Kacau! Lockdown China Berdampak Hingga Eropa

News - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
06 May 2022 11:22
Seorang pria mengendarai sepeda di Central Business District (CBD) saat pemerintah menerapkan perintah kerja dari rumah bagi penduduk distrik Chaoyang di tengah wabah penyakit coronavirus (COVID-19), di Beijing, China, Kamis (5/4/2022). (REUTERS/Tingshu Wang)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lockdown yang dilakukan China akibat Covid-19 ternyata berpengaruh bukan hanya di Shanghai maupun Beijing. Namun hingga ke wilayah Eropa.

CNBC Internasional melaporkan hampir 60% bisnis Eropa di negara itu akhirnya memotong proyeksi pendapatan 2022. Menurut survei yang dilakukan Kamar Dagang Uni Eropa di China, penyebabnya adalah karena kontrol yang dilakukan akibat Covid-19.

Mereka memutuskan pemotongan tersebut berkisar 6% hingga 15%, dikutip Jumat (6/5/2022).


Semnetara pada bisnis China, survei bulanan juga menunjukan sentimen diantara bisnis manufaktur dan jasa turun ke level terendah pada April. Ini terjadi pertama kalinya sejak pandemi pertama kali menyerang pada Februari 20220.

Pada survei tersebut menunjukkan kontraksi lebih lanjut pada aktivitas bisnis terjadi pada bulan Maret lalu.

IMP layanan Caixin menunjukkan penurunan 36,2 pda bulan April. Jauh dari garis bawah 50 yang menunjukkan kontraksi atau ekspansi.

Ekspektasi untuk output di masa depan memang ada sedikit peningkatan. Namun juga ada kekhawatiran mengenai jangka waktu yang dibutuhkan untuk bisa menahan virus dan mengembalikan bisnis ke kondisi yang lebih luas.

Data lain juga menunjukkan dampak dari pembatasan kegiatan tersebut. Kepala ekonom Macquarie di China, Larry Hu mengatakan ada pelambatan peningkatan pembangkit listrik di bulan Maret.

Selain itu lockdown juga tidak bisa membuat masyarakat membeli properti real estat. Penjualan pada 30 kota teratas anjlok hingga 54% pada April dibandingkan tahun lalu.

Starbucks juga terdampak, dilaporkan 72% dari 225 kota di China yang terdapat tokonya mengalami wabah omicron. Raksasa kopi itu memiliki 5.600 toko di seluruh negeri dan merupakan pasar terbesar kedua dunia.

Kepala Starbucks China, Belinda Wong menyebutkan kebanyakan tokonya masih bisa beroperasi dengan menerapkan protokol keselamatan yang ketat. Sementara sepertiga toko Starbucks akhirnya ditutup sementara atau hanya melayani pengiriman atau take out.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waduh! Jelang Olimpiade, Beijing Malah Diserbu Omicron


(npb/npb)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading