Sri Mulyani Benar! Pesta 'Durian Runtuh' Berakhir Tahun Depan

News - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
02 June 2022 14:14
INFOGRAFIS, Indonesia Tak Dapat Durian Runtuh Perang Dagang

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan commodity boom akan menuju normalisasi pada 2023. Cerita 'durian runtuh' pada dua tahun ini pun berlalu.

"Ekspor yang selama 2021-2022 mengalami booming dengan commodity boom akan menuju normalisasi secara bertahap," ujarnya.

Ekspor juga menjadi motor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di saat konsumsi rumah tangga dan investasi mandek dihantam pandemi Covid-19. Belanja pemerintah pun terbatas.


"Ekspor tidak lagi menjadi motor yang kuat," jelas Sri Mulyani.

Penurunan harga komoditas, kata Sri Mulyani dipengaruhi oleh pelemahan ekonomi dunia dan stagflasi. Beberapa negara bahkan diramal jatuh ke jurang resesi. Sehingga permintaan terhadap komoditas juga ikut turun.

Saat ini pertumbuhan harga komoditas dunia tidak secepat awal tahun ini. Pada Maret, harga komoditas dunia kompak melesat, mengukir harga tertinggi sepanjang masa. Serangan Rusia ke Ukraina jadi faktor penyebabnya.

Konflik yang pecah di Eropa Timur kemudian berdampak pada sanksi terhadap Kremlin. Rusia kemudian 'dikucilkan' dari sistem keuangan dunia, yang secara tidak langsung menghambat ekspor produk-produk dari Rusia.

Masalahnya ekspor andalan Rusia adalah komoditas. Sehingga pasokan jadi seret. Ditambah langkah Amerika Serikat memboikot migas Rusia menambah pelik rantai pasokan komoditas dunia.

Di tengah kekhawatiran pasokan tersebut harga komoditas melejit tinggi. Menciptakan rekor-rekor tertinggi sepanjang masa.

Ada dua penyebab utama yang membuat harga komoditas kemudian melandai. Pertama, konsumen utama komoditas dunia, China, harus lockdown akibat pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).Saking dominannya, permintaan hasil alam dunia China mampu menggerakkan harga global.

Kedua, kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserves/The Fed. Kenaikan suku bunga dipandang para pelaku pasar dapat menimbulkan resesi, yang kemudian mempengaruhi daya beli. Ujung-ujungnya permintaan akan komoditas akan berkurang. Efek lainnya adalah dolar yang melambung membuat harga komoditas menjadi mahal.

Gerak komoditas yang melandai tercermin pada indikator harga dan pasokan komoditas yang dirilis S&P Global. Tekanan harga komoditas mulai berkurang terhadap industri manufaktur dan transportasi.

Perlu diketahui, komoditas adalah bahan baku utama di manufaktur dan transportasi. Seperti batu bara untuk listrik dan minyak mentah dalam industri transportasi.

"Data terbaru menunjukkan tanda-tanda tentatif bahwa harga global dan tekanan pasokan mungkin telah mencapai puncaknya pada Mei. Laporan harga yang lebih tinggi berada di level terendah selama tiga bulan, meskipun tetap lima kali di atas level biasanya. Barang-barang listrik dan semikonduktor tetap di antara yang terkena dampak terburuk, sementara laporan biaya pengiriman yang lebih tinggi diperparah oleh pembatasan ketat Covid-19 di Cina daratan." Ujar Usamah Bhatti, Global Market Intelligence S&P.

Ramalan Sri Mulyani tampaknya diamini oleh para analis yang memperkirakan harga komoditas akan melandai pada tahun 2023. Termasuk ekspor andalan Indonesia seperti CPO. Fitch Ratings dalam laporannya memproyeksikan rata-rata harga CPO pada 2023 sebesar MYR 3.076 per ton, lebih rendah dari 2022 sebesar MYR 4.220 per ton.

Sementara dalam polling Reuters harga rata-rata harga batu bara pada 2023 untuk jenis termal akan melandai menjadi US$ 100,75/ton.

Fitch Solution memperkirakan rata-rata harga timah dunia pada tahun 2023 sebesar US$ 38.000/ton. Turun dari perkiraan rerata harga timah tahun 2022 yaitu US$ 42.000/ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Krisis Pangan Gara-Gara Perang


(ras/ras)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading