Internasional

Rasio Utang Sudah Tembus 100% dari PDB, AS Terancam Bangkrut?

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Jumat, 01/05/2026 18:20 WIB
Foto: Bendera Amerika Serikat berkibar setengah tiang di US Capitol di Washington, DC, Kamis (8/9/2022) setelah meninggalnya Ratu Elizabeth II dari Inggris. (Photo by OLIVIER DOULIERY/AFP via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang nasional Amerika Serikat kini telah melampaui 100% terhadap produk domestik bruto (PDB), menembus ambang batas yang sebelumnya dianggap sulit terjadi. Kondisi ini menempatkan rasio utang terhadap PDB di jalur untuk melampaui rekor yang tercatat setelah Perang Dunia II.

Berdasarkan data per 31 Maret, utang publik AS mencapai US$31,265 triliun, sementara PDB selama satu tahun sebelumnya sebesar US$31,216 triliun. Dengan demikian, rasio utang terhadap PDB berada di level 100,2%, naik dari 99,5% pada akhir tahun fiskal sebelumnya pada 30 September.


Melansir The Wall Street Journal, kenaikan ini diperkirakan akan terus berlanjut karena pemerintah federal mencatat defisit tahunan yang besar, mendekati 6% dari PDB. Defisit tersebut terus menambah beban utang di tengah belanja pemerintah yang mencapai US$1,33 untuk setiap US$1 pendapatan.

Defisit anggaran tahun ini diproyeksikan mencapai US$1,9 triliun, relatif tidak berubah dibandingkan 2025. Angka akhir masih bergantung pada sejumlah faktor seperti belanja perang Iran, pengembalian tarif, serta kekuatan ekonomi secara keseluruhan.

Meski demikian, level 100% tidak serta merta menjadi batas kritis antara kondisi aman dan krisis. Rasio tersebut masih dapat berfluktuasi dalam beberapa kuartal ke depan seiring perubahan penerimaan pajak, pengeluaran, dan dinamika PDB.

Namun, angka tiga digit ini menjadi simbol tekanan fiskal yang telah terakumulasi selama beberapa dekade. Para pembuat kebijakan dari kedua partai politik telah menyuarakan kekhawatiran, meskipun tetap memprioritaskan kebijakan yang memberi manfaat politik jangka pendek seperti pemotongan pajak dan peningkatan belanja.

Ekonom menilai rasio utang terhadap PDB sebagai indikator utama untuk mengukur beban pinjaman terhadap ekonomi. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin besar pula sumber daya yang terserap untuk membayar utang dibandingkan digunakan untuk kegiatan produktif.

Pemerintah juga menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga seiring meningkatnya utang. Saat ini, sekitar satu dari tujuh dolar pengeluaran federal digunakan untuk membayar bunga utang.

Kenaikan suku bunga sebesar 0,1 poin persentase diperkirakan akan menambah biaya hingga US$379 miliar dalam 10 tahun. Hal ini menunjukkan tingginya risiko fiskal yang dihadapi jika biaya pinjaman meningkat.

Dalam jangka panjang, ekonom memperingatkan bahwa utang tinggi dapat mendorong kenaikan suku bunga, termasuk untuk kredit rumah, kendaraan, dan kartu kredit. Selain itu, utang juga berpotensi menghambat investasi swasta karena menyerap modal yang tersedia di pasar.

Sejumlah ekonom juga menilai bahwa utang yang tinggi dapat memicu inflasi jika bank sentral tertekan untuk mempertahankan suku bunga rendah atau mencetak uang. Kondisi ini pernah terjadi saat pandemi 2020 ketika rasio utang sempat melampaui 100% akibat lonjakan pinjaman dan penurunan PDB.

Namun setelah pandemi, rasio tersebut sempat turun seiring pemulihan ekonomi dan inflasi yang mendorong kenaikan PDB nominal. Meski begitu, untuk pertama kalinya sejak 1946, AS diperkirakan akan kembali menutup tahun fiskal dengan rasio utang di atas 100%.

Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan rasio tersebut akan mencapai 100,6% pada akhir tahun fiskal 30 September dan melampaui rekor pada 2030. Bahkan, rasio utang diproyeksikan meningkat hingga 120% pada 2036 dan 175% pada 2056.

Sebagai perbandingan, rasio utang terhadap PDB AS sempat mencapai puncaknya di 106,1% pada 1946 sebelum turun drastis berkat pertumbuhan ekonomi pascaperang. Rasio tersebut bahkan sempat berada di bawah 40% pada 2008 sebelum kembali melonjak akibat krisis keuangan global dan pandemi.

Pemerintah AS juga terus menambah utang melalui berbagai kebijakan seperti pemotongan pajak dan peningkatan belanja sosial. Sementara itu, faktor demografi seperti populasi yang menua turut meningkatkan beban program seperti jaminan sosial dan kesehatan.

Meski AS memiliki keunggulan sebagai penerbit mata uang cadangan dunia dan obligasinya dianggap aset aman, ruang untuk terus menambah utang tetap terbatas. Tanpa pertumbuhan ekonomi yang signifikan, menjaga rasio utang di sekitar 100% pun membutuhkan kebijakan tidak populer seperti pemotongan belanja dan kenaikan pajak.

Dalam satu dekade ke depan, defisit kumulatif diproyeksikan mencapai US$24 triliun. Untuk menstabilkan rasio utang di 100%, diperlukan penyesuaian fiskal senilai sekitar US$10 triliun melalui kombinasi kebijakan.

Meski isu utang pernah menjadi perhatian utama pada era 1980-an hingga 1990-an, saat ini respons kebijakan dinilai masih minim. Para ekonom menilai tantangan terbesar bukan hanya pada kondisi ekonomi, tetapi juga pada dinamika politik yang menghambat solusi jangka panjang.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Geopolitik Memanas Era Bunga Rendah, Perbankan Tetap Ekspansif