China Hadapi Tahun 'Tergelap' Sejak 1976, RI Ikut Terseret?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 October 2022 06:50
Presiden Xi Jinping dan pencapaiannya di Tiongkok di bawah kepemimpinannya di Balai Pameran Beijing di ibu kota tempat Kongres Partai ke-20 akan diadakan di Beijing, Rabu, 12 Oktober 2022. (AP/Andy Wong) Foto: Presiden Xi Jinping dan pencapaiannya di Tiongkok di bawah kepemimpinannya di Balai Pameran Beijing di ibu kota tempat Kongres Partai ke-20 akan diadakan di Beijing, Rabu, 12 Oktober 2022. (AP/Andy Wong)

Jakarta, CNBC Indonesia - Awan gelap menyelimuti China di tahun ini, perekonomiannya diperkirakan akan mencatat kinerja terburuk dalam hampir 5 dekade terakhir. Penyebabnya, datang dari dalam dan luar negeri.

Sebagai negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di dunia, juga pasar ekspor utama Indonesia, pelambatan ekonomi China tentunya akan memberikan dampak ke dalam negeri.

Survei terbaru dari Reuters yang melibatkan 40 ekonom menunjukkan perekonomian China diperkirakan tumbuh 3,2% di 2022, jauh di bawah target pemerintah 5,5%.

Jika tidak memperhitungkan tahun 2020, ketika dunia dilanda pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19), maka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tersebut menjadi yang terendah sejak 1976. Pada 2020 lalu, PDB China tumbuh 2,2% saja, tetapi hal yang sama juga melanda dunia. 

Pemerintah China di bawah komando Presiden Xi Jinping masih menerapkan kebijakan zero Covid-19, menjadi salah satu pemicu pelambatan ekonomi. Dengan kebijakan tersebut, ketika kasus Covid-19 mulai meningkat, maka karantina wilayah (lockdown) akan diterapkan.

Alhasil, aktivitas ekonomi menjadi maju mundur. Hal ini diperparah dengan disrupsi energi dan pangan akibat perang Rusia - Ukraina serta pelambatan ekonomi global akibat kenaikan suku bunga yang agresif di berbagai negara guna meredam inflasi.

"Perekonomian sepertinya akan mengalami tekanan di kuartal IV, tetapi akan ada pemulihan di tahun depan. Meski demikian, masih akan sulit untuk melihat pemulihan yang kuat akibat permintaan demand global," kata Nie Wen, ekonom di Hwabao Trust, sebagaimana dilansir Reuters (Jumat 14/10/2022).

Pasar saham China menunjukkan bagaimana awan gelap menyelimuti perekonomiannya. Sepanjang tahun ini, indeks Shanghai Composite jeblok hingga 15%.

Pergerakan indeks saham memang bisa menjadi indikator perekonomian suatu negara. Para investor bisanya selalu forward looking, sehingga ketika melihat perekonomian ke depannya tidak baik-baik saja, maka pasar saham cenderung ditinggalkan.

Pelambatan ekonomi China bisa berdampak besar bagi Indonesia. Ekspor Indonesia berisiko menurun, yang bisa berdampak pada surplus neraca dagang.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia ke China pada periode Januari - Agustus 2022 sebesar US$ 39,1 miliar. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 21,3% dari total ekspor.

China merupakan konsumen komoditas terbesar di dunia. Komoditas andalan Indonesia, batu bara dan minyak mentah sebagian besar diekspor ke China, hingga mampu mencatat surplus neraca perdagangan dalam 28 bulan beruntun.

Ketika ekonomi China melambat, tentunya ekspor akan terganggu. Saat neraca dagang tak lagi surplus, transaksi berjalan berisiko mengalami hal yang sama.

Alhasil, pasokan valuta asing ke dalam negeri akan kembali seret dan berisiko mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam kondisi penuh ketidakpastian saat ini, stabilitas rupiah menjadi sangat penting, selain menjaga kepercayaan investor asing, juga bisa meredam lonjakan inflasi.

Ekonom Senior Chatib Basri juga mengatakan Indonesia lebih perlu khawatir dengan China ketimbang Amerika Serikat.

"Saya itu sebetulnya, lebih khawatir dengan (dampak) ekonomi China, dibandingkan dengan ekonomi AS terhadap kita karena kalau China kena itu ekspor kita (Indonesia) kena beneran," kata Chatib.

Bisa dibayangkan, lanjutnya, ekspor yang dibanggakan Indonesia seperti, nikel dan besi baja akan turun.

"Kalau China slowdown, dia enggak perlu besi baja. Buat apa besi baja kan?"

Saat ini, Chatib menyampaikan bahwa ekonomi China tengah menuju 'new normal'. Menurutnya, China tidak bisa tumbuh double digit ke depannya.

"Mungkin long term growth-nya di sekitar 4%, jauh, (tapi) itu yang harus diantisipasi. Saya gak bicara tahun ini, tapi long term growth-nya bisa ke arah sana," ungkapnya.

Oleh karena itu, dia menilai Indonesia harus bisa melakukan diversifikasi perdagangan. Selain itu, Indonesia bisa mengandalkan investasi ke depannya. Chatib berharap Indonesia bisa menjadi basis production network.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Resesi Dunia di Depan Mata, Gegara China Lockdown Terus!


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading