Internasional

Sri Lanka Bangkrut, Kantor Pemerintah hingga Sekolah Shutdown

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
21 June 2022 13:50
Seorang pria mengibarkan bendera nasional Sri Lanka saat dia berdiri di barikade yang menghalangi pintu masuk ke kantor presiden selama protes di Kolombo, Sri Lanka, Senin (11/4/2022). Ribuan warga Sri Lanka memprotes menyerukan agar presiden negara itu mengundurkan diri di tengah krisis ekonomi terburuk dalam sejarah. (AP Photo/Eranga Jayawardena)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sri Lanka kini dilanda kebangkrutan. Krisis ekonomi di negara itu semakin memburuk.

Negara ini mulai menghentikan layanan pemerintah yang tidak penting, Senin (20/6/2022). Penutupan berlangsung dua minggu.

Bukan hanya layanan pemerintah, sekolah juga akan ditutup dalam waktu yang sama. Meski demikian, rumah sakit dan pelabuhan laut serta bandar udara masih akan dibuka.


Ini untuk mengurangi perjalanan dan menghemat bensin dan solar. Krisis ekonomi terjadi setelah negara kehabisan devisa untuk membiayai impor mula i dari makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Sementara itu, ratusan ribu pengendara masih mengantre panjang bermil-mil di seluruh negeri untuk bensin dan solar. Mereka menunggu meskipun kementerian energi sudah mengumumkan stok baru tidak akan tiba setidaknya selama tiga hari ke depan.

Di sisi lain, ribuan mahasiswa berbaris melalui jalan-jalan Kolombo meneriakkan "Harus Pulang" ke Presiden Gotabaya Rajapaksa. Ini merupakan teriakan agar sang presiden mundur dari jabatannya.

"Waktu bagi Gotabaya untuk bersujud dengan bermartabat sudah lama berlalu," kata pemimpin mahasiswa Wasantha Mudalige kepada wartawan.

"Sekarang kita harus mengusirnya."

Sri Lanka diketahui gagal membayar utang luar negeri sekitar US$ 51 miliar (sekitar Rp 755 triLium). Pembicaraan dengan IMF sendiri juga dilakukan kemarin untuk memuluskan bailout.

Pembicaraan yang baru dimulai tu akan berlangsung hingga 10 hari. Namun, pejabat meyakini proses bisa lebih lama lagi.

Sementara itu, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Australia Clare O'Neil di hari yang sama. Canberra sebelumnya mengumumkan bantuan darurat senilai US$ 35 juta untuk memenuhi kebutuhan pangan dan perawatan kesehatan yang mendesak di pulau miskin itu.

"Kami tidak hanya ingin membantu rakyat Sri Lanka pada saat dibutuhkan, ada juga konsekuensi yang lebih dalam bagi kawasan jika krisis ini berlanjut," kata Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dalam sebuah pernyataan.

Australia adalah negara QUAD, sebuah kelompok diplomatik dengan India, Jepang dan Amerika Serikat (AS). QUAD sebelumnya telah menyatakan keprihatinan atas pengaruh China yang berkembang di kawasan itu, termasuk di Sri Lanka.

Sri Lanka harus membayar 10% lebih utang luar negeri ke China. Di mana Tirai Bambu sebelumnya berinvestasi dalam infrastruktur di seluruh pulau melalui konsep Belt and Road Initiative (BRI).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ngeri! Sri Langka Diperkirakan Bangkrut Sampai Tahun 2023


(tfa/tfa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading