Ancaman Perang Dunia di Depan Mata, Waspada Suplai Minyak RI Terganggu
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemblokiran jalur pelayaran di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, termasuk Indonesia. Terlebih, jalur strategis tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke sejumlah negara di Asia.
Iran bahkan mengancam semua kapal yang nekad melewati Selat Hormuz akan ditembak. Hal tentunya menjadi eskalasi terbaru sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara itu, Sabtu. Serangan yang dinamakan Trump Operasi Epic Furry itu sendiri menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
Akibatnya Iran membalas dendam dengan menembakkan rudal ke Israel dan negara Teluk yang menjadi basis pangkalan militer tentara Amerika, seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA dan Arab Saudi. Hizbullah, kelompok militer faksi Iran di Lebanon, juga mengatakan akan membela Iran dan membalas kematian Khamenei.
Impor Migas RI Sepanjang 2025 Tembus US$32,27 miliar
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS), volume impor migas Indonesia sepanjang tahun 2025 sebesar 55,32 juta ton. Sementara nilai impor migas RI sepanjang 2025 mencapai US$32,76 miliar atau sekitar Rp552 triliun, turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$36,27 miliar.
Meski begitu, BPS mencatat terjadi lonjakan impor migas pada periode Desember 2025 dengan volume 5,9 juta ton atau senilai US$3,35 miliar. Impor pada Desember 2025 mengalami kenaikan dibandingkan dengan November 2025 yang tercatat sebesar 4,9 juta ton atau senilai US$2,85 miliar.
Beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Periode 2016-2019 Arcandra Tahar buka-bukaan, bahwa Indonesia menjadi negara yang terkena dampak signifikan, apabila Selat Hormuz ditutup oleh Iran.
Dalam catatannya, Indonesia mengimpor minyak mentah yang melewati Selat Hormuz dalam 5 tahun terakhir mencapai 200 ribu barel per hari (bph).
"Yang kita harus lihat adalah, ini berapa besar sih impor kita dari kawasan yang melewati Selat Hormuz. Yang berpengaruh kan itu. Kalau saya lihat data beberapa tahun ya, 2020, 2021, 2022, 2023, itu antara 150 ribu sampai 200 ribu barrel per day," jelasnya kepada CNBC Indonesia dalam program Energy Corner, Selasa (24/6/2025).
Detik-Detik Drone Iran Hantam Kilang Minyak Saudi Aramco di Arab
Rekaman saksi mata yang diambil pada Senin memperlihatkan para pekerja mengevakuasi area di sekitar kilang minyak Ras Tanura, Arab Saudi, saat asap tebal terlihat mengepul tinggi.
Berdasarkan verifikasi Reuters dikutip Selasa (3/3/2026), lokasi dalam video dipastikan sebagai kawasan kilang Ras Tanura melalui pencocokan bangunan, pepohonan, serta cerobong asap dengan citra satelit area tersebut.
Tanggal kejadian juga dikonfirmasi lewat pernyataan resmi dari Saudi Aramco, perusahaan minyak Arab Saudi, yang menyebut fasilitas tersebut ditutup usai serangan drone.
Dalam updatenya, sumber industri menyebut, raksasa minyak milik negara Arab Saudi itu memutuskan menutup kilang Ras Tanura Refinery sebagai langkah pengamanan.
Penutupan ini menandai eskalasi signifikan pada hari ketiga rangkaian serangan di kawasan, yang disebut-sebut dilancarkan Teheran sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.
Kompleks Ras Tanura yang terletak di pesisir Teluk tersebut merupakan salah satu kilang terbesar di Timur Tengah dengan kapasitas pengolahan mencapai 550.000 barel per hari (bpd). Fasilitas ini juga menjadi terminal ekspor utama minyak mentah Arab Saudi, sehingga gangguan operasionalnya berpotensi memengaruhi pasokan global dan pergerakan harga minyak dunia.
(pgr/pgr) Add
source on Google