Internasional

'Lampu Kuning' Asia, Kinerja Perdagangan China Jeblok

News - luc, CNBC Indonesia
07 November 2022 15:01
FILE PHOTO: Containers are seen at the Yangshan Deep-Water Port in Shanghai, China October 19, 2020. REUTERS/Aly Song/File Photo/File Photo Foto: Kontainer terlihat di Pelabuhan Air Dalam Yangshan di Shanghai, China (19/102020). (REUTERS/Aly Song)

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki kuartal IV-2022, sektor perdagangan China melemah. Hal itu tergambar dari menyusutnya nilai ekspor Negeri Tirai Bambu tersebut pada Oktober 2022 sekaligus jadi penurunan pertama sejak pertengahan 2020.

Berdasarkan data yang dirilis dari otoritas bea cukai China, Senin (7/11/2022), hal itu disebabkan perlambatan dari sisi domestik dan ancaman resesi global yang menghantam perdagangan internasional.

Ekspor turun 0,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hasil tersebut jauh di bawah kinerja bulan sebelumnya yang mencetak pertumbuhan 5,7% yoy.

Impor juga turun 0,7% yoy pada Oktober, negatif untuk pertama kalinya sejak Maret tahun ini dan turun dari pertumbuhan 0,3% di bulan September.

Adapun, perlambatan perdagangan terjadi karena permintaan global untuk produk China melemah dengan harga energi melonjak dan Amerika Serikat menghadapi ancaman resesi.

Penguncian Covid-19 yang sporadis juga telah merusak antusiasme konsumen dan kepercayaan bisnis di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Analis yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekspor sebesar 4,3% pada Oktober, tetapi hanya memperkirakan pertumbuhan impor 0,1% di tengah melemahnya permintaan di dalam negeri.

"Penurunan volume ekspor baru-baru ini tampaknya mencerminkan pembalikan lonjakan permintaan global untuk barang-barang China di era pandemi," kata analis Capital Economics Zichun Huang dalam sebuah catatan, dikutip AFP.

Sementara itu, volume impor "kemungkinan akan terus melemah mengingat prospek domestik yang menantang", kata Huang.

Terkait tantangan di dalam negeri, aktivitas pabrik China memang menyusut pada Oktober.

Aktivitas pabrik telah berada di wilayah kontraksi selama enam bulan dalam setahun sejauh ini, karena pembatasan Covid melumpuhkan kota-kota industri besar seperti Shanghai, Shenzhen, dan Chengdu.

Apple, telah memperingatkan pengiriman yang tertunda setelah pembatasan Covid "berdampak sementara" pada produksi di pabrik besarnya di Zhengzhou, China tengah.

Adapun, para pemimpin China telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahunan sekitar 5,5%, tetapi banyak pengamat berpikir negara itu akan berjuang untuk mencapai target, meskipun mengumumkan pertumbuhan 3,9% yang lebih baik dari perkiraan pada kuartal ketiga.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI-China Makin Mesra, 5 Bulan Angka Perdagangan Rp 735 T


(luc/sef/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading