Wih! Capaian Energi Terbarukan di ASEAN Tergantung RI!

News - Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
25 October 2022 18:25
foto : Dok. ESDM Foto: Dok. ESDM

Jakarta, CNBC Indonesia - Senior Officer of Sustainable Energy, Renewable Energy, and Energy Efficiency (REE) Department of Asean Centre for Energy (ACE), Zulfikar Yurnaidi menyebutkan, bahwa target energi terbarukan di Asia Tenggara sebesar 23% sampai tahun 2025. Hal ini sejalan dengan target energi terbarukan yang ditetapkan di Indonesia.

Zulfikar bilang, Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara, baik dari sisi populasi, ekonomi, penggunaan energi, dan juga emisi. Dengan begitu, pencapaian di Indonesia sangat berpengaruh pada capaian regional di Asia Tenggara.

"Indonesia memang negara terbesar di Asia Tenggara, baik dari sisi populasi, ekonomi, penggunaan energi, maupun juga tentunya emisi. Sehingga pencapaian di Indonesia akan sangat berpengaruh besar pada pencapaian regional di Asia Tenggara," ungkap Zulfikar pada Bincang Pembangunan Seri ke-8: Kesiapan Energi Terbarukan dan Nuklir dalam Mendukung Pencapaian Net-Zero Emission, Senin (24/10/2022).

Zulfikar menyebutkan target bauran energi terbarukan di Indonesia sebesar 23% yang baru terpenuhi sebesar 12,1%. Nampaknya hal ini tidak berbeda jauh dengan capaian regional di Asia Tenggara yang pada tahun 2020 baru mencapai 14,2%.

"National target belum bisa mencapai sebesar 23%. Di tahun 2020, kita lihat di regional ASEAN, target itu sekarang berada di angka 14,2%. Mungkin tidak terlalu jauh beda dengan angka capaian di Indonesia untuk bauran terbarukan di primary energy supply," pungkasnya.

Kabar baiknya, lanjut Zulfikar, Indonesia memiliki target 35% untuk Installed Capacity atau kapasitas terpasang pembangkit di tahun 2025. Sedangkan pada tahun 2020 di Asia Tenggara sudah mencapai 33,3%.

Selain itu, hampir seluruh negara di ASEAN kecuali Filipina, memiliki target Net Zero Emission. Seperti di Indonesia target NZE pada tahun 2060, kemudian Thailand di tahun 2065, Singapura di tahun 2050. "Tentunya belum semua negara itu seperti Indonesia yang punya Long Term Strategy (LTS), jadi memang tren energi transisi ini tidak bisa ditahan lagi," tuturnya.

Namun memang, lanjut Zulfikar, pandemi yang melanda sangat mempengaruhi sistem energi di Indonesia. Oleh karena itu peranan lembaga penelitian menjadi sangat penting, sehingga peralihan energi bisa tersampaikan melalui research center yang ada di Indonesia.

Sebagai informasi, berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy 2021, Overview bauran energi baru terbarukan negara ASEAN pada negara Malaysia mencapai 5,4%. Sedangkan pada negara Filipina mencapai 11,5%, Thailand 6,3%, dan Vietnam sebesar 16,9%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Demi Industri Hijau, PLN Serahkan 800 Unit REC Ke Danone


(pgr/pgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading