Simak! Kabar Baik Buat Pecinta Mi Instan Dari Bos Indofood

News - Mira Rachmalia, CNBC Indonesia
12 August 2022 07:25
Penjualan mie instan di warkop kawasan Radio Dalam, Jakarta, Rabu (10/8/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Penjualan mi instan di warkop kawasan Radio Dalam, Jakarta, Rabu (10/8/2022).

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mi instan diprediksi bisa melonjak hingga 3 kali lipat. Akibat efek domino perang Rusia-Ukraina yang memicu keterbatasan pasokan dan lonjakan harga gandum dunia.

Gandum merupakan tanaman serealia, sumber tepung terigu yang menjadi bahan baku utama mi instan sebagaimana tercantum pada kemasan mi instan. Selain tepung terigu, bahan baku mi instan lainnya diantaranya adalah minyak nabati, perisa, kecap manis, dan bawang merah. Dan, Indonesia adalah pengimpor gandum terbesar di dunia.

Lalu, apakah benar harga mi instan bisa melonjak 3 kali lipat? Dan, apakah harga gandum terbang akibat perang Rusia-Ukraina?


Seperti diketahui, kekhawatiran lonjakan harga mi instan sebelumnya dilontarkan lagi oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

"Belum selesai dengan climate change, kita dihadapkan Perang Ukraina-Rusia, di mana ada 180 juta ton gandum ngga bisa keluar, jadi hati-hati yang makan mi banyak dari gandum, besok harganya (naik) 3x lipat," kata Syahrul dalam sebuah webinar, dikutip Jumat (12/8/2022).

"Saya bicara ekstrem aja, ada gandum tapi harganya mahal banget. Sementara kita impor terus," tambahnya.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Franky Welirang mengaku, memaknai pernyataan soal potensi harga mi instan sebagai peringatan waspada.

Dia menjelaskan, harga gandum memang tidak baik-baik. Tapi sudah sejak tahun 2021. Bukan lagi di saat pecahnya perang Ukraina-Rusia.

Menurut Franky, harga gandum sebenarnya sudah naik 68% di tahun 2021.

"Penyebabnya adalah kegagalan panen akibat perubahan iklim. Yang gagal terbesar ada di Amerika dan Kanada, di mana mereka gagal panen dan hasil produksinya turun 40%. Itulah yang memicu secara bertahap, sepanjang 2021, harga gandum naik sampai bulan Desember. Data ada itu," kata Franky kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (12/8/2022).

Jika dirinci, Franky pun memaparkan, pembentuk harga mi instan. Mulai dari karton, minyak, hingga bawang.

"Ini 65 gram. Ada minyak gorengnya. Berapa banyak yang terserap? Sisanya baru terigu. Kalau terigu naik 500 perak, ya kali 65 gram. Ini berapa duit, gitu loh. 1 kg itu 1.000 gram, bagi 65 gram, berapa piece? Gimana bisa naik 300%?," kata Franky.

Hanya saja, dia mewanti-wanti pernyataan mi instan bisa naik harga 3 kali lipat bisa memicu perilaku spekulan.

"Itu bisa memicu pedagang berspekulasi. Karena itu saya katakan mungkin 3 kali lipat itu berlebihan. Karena nggak wajar dalam posisi itu," katanya.

"Saya coba membaca, banyak orang nggak membaca, beliau mengatakan tidak 3 kali lipat. Yang bilang 3 kali lipat kan media. Bisa naik 3 kali lipat, bisa. Nah nggak pernah ada yang lihat kata bisa," katanya.

Menurut Franky, perang Rusia-Ukraina menambah lonjakan harga gandum 18%. Ukraina sendiri, kata dia, kemungkinan mengalami hambatan panen akibat perang. Juga, tidak bisa mengirimkan gandum ke negara tujuan ekspor akibat perang.

"Pasar mereka tentu ke Eropa, Timur Tengah, Turki, Afrika itu nomor satu. Baru kita yang di Asia," ujarnya.

Franky pun menjelaskan keberagaman gandum, yang diperuntukkan untuk pangan dan pakan. Juga, berdasarkan kandungan protein yang mempengaruhi pemanfaatannya. Baik untuk biskuit, roti, juga mi instan.

Anak Kos Siap-siap Nangis, Harga Mi Instan Naik 3 Kali LipatFoto: Infografis/Anak Kos Siap-siap Nangis, Harga Mi Instan Naik 3 Kali Lipat/Aristya Rahadian
Anak Kos Siap-siap Nangis, Harga Mi Instan Naik 3 Kali Lipat

"Awalnya, negara yang konsisten mengekspor adalah Amerika, Kanada, dan Australia. Australia paling dekat dengan kita, kapal cuma 6 hari sampai. Indonesia juga pernah mengimpor gandum dari China, Pakistan. Kami, di industri, tentu risk management. Nggak menggantungkan diri dari satu negara. Ada negara-negara yang on off. India nggak selalu ekspor," ujarnya.

Terkait harga, lanjut dia, saat ini belum naik sampai 300%. Tertinggi adalah kenaikan 68% di tahun 2021, dilanjutkan 18% akibat perang Rusia-Ukraina.

"Gandum harga naik segini pernah naik seperti ini, di tahun 2008. Bedanya rupiah dolarnya 9.000, sekarang 14.000. Kita sudah pengalaman di industri. Sebagai industri kami tahu sejarahnya. Pemerintah, menterinya kan ganti-ganti, wajar saja nggak tahu," pungkas Franky.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Mi Instan Sudah 'Terbang', Kini di Atas Rp 100 Ribu/Dus


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading