RI Terancam Kiamat Pesawat, Ternyata Ini Solusinya

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
10 June 2022 11:55
Sejumlah pesawat dari berbagai maskapai penerbangan di pelataran pesawat Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (4/1/2018)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah pesawat yang beroperasi kini tengah menurun imbas pandemi. Hal ini membuat persoalan pada frekuensi penerbangan yang berujung pada lonjakan harga tiket hingga jutaan, tak hanya untuk rute internasional tapi juga domestik.

Pasalnya saat ini banyak pihak protes mahalnya harga tiket pesawat, padahal di tengah meredanya pandemi Covid - 19 permintaan penerbangan tengah melonjak. Selain itu harga tiket juga semakin mahal karena naiknya harga Avtur.

Dari data Kementerian Perhubungan jumlah pesawat yang kini beroperasi hanya 350 unit dari jumlah sebelumnya 550 pesawat. Sementara diproyeksikan jumlah penumpang pesawat mencapai 78 juta pada tahun ini.


Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman menjelaskan dengan jumlah pesawat yang mencapai 350 unit itu hanya bisa memenuhi kebutuhan 65 juta penumpang setahun. Sehingga kondisinya saat ini memang mengalami kekurangan jika diproyeksikan penumpang 78 juta.

"Imbasnya ya pada harga tiket pesawat yang melonjak," katanya kepada CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.

Tapi dengan kondisi demand yang tinggi saat ini bisa membantu kondisi keuangan maskapai. Hingga memberi waktu bagi maskapai untuk menambah jumlah pesawat.

"Dengan kondisi sekarang demand tinggi dan mau tidak mau penumpang bayar mahal, itu bisa membantu memperbaiki cash flow maskapai," katanya.

Namun penambahan jumlah pesawat memang saat ini sangat penting untuk meredam harga tiket pesawat yang melonjak.

Pengamat Penerbangan AIAC Aviation Arista Atmadjati, melihat maskapai saat ini sulit untuk melakukan pembelian pesawat melihat adanya masalah finansial imbas dua tahun pandemi.

"Untuk pembelian pesawat paling cepat itu bisa kirim 2 - 3 bulan, tentu yang jadi masalah adalah pembayaraan punya duit gak?," jelasnya.

"Apalagi untuk pembayaran pesawat itu membutuhkan pembayaran termin 10% di awal. itu tergantung cicilannya juga," katanya.

Meski ada potensi keuangan maskapai membaik karena demand yang naik, namun dia tetap menganjurkan maskapai menggunakan pesawat bekas untuk menambah jumlah armadanya.

Pemerintah Dorong Tambah Pesawat

Kementerian Perhubungan juga berharap adanya penambahan armada pesawat oleh maskapai. Meski saat diketahui ada keterbatasan finansial dari maskapai.

"Kita tentu mendorong agar pesawat terus bertambah, sehingga masyarakat terlayani dengan baik, dan efeknya kepada harga tiket juga diupayakan bisa jadi lebih baik," kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati beberapa waktu lalu.

Hanya saja Adita menjelaskan ini merupakan ranah korporasi, dimana saat ini banyak maskapai yang terganggu finansialnya imbas dari pandemi. Namun Kemenhub akan terus memberikan kemudahan bagi maskapai untuk menambah jumlah pesawat.

Selain itu pemerintah juga tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan sharing block seat atau pembelian tiket pesawat, sehingga okupansi pesawat bisa di atas 60%.

Ketika tingkat okupansi sudah berada di atas 60% menurut Menhub Budi Karya Sumadi, maka tarif yang lebih pantas atau murah bisa diberlakukan. Sehingga dengan blok seat tercipta kepastian okupansi, sehingga tarif angkutan udara bisa lebih terjangkau.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI Terancam 'Kiamat' Pesawat Terbang, Ini Biang Keroknya


(dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading