Internasional

Gawat! Australia Terancam Gelap Gulita, "Kiamat" Listrik?

News - sef, CNBC Indonesia
14 June 2022 15:30
This handout photo taken on January 26, 2022 by the Australian Defence Force shows the Australian flag flying on board the HMAS Adelaide as the ship arrives in Nuku'alofa, Tonga, carrying disaster relief and humanitarian aid supplies following the January 15 eruption of the Hunga Tonga-Hunga Haapai underwater volcano nearby. (Photo by CPL Robert Whitmore / Australian Defence Force / AFP) / -----EDITORS NOTE --- RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT Foto: AFP/CPL ROBERT WHITMORE

Jakarta, CNBC IndonesiaAustralia terancam "kiamat" listrik. Pemadaman kemungkinan dilakukan di wilayah pantai timur, Queensland dan New South Wales, yang merupakan rumah bagi lebih dari 13 juta orang.

Krisis energi disebut telah melanda negara itu. Perdana Menteri (PM) Anthony Albanese, yang berasal dari Partai Buruh, menyalahkan krisis energi pada pemerintah sebelumnya, yang dikuasai sembilan tahun oleh Partai Liberal.

"Konsekuensi dari kegagalan pemerintah sebelumnya untuk menerapkan kebijakan energi sedang dirasakan saat ini," katanya kepada wartawan di Brisbane, dikutip AFP, Selasa (14/6/2022).

Ia pun meyakinkan warga bahwa pemerintahannya telah mengantisipasi ini. Pemerintah, tegasnya, tengah mencari cara bagaimana meredakan krisis.

Australia adalah salah satu dari tiga produsen batu bara dan gas terbesar di dunia. Bahan bakar fosil menyediakan sekitar 71% listrik di mana batu bara mendominasi 51%.

Asap dan uap mengepul dari pembangkit listrik tenaga batubara Bayswater yang terletak di dekat pusat kota Muswellbrook, New South Wales, New South Wales di Australia, Rabu (26/8/2022). (Photo by David Gray/Getty Images)Foto: Asap dan uap mengepul dari pembangkit listrik tenaga batubara Bayswater yang terletak di dekat pusat kota Muswellbrook, New South Wales, New South Wales di Australia, Rabu (26/8/2022). (Photo by David Gray/Getty Images)
Asap dan uap mengepul dari pembangkit listrik tenaga batubara Bayswater yang terletak di dekat pusat kota Muswellbrook, New South Wales, New South Wales di Australia, Rabu (26/8/2022). (Photo by David Gray/Getty Images)

Namun saat ini, sekitar seperempat dari pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di pantai timur offline. Itu karena pemadaman dan pemeliharaan.

Belum lagi invasi Rusia ke Ukraina juga telah menaikkan permintaan ekspor untuk gas Australia. Ini menjadi "boomerang" di dalam negeri karena menghapus potensi surplus untuk membantu mengatasi kekurangan energi domestik.

Krisis pun telah diperburuk dengan cuaca dingin di pantai timur. Ini mendorong otoritas setempat untuk berkampanye meminta rumah tangga untuk menghemat penggunaan energi mereka.

Menteri Energi Chris Bowen yakin pasokan dalam sistem cukup untuk menghindari pemadaman lebih panjang. Namun, ia membenarkan bahwa Australia akan menghadapi "musim dingin yang berat" dengan suhu rendah, pemadaman PLTU, tekanan geopolitik, dan banjir di wilayah pantai timur.

"Kombinasi yang menciptakan krisis," tulis media Prancis itu mengutipnya.

Sementara itu, pakar energi Richie Merzian dari The Australia Institute mengatakan keseimbangan perlu diubah untuk menghindari krisis semacam ini. Australia diharapkan tak bergabung lagi pada batu bara dan gas.

"Selama Australia tetap bergantung pada gas dan batu bara, konsumen Australia akan berada di atas harga bahan bakar global yang dipengaruhi oleh peristiwa di luar kendali kami," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Miris! Tetangga RI Kaya Batu Bara-Gas Terancam Krisis Listrik


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading