Sri Mulyani Beri Kabar Tak Sedap: 'Durian Runtuh' Say Goodbye

News - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
02 June 2022 08:05
Konferensi Pers: Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur BI (FMCBG) ke-2 (Tangkapan Layar Youtube)) Foto: Konferensi Pers: Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur BI (FMCBG) ke-2 (Tangkapan Layar Youtube))

Jakarta, CNBC Indonesia - 'Durian Runtuh' tidak akan lagi menjadi cerita mulai 2023 mendatang. Lonjakan harga komoditas internasional yang dinikmati Indonesia dalam dua tahun terakhir diramal akan berakhir.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan komisi XI-DPR RI, Selasa (31/5/2022)

"Ekspor yang selama 2021-2022 mengalami booming dengan commodity boom akan menuju normalisasi secara bertahap," ujarnya.

Dok, KemenkeuFoto: Dok, Kemenkeu
Dok, Kemenkeu

Diketahui ekspor dalam 24 bulan terakhir alami surplus dan berulang kali nilainya menembus rekor tertinggi. Sebagian besar dipengaruhi oleh komoditas batu bara, minyak kelapa sawit, nikel, tembaga, bauksit dan lainnya.

Ekspor juga menjadi motor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di saat konsumsi rumah tangga dan investasi mandek dihantam pandemi covid-19. Belanja pemerintah pun terbatas.

"Ekspor tidak lagi menjadi motor yang kuat," jelas Sri Mulyani.

Penurunan harga komoditas, kata Sri Mulyani dipengaruhi oleh pelemahan ekonomi dunia dan stagflasi. Beberapa negara bahkan diramal jatuh ke jurang resesi. Sehingga permintaan terhadap komoditas juga ikut turun.

Neraca Perdagangan April Saat Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Mei 2022Foto: Neraca Perdagangan April (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu)
Neraca Perdagangan April Saat Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Mei 2022

Maka dari itu, upaya yang dilakukan pemerintah adalah mendorong komponen lain bergerak cepat menopang ekonomi.

"Itu yang jadi skenario kebijakan makro kita, termasuk kita memilih meningkatkan subsidi menjaga momentum pemulihan ekonomi dan daya beli rumah tangga tidak tergerus," paparnya.

"Dari sisi produksi akan dicoba diseimbangkan, manufaktur yang dominan bergeser dengan jasa, yang produksinya rendah, trading, atau jasa yang tinggi seperti jasa keuangan, transportasi dan perdagangan," tegas Sri Mulyani.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cerita Sri Mulyani Disemprot BPK Gegara Bikin 'Celengan'


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading