kekerasan."



Most Popular
Features