Internasional

Terancam Gagal Bayar Utang, Cadangan Devisa Rusia Tak Cukup?

News - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
23 June 2022 15:40
Kilang minyak kebakaran di Bryansk, Rusia, Senin, (25/4/2022) waktu setempat. (Anonymous source via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dekrit untuk menetapkan prosedur sementara pemenuhan kewajiban utang luar negeri Rusia di tengah ancaman gagal bayar atau default.

Kremlin telah berulang kali mengatakan tidak ada alasan bagi Rusia untuk gagal membayar utangnya. Pemerintah mengatakan mereka memiliki dana untuk memenuhi kewajiban itu, tetapi tidak dapat melakukan pembayaran bunga kepada pemegang obligasi.

Rusia menuduh Barat mencoba mendorong negaranya ke default buatan oleh karena itu, di bawah Putin telah memberi pemerintah 10 hari dalam memilih bank untuk menangani pembayaran Eurobonds di bawah skema baru.


Hal itu menunjukkan bahwa Rusia akan mempertimbangkan kewajiban utangnya terpenuhi ketika membayar dalam rubel.

Secara prinsip gagal bayar utang akan membuat reputasi sebuah negara turun. Bagi negara, gagal bayar akan merugikan karena berarti negara tersebut hanya akan bisa mengakses utang dengan bunga yang tinggi.

Lalu berapa jumlah utang Rusia hingga terancam gagal bayar?

Utang Luar Negeri di Rusia turun menjadi US$ 453,50 miliar pada kuartal pertama tahun 2022 dari US$ 478,20 miliar pada kuartal keempat tahun 2021.

Namun terancam gagal bayar akibat sanksi yang bertubi-tubi yang diterima Rusia membuat cadangan devisa Rusia turun dan dibekukan.

Rusia mengatakan telah mentransfer uang tunai ke National Settlement Depository, tetapi sanksi kemungkinan mencegah dana tersebut tersalurkan.

Kementerian Keuangan Rusia mengatakan pekan lalu Rusia akan membayar rubel pada Eurobonds yang nantinya dapat dikonversi ke mata uang asing.

"Apa yang mereka lakukan adalah membangun mekanisme kementerian keuangan untuk melakukan pembayaran dalam rubel ke bank yang tidak berada di bawah sanksi Barat," kata Tatiana Orlova, ekonom utama di Oxford Economics.

Rusia harus melakukan dua pembayaran bunga sebesar US$ 71,25 juta dan 26,5 juta euro (US$ 27,98 juta) pada 27 Mei. Rusia memiliki masa tenggang 30 hari untuk melakukan pembayaran.

Adapun, ancaman gagal bayar utang luar negeri karena sanksi Barat atas apa yang disebut Rusia sebagai "operasi militer khusus" di Ukraina membawanya lebih dekat ke default terbesar pada obligasi internasional sejak revolusi Bolshevik lebih dari seabad yang lalu.

"Kewajiban Eurobonds dari Federasi Rusia akan dianggap dipenuhi dengan benar jika mereka dieksekusi dalam rubel dengan jumlah yang setara dengan nilai kewajiban dalam mata uang asing," kata dekrit yang diterbitkan Rabu (22/6/2022), dikutip Reuters.

Nilai tukar akan didasarkan pada nilai tukar di pasar mata uang internal Rusia pada hari pembayaran, menurut keputusan tersebut.

Obligasi mata uang kertas Rusia senilai US$ 40 miliar telah menjadi titik nyala dalam sanksi keuangan yang dikenakan oleh modal Barat.

Terlepas dari pembatasan yang ketat, Moskow sejauh ini berhasil menghindari default dan melakukan pembayaran kepada pemegang internasional pada tujuh eurobond yang berbeda sejak awal perang. Hal itu dilakukan dengan cara baru dalam mentransfer uang dan solusi baru lainnya.

Pada Maret lalu, Lembaga pemeringkat dunia, S&P Global Ratings memangkas peringkat utang valuta asing Rusia menjadi gagal bayar selektif (selective default). Peringkat baru ini disebabkan Rusia membayar obligasi berdenominasi dolar Amerika dengan mata uang rubel.

Konflik perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina membuat negara yang dipimpin oleh Vladimir Putin tersebut dipojokan oleh negara-negara Barat. Vladimir Putin ini pun memberikan beragam sanksi mulai soal perdagangan, keuangan, hingga ke individual.

Kabar terbaru, para pemimpin negara-negara Uni Eropa (UE) tengah menyiapkan paket sanksi terbaru terhadap Rusia atas perang yang masih berlanjut di Ukraina. Setelah mengembargo impor minyak dan batu bara pada paket sanksi sebelumnya, kini blok tersebut menargetkan emas dan logam mulia.

Emas merupakan aset yang sangat krusial bagi bank sentral Rusia yang telah menghadapi sejumlah kesulitan dalam mengakses aset-asetnya di luar negeri imbas sanksi dari negara Barat.

Sebelum terjadinya konflik antara Rusia-Ukraina dimulai akhir Februari lalu, cadangan devisa Rusia mencapai US$ 643 miliar.

Rusia telah bertahun-tahun menyimpan 'rejeki nomplok' dari pendapatan energi dalam bentuk cadangan devisa, yang nilainya mencapai US$ 643,2 miliar beberapa hari sebelum perang meletus. Keputusan tersebut juga merupakan upaya untuk mengurangi eksposur terhadap mata uang AS.

Saat ini cadangan devisa Rusia mulai tergerus akibat dampak perang dan nilainya turun tipis menjadi US$ 617 miliar.

Rusia menerima banyak sanksi dari dunia internasional akibat invasinya ke Ukraina. Salah satu sanksinya berupa pembekuan cadangan devisa di luar negeri.

Menurut data lembaga riset hubungan internasional Atlantic Council, Rusia memiliki cadangan devisa senilai US$ 630 miliar yang tersebar di wilayah yurisdiksi Tiongkok, Prancis, Jepang, Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris.

Pembekuan aset tersebut membuat bank sentral Rusia tidak bisa menggunakan cadangan devisanya dan tidak dapat dipindahkan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cadev Dibekukan, Rusia Terancam Gagal Bayar Utang


(aum)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading