Internasional

Sri Lanka, Mungkin Nasibmu Bakal Makin Menderita...

News - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
07 July 2022 08:05
A woman waits to apply for a passport at the Sri Lanka's Immigration and Emigration Department, amid the country's economic crisis, in Colombo, Sri Lanka, June 8, 2022. Picture taken June 8,2022.  REUTERS/Dinuka Liyanawatte

Jakarta, CNBC Indonesia - Sri Lanka tengah menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948. Di sisi lain, bank sentral justru diperkirakan bakal menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Kenaikan suku bunga akan membuat ekspansi ekonomi menjadi lebih terbatas.

Diketahui ekonomi Sri Lanka menyusut 1,6% pada kuartal I-2022. Hal ini terjadi karena krisis keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya mulai berdampak pada aktivitas ekonomi.


Pemerintah gagal membayar utang luar negeri senilai US$ 51 miliar pada April lalu dan sedang dalam pembicaraan dana talangan dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Sekitar 22 juta masyarakat Sri Lanka mengalami kekurangan kebutuhan pokok akut selama berbulan-bulan. Termasuk di antaranya adalah makanan, bahan bakar dan obat-obatan.

Sri Lanka harus berhadapan dengan kekurangan energi yang kronis. Selama dua minggu terakhir juga harus menghadapi penutupan beberapa lembaga negara yang tidak penting dan sekolah untuk mengurangi perjalanan.

Sri lanka tercatat hampir kehabisan bensin dan solar, dengan kantor-kantor pemerintah yang tidak penting dan sekolah-sekolah diperintahkan ditutup dalam upaya untuk menghemat persediaan bahan bakar yang terbatas. Pekan lalu, Sri Lanka mengumumkan penghentian dua minggu untuk semua penjualan bahan bakar kecuali untuk layanan penting guna menghemat bensin dan solar untuk keadaan darurat.

Departemen sensus dan statistik setempat menyatakan ini jadi pertama kalinya Indeks Harga Konsumen Kolombo (CCPI) meningkat melampaui 50%. CCPI berada angka tertinggi bulanan sejak Oktober, saat inflasi tahun ke tahun hanya 7,6%, sedangkan pada Mei lalu mencapai 39,1%.

Krisis Sampai Tak Mampu Membayar Utang
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading