RI Gak Ada Apa-apanya, Defisit Anggaran AS Sudah Tembus Rp16.900 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) menembus lebih dari US$1 triliun atau sekitar Rp16.900 triliun hingga Februari dalam tahun fiskal berjalan. Meski begitu, angka tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, menurut data Departemen Keuangan AS yang dirilis pada Rabu (11/3/2026).
Melansir CNBC International, Departemen Keuangan melaporkan bahwa pada Februari saja, pengeluaran pemerintah AS melampaui penerimaan sebesar US$308 miliar atau sekitar Rp5.205 triliun. Nilai ini relatif sejalan dengan defisit yang tercatat pada bulan yang sama tahun lalu.
Secara kumulatif sejak awal tahun fiskal, defisit mencapai US$1,004 triliun atau sekitar Rp16.968 triliun. Angka tersebut sekitar 12% lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025, terutama karena penerimaan pemerintah meningkat lebih cepat dibandingkan kenaikan belanja negara.
Salah satu faktor yang membantu mempersempit defisit adalah lonjakan penerimaan dari bea masuk. Pendapatan dari tarif impor mencapai US$151 miliar (Rp2.552 triliun) selama lima bulan pertama tahun fiskal, melonjak sekitar US$113 miliar (Rp1.910 triliun) dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, data tersebut belum sepenuhnya mencerminkan dampak keputusan Mahkamah Agung AS yang baru-baru ini membatalkan sejumlah tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.
Para ekonom menilai angka tersebut kemungkinan masih dipengaruhi oleh tarif yang telah dipungut sebelumnya tetapi baru diproses, lonjakan impor menjelang putusan, serta ketidakpastian mengenai apakah pemerintah perlu mengembalikan sebagian tarif yang telah dikumpulkan.
Di sisi lain, Trump juga telah menerapkan tarif tambahan setelah keputusan tersebut, yang berpotensi terus meningkatkan pendapatan bea cukai dalam beberapa waktu ke depan. Meski demikian, sumber penerimaan lain menunjukkan pelemahan. Pendapatan dari pajak perusahaan tercatat turun tajam sebesar US$27 miliar (Rp456 triliun) dibandingkan tahun sebelumnya.
Menariknya, dalam tahun fiskal berjalan, penerimaan dari tarif impor bahkan telah melampaui pendapatan pajak perusahaan. Ini merupakan sebuah kondisi yang jarang terjadi dalam struktur fiskal AS.
Sementara itu, beban fiskal pemerintah juga terus ditekan oleh tingginya suku bunga. Pembayaran bunga bersih atas utang nasional AS yang hampir mencapai US$39 triliun (Rp659.000 triliun) mencapai US$79 miliar (Rp1.335 triliun) hanya pada Februari. Nilai ini menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar pemerintah setelah Jaminan Sosial, program bantuan pendapatan, dan layanan kesehatan.
Adapun defisit fiskal AS tersebut bila dibandingan dengan Indonesia sejatinya bak bumi dan langit.
Desfiti fiskal Indonesia pada dua bulan pertama 2026 tercatat "hanya" Rp135 triliun. Bahkan, defisit AS lebih besar bila dibandingkan dengan APBN Indonesia pada 2026 yang senilai Rp3.842 triliun.
(tfa/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]