Tahun Gelap Ekonomi China

Teramat Mesra! Jatuhnya Ekonomi China, Bahaya Besar Bagi RI

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
17 October 2022 13:00
Seorang petugas polisi berjaga di dekat bendera Indonesia dan China di depan Gerbang Tiananmen, saat Presiden Indonesia Joko Widodo mengunjungi Beijing, China 25 Juli 2022. (AFP via Getty Images/GOH CHAI HIN) Foto: Seorang petugas polisi berjaga di dekat bendera Indonesia dan China di depan Gerbang Tiananmen, saat Presiden Indonesia Joko Widodo mengunjungi Beijing, China 25 Juli 2022. (AFP via Getty Images/GOH CHAI HIN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi China tengah diperkirakan akan mencapai titik tergelap di masa yang akan datang. Pertumbuhan ekonomi di Negeri Panda ini yang biasanya tumbuh double digit, kini diperkirakan hanya akan tumbuh single digit.

Ramalan gelap ekonomi China tersebut, membuat Indonesia juga harus waspada. China merupakan pangsa pasar ekonomi utama Indonesia. Lantas, Indonesia harus apa?

Ekonom Senior Chatib Basri menjelaskan, strategi pemerintahan Presiden Xi Jinping untuk membuat zero policy untuk menghalau penularan virus corona merupakan salah satu sebab ekonomi China melambat.

"Selama zero covid policy dijalankan atau lockdown, ekonomi pasti kena," jelas Chatib kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu, dikutip Senin (17/10/2022).



Akibat adanya perlambatan ekonomi tersebut, balance sheet dunia usaha juga akan kena imbasnya. Oleh karena itu, sebagai negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia, gelapnya ekonomi di China juga harus diwaspadai.

"Saya itu sebetulnya, lebih khawatir dengan (dampak) ekonomi China, dibandingkan dengan ekonomi AS terhadap kita karena kalau China kena itu ekspor kita (Indonesia) kena beneran," kata Chatib.

Bisa dibayangkan, lanjutnya, ekspor yang dibanggakan Indonesia seperti, nikel dan besi baja akan turun.

Oleh karena itu, menurut Chatib, Indonesia harus melakukan diversifikasi negara tujuan utama ekspor. Juga harus meningkatkan investasi, karena menurut Chatib yang bisa menolong perekonomian ke depan salah satunya adalah investasi.

"Indonesia harus diversifikasi dan harus rely on investment. Jadi dia harus jadi basis production network dan segala macam," jelas Chatib.



Adanya pandemi Covid-19 dan kebijakan lockdown di China, menurut Chatib ada harapan untuk Indonesia. Para dunia yang mendirikan pabrik di China, akan melakukan relokasi dan Indonesia semestinya punya peluang untuk itu.

Masalahnya, iklim investasi di Indonesia, dinilai Chatib masih kurang menjanjikan bagi para investor. "Issue kita, orang gak akan masuk karena ketidakpastian macam-macam. Jadi itu yang jadi soalnya," ujarnya.

Survei terbaru dari Reuters yang melibatkan 40 ekonom menunjukkan perekonomian China diperkirakan tumbuh 3,2% di 2022, jauh di bawah target pemerintah 5,5%.

Chatib juga bilang, saat ini sudah tidak bisa lagi memprediksi pertumbuhan ekonomi di China bisa lagi tumbuh double digit dalam jangka menengah panjang.

"Gak bisa lagi di expect growth (China) yang kayak dulu double digit. Mungkin long term growth-nya di sekitar 4% jauh. Itu yang harus diantisipasi. Long term growthnya bisa ke arah sana," tutur Chatib.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Cuma AS, Suramnya China Juga Bikin Sri Mulyani Was-was


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading