Menkeu: Kuota Solar Habis Oktober, Pertalite Habis September

News - suhendra, CNBC Indonesia
26 August 2022 13:15
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers  Hasil Rapat Berkala III KSSK 2022 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI) Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers Hasil Rapat Berkala III KSSK 2022 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembengkakan anggaran BBM subsidi terjadi, sampai ada wacana kenaikan harga untuk BBM jenis solar dan Pertalite. Konsumsi BBM subsidi melonjak tinggi, bersamaan dengan pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan kuota solar subsidi yang dialokasikan pemerintah adalah 15 juta kiloliter (KL) di tahun ini. Namun hingga Juli 2022 sudah habis 9,88 juta KL. Sementara Pertalite yang dialokasikan 23 juta KL, hingga Juli 2022 sudah habis 16,84 juta KL. Melihat tren ini, maka diperkirakan kuota solar subsidi akan habis di Oktober, Sementara Pertalite akan habis di akhir September 2022.

"Pertanyaannya mau nambah atau tidak, kalau nambah dari mana? Suruh ngutang?" kata Sri Mulyani dalam rapat dengan DPD RI, Kamis (25/8/2022).

Dia mengatakan, untuk Pertalite, harga jual saat ini sebesar Rp 7.650 per liter, sementara harga keekonomiannya saat ini mencapai Rp 14.450 per liter. "Ada perbedaan Rp 6.800 itu harus kita bayar ke Pertamina, itulah subsidi kompensasi," tegas Sri Mulyani.

Sementara solar subsidi saat ini dijual Rp 5.150/liter, harga keekonomiannya adalah Rp 13.950/liter.

Kemudian, harga LPG 3 kg yang disubsidi pemerintah, saat ini dijual Rp 4.250/kg. Harga keekonomiannya saat ini Rp 18.500/kg. "Jadi subsidinya jauh lebih besar Rp 14.000/kg. Karena perbedaan yang besar ini, maka subsidi LPG Rp 158 triliun jelas tidak cukup," ujar Sri Mulyani.

Menurutnya, BBM subsidi banyak dinikmati oleh masyarakat yang mampu.

"Untuk solar yang menikmati paling banyak adalah rumah tangga terkaya atau 40% yang ekonominya tertinggi. Sementara Pertalite, 86% atau Rp 80 triliun (subsidi) dinikmati rumah tangga yang top 30% tertinggi," kata Sri Mulyani.

"Untuk solar, dari (subsidi) Rp 143 triliun, 89% atau Rp 127 triliun dinikmati dunia usaha dan orang kaya. Jadi dari ratusan triliun subsidi hanya dinikmati sangat kecil sama orang miskin," imbuhnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pembatasan BBM Gagal di Era SBY, Bisa Gol di Era Jokowi?


(wed/wed)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading