Internasional

UE Usul Cadev Rusia Dipakai Buat Bangun Ukraina, Emang Bisa?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
09 May 2022 15:30
uni eropa

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Josep Borrell mengatakan UE harus mempertimbangkan untuk menggunakan cadangan devisa Rusia senilai miliaran dolar untuk membangun kembali Ukraina pasca perang.

Hal ini disampaikan diplomat top blok itu dalam sebuah wawancara dengan Financial Times (FT), Senin (9/5/2022).


"Saya akan sangat mendukung karena itu sangat logis," kata Borrell terkait cadangan Rusia yang dibekukan untuk membantu membiayai upaya rekonstruksi Ukraina setelah perang berakhir, sebagaimana dikutip CNN International.

"Kami memiliki uang di kantong kami, dan seseorang harus menjelaskan kepada saya, mengapa itu baik untuk uang Afghanistan dan tidak baik untuk uang Rusia," lanjutnya.

Pernyataan Borrell tersebut mengacu pada keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan US$ 7 miliar dalam aset yang dibekukan dari bank sentral Afghanistan. Dana ini digunakan sebagai bantuan kemanusiaan dan memberikan kompensasi kepada para korban terorisme setelah Taliban merebut kekuasaan negara tersebut.

Sejauh ini, negara-negara Barat telah membekukan sekitar US$ 315 miliar cadangan devisa Rusia sebagai tanggapan atas serangannya ke Ukraina.

Sejak itu, para pejabat UE telah memperdebatkan apakah aset-aset yang terkena sanksi dapat digunakan untuk membangun kembali Ukraina ketika perang berakhir, tetapi hingga kini tidak ada proposal kebijakan konkret yang diajukan.

Pada April lalu, Bank Sentral Rusia mengancam akan mengambil tindakan hukum terhadap AS dan UE dalam upaya untuk mencoba dan mencairkan cadangan emas dan asingnya. Namun, tidak jelas kapan atau di yurisdiksi mana gugatan hukum dapat diajukan.

Rusia sendiri telah menyerang Ukraina sejak 24 Februari lalu. Perang kedua negara tetangga ini membuat kota-kota di Ukraina menjadi puing-puing dan memaksa lebih dari 5 juta orang mengungsi ke luar negeri.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Makin Panas, Rusia Sebut NATO 'Kompori' Negara Netral


(tfa/luc)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading